Balikpapan

Pedagang di Balikpapan Keluhkan Jam Malam

Report: Taufik Hidayat I Editor: Isnan Rahardi

TIMUR MEDIA – Pedagang dan warga Balikpapan mengeluhkan diberlakukannya jam malam. Aturan ini termaktub dalam Surat Edaran Walikota Nomor 100/438/Pem. Aktivitas warga dibatasi hinggal pukul 22.00 Wita.

Pembatasan jam malam ini memantik pro kontra, terutama bagi warga yang membuka usaha di malam hari. Seperti kafe, warung makan, warung kopi, dan sejenisnya.

Salah satu pedagang kopi di Markoni, Eddy mengaku sejak diberlakukan aturan jam malam, tempat usahanya mengalami penurunan omset. “Selama ada jam malam, pemasukan di sini berkurang 75%, Bang. Sudah rugi, kita juga masih dibebani membayar sewa tempat,” keluhnya. Ia meminta aturan ini dievaluasi.

Jam malam, membuat masyarakat Balikpapan enggan keluar. Akibatnya para pedagang resah lantaran roda ekonominya terganggu. “Tidak ada jam malam pendapatan kita sedikit. Ada aturan ini semakin sengsara saja jadinya,” ujarnya.

Ia mengaku menjadi dilema. Terlebih aturan itu juga menerapkan sanksi bagi pelanggar. “Sanksi ini juga dirasa berat. Kalau kita tetap maksa buka, nanti kena denda Bang. Untuk pembeli Rp 100 ribu, dan penjual sendiri didenda Rp 1 juta. Ini benar-benar nerugikan kita,” keluhnya.

Dengan sanksi itu, lanjut Eddy, beberapa pedagang yang memaksa berjualan terpaksa dilakukan sembunyi-sembunyi. Seperti mematikan sebagian lampu atau tetap berjualan kembali di jam 01.00 dini hari. ” Jadi, kita ini berjualan seperti kriminal, padahal kita jualan berusaha cari yang halal,” sedihnya.

Dari pantauan media ini, tak sedikit juga pedagang yang berjualan hanya tiga jam saja. Sehingga sangat merasakan dampak dari penerapan pembatasan jam malam. Bahkan, tak hanya pedagang. Warga pun mengeluhkan hal serupa.

Andi misalnya. Warga Balikpapan Utara ini mengaku aturan jam malam merugikan masyarakat. Ia menilai hal ini sebagai kebijakan konyol. “Emangnya virus keluar malam hari saja. Virus itu bukan kupu-kupu malam. Kacau ini kebijakan, bikin sengsara warga saja,” sesalnya.

Ia lantas membandingkan kerumunan saat petahana Pilkada Desember 2020 melakukan pendafataran di KPU. “Waktu pak Rahmad Mas’ud dan Thohari daftar di KPU, ratusan orang berkerumun kok dibiarkan saja. Apa bedanya berkurumun siang dan malam. Emangnya virus cuma keluar malam hari,” kesalnya.

Andi meminta Pemkot menghentikan aturan ini. “Bukan virusnya yang bahaya. Tapi justru aturan ini yang bahaya karena ekonomi masyarakat terganggung. Bantuan yang diberikan pemerintah tak sebanding dengan kerugian warga. Apalagi para pedagang yang berjualan malam.”

Sebelumnya Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi mengatakan pemberlakuan jam malam untuk menekan penularan Covid-19. “Kita mohon masyarakat mengerti,” ujarnya.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button