NEWS

Pemerkosa Santriwati Punya Tiga Buah Hati

Report: Ryan I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – Herry Wirawan (36), guru pemerkosa belasan santriwati di Bandung, ternyata sudah menikah. Bahkan ia telah dikaruniai tiga buah hati dari pernikahannya.

Hal itu diungkap Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Garut, Diah Kurniasari. Diah menjelaskan, status Herry telah menikah. “Sudah beristri,” ujar Diah kepada wartawan, Kamis 9 Desember 2021 malam.

Diah mengatakan Herry dan istrinya itu warga Kabupaten Garut. Namun mereka lama menetap di Bandung dan mengelola pesantren itu.

Dari pernikahannya, Herry telah dikaruniai buah hati. “Sudah punya anak. Anaknya tiga,” ujar Diah.

Terkait

Data yang dihimpun, ada 12 santriwati yang jadi korban kebejatan Herry. Sebanyak 11 orang di antaranya berasal dari Garut.

Herry memperkosa santri-santrinya itu di pesantren di kawasan Cibiru, Bandung. Kasus terungkap setelah salah seorang orang tua korban curiga dan langsung melaporkannya ke Polda Jabar. Saat ini kasusnya telah masuk tahap persidangan.

Kementerian Agama juga telah menutup pesantren milik Herry Wirawan, setelah kasus kejinya terbongkar.

“Menanggapi pemberitaan terkait tindak pidana yang dilakukan oknum pimpinan pesantren di wilayah Cibiru, Bandung, kami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian yang telah menjadi ranah hukum,” ujar Plt. Karo Humas, Data, dan Informasi Kemenag RI, Thobib Al Asyhar kepada wartawan.

Thobib menjelaskan Kanwil Kemenag Jabar telah menutup pesantren usai kejadian tersebut. Hingga saat ini pesantren tak lagi beroperasi.

“Bersama Polda Jabar sepakat untuk menutup atau membekukan kegiatan belajar mengajar di Pesantren Tahfidz tersebut dan sampai sekarang tidak difungsikan sebagai tempat atau sarana pendidikan, baik pesantren maupun pendidikan kesetaraannya,” jelasnya.

“Kemenag telah melaksanakan hasil kesepakatan dengan Polda dan KPAI agar seluruh siswa dikembalikan ke daerah asal siswa tersebut serta pendidikannya dilanjutkan ke madrasah atau sekolah sesuai jenjangnya di daerah masing-masing,” jelasnya/

Sedangkan siswi yang menjadi korban difasilitasi Kasi Pontren dan Forum Komunikasi Pendidikan Kesetaraan Kab/kota masing-masing.

Sebelumnya aksi keji dilakukan seorang guru salah satu pesantren di Bandung, Herry Wirawan. Ia melakukan aksi bejatnya tersebut sejak 2016 hingga awal 2021.

Herry ditangkap personel Polda Jabar di kediamannya, yang sekaligus digunakan sebagai yayasan.  Lokasinya di salah satu perumahan, Jalan Parakansaat, Antapani, Kota Bandung.

Kasus perkosaan santriwati ini telah sampai ke pengadilan. Pada Selasa (7/12), proses sidang sudah masuk ke pemeriksaan sejumlah saksi. Informasi dihimpun, saksi yang diperiksa para saksi korban. Sidang yang dipimpin ketua Majelis hakim Y Purnomo Surya Adi itu berlangsung tertutup.

Dari salinan dakwaan, aksi itu diketahui dilakukan Herry pada rentang waktu 2016 hingga 2021. Dakwaan itu dibacakan jaksa Kejaksaan Negeri Bandung Agus Mudjoko.

“Bahwa terdakwa sebagai pendidik/guru pesantren antara sekitar tahun 2016 telah melakukan perbuatan asusila terhadap anak korban santriwati,” ujar Jaksa dalam petikan dakwaan.

Masih dalam surat dakwaan yang diterima, total korban mencapai 14 orang. Mereka semua santriwati yang tengah belajar di pesantren milik HW di kawasan Cibiru, Kota Bandung.

Dalam dakwaannya, Jaksa mendakwa HW dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Jo Pasal 76D UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo Pasal 65 KUHPidana.

Guru pesantren di Bandung memperkosa belasan santriwati. Kekejian itu membuat empat santriwati hamil dan sudah melahirkan. “Ada empat anak korban yang hamil,” ujar Agus.

Ia mengatakan keempat anak yang hamil saat ini sudah melahirkan. Saat sidang saksi digelar, posisi anak korban yang hamil sudah melahirkan.

“Yang hamil sudah melahirkan semua. Bahkan salah seorang korban telah dua kali melahirkan akibat perbuatan terdakwa,” jelasnya.

Selain sembilan anak lahir dari santriwati, masih ada dua anak yang masih dalam kandungan. Hingga saat persidangan ini digelar, anak tersebut belum lahir.

Korban dirayu pelaku. Iming-iming dari HW diuraikan dalam dakwaan yang ada dalam poin penjelasan masing-masing korban.

Di dalam penjelasan salah satu korban, disebutkan kalau HW mengiming-imingi korban untuk jadi polisi wanita. Janji itu diutarakan HW kepada salah satu korban.

“Terdakwa menjanjikan akan menjadikan anak korban polisi wanita,” ujar jaksa dalam surat dakwaan.

Selain menjadi polisi wanita, HW juga menjanjikan kepada salah satu korban untuk mengurus pesantren miliknya. “Terdakwa menjanjikan akan membiayai kuliah dan mengurus pesantren,” katanya.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button