Nasional

Pasokan Makanan ke Pedalaman Terganggu

Bandara APT Samarinda. (dok)

Report: Robby|Editor: Faisal

TIMUR MEDIA – BANDARA Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda, Kalimantan Timur, ditutup sementara selama 20 hari.

Penutupan dilakukan mulai dari 20 November hingga 10 Desember 2019. Pihak bandara akan melakukan perbaikan taxiway dan pemasangan lampu Air Field Lighting.

Operasional Bandara APT Pranoto yang akan ditutup sementara punya dampak negatif. Yakni berpotensi mengganggu pasokan makanan di daerah pedalaman.

Hal itu diutarakan Distrik Manager Susi Air, Astrid Siska Pratiwi. Sebab, bandara APT menjadi bandara yang melayani penerbangan dari dan ke daerah pedalaman.

Daerah yang berpotensi terdampak berada di sejumlah wilayah. Seperti Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur, Melak di Kabupaten Kutai Barat. Berikutnya, Long Apung dan Datah Dawai di Kabupaten Mahakam Ulu

“Serta daerah-daerah lain di sekitarnya. Masyarakat di sana pasti kesulitan bahan makanan, karena rata-rata dipasok dari Samarinda,” ungkap Astrid.

Apalagi, selama ini proses pengiriman bahan makanan ke daerah tersebut rerata hanya bisa dilakukan melalui jalur udara.

“Sedangkan jalur darat aksesnya masih sulit,” jelasnya. Saat ini penerbangan perintis bersubsidi Susi Air menjadi salah satu maskapai yang melakukan penerbangan itu.

Menurut Astrid, masyarakat di pedalaman kerap membeli bahan kebutuhan pokok. Seperti ikan, ayam dan kebutuhan pokok lainnya dari Samarinda.

“Lalu menggunakan jalur udara karena lokasinya berada di pedalaman. Pakai jalur darat bisa, tapi aksesnya sulit. Bisa memakan waktu sangat lama. Ada yang bisa berhari-hari,” ujarnya.

Rentang yang ditempuh dengan akses darat, sambung Astrid, bisa memakan waktu delapan jam. Ini hanya dari Samarinda ke Mahakam Hulu. Akan lebih lama lagi bila masuk ke daerah pedalaman.

“Sebab dari darat harus berlanjut melewati sungai menggunakan kapal. Sedangkan menuju Muara Wahau sekitar 10 jam,” paparnya. Ia menilai jalur udara menjadi alternatif terbaik untuk mengirim pasokan makanan ke daerah terkait.

Jika kondisi normal, sambung Astrid, setiap hari Susi Air melayani enam kali penerbangan dari Bandara APT Pranoto Samarinda menuju Long Apung, Melak, Datah Dawai dan Muara Wahau.

“Kami akan berkoordinasi dengan manajemen untuk mencari alternatif lain agar penerbangan Susi Air tak terhambat. Apakah dipindahkan ke Balikpapan atau bagaimana nanti,” jelasnya.

“Entah nanti dipindahkan ke Balikpapan atau Malinau, saya akan koordinasi dulu,” katanya.

Ia berujar, informasi penutupan sementara Bandara Pranoto ini akan diumumkan setelah keluar Notice to Airmen atau Notam.

Kepala Biro Humas Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim Syafranuddin membenarkan akan ada penutupan Bandara Pranoto.

Langkah ini harus diambil karena akan dilakukan dua kegiatan pekerjaan di bandara pengganti Bandara Temindung tersebut.

“Benar akan ada penutupan Bandara APT Pranoto karena ada dua pekerjaan. Pemerintah mengumumkan lebih awal agar segera diketahui masyarakat,” papar Ivan, sapaan akrabnya.

Dua pekerjaan yang dimaksud, ujar Ivan, pekerjaan pemasangan Air Field Lighting System (AFL) atau lampu runway. Termasuk lampu-lampu di sekitar exitway, apron dan taxyway.

“Pekerjaan ini menjadi beban UPBU APT Pranoto. Pembiayaan bersumber dari APBN senilai Rp 12 miliar,” beber Juru Bicara Gubernur Kaltim itu. 

Ia menjelaskan, AFL System ini alat bantu pendaratan visual. Fungsinya, membantu dan melayani pesawat terbang selama tinggal landas, mendarat dan melakukan taxi. Tujuannya agarar dapat bergerak efisien dan aman.

Kedua, pekerjaan peningkatan struktur exitway sepanjang 100 meter. Ini digarap Dinas Perhubungan Kaltim dengan pendanaan APBD Provinsi Kaltim.

“Nilainya sebesar Rp 3 miliar. Pekerjaan kedua ini rekomendasi teknis dari Direktorat Bandar Udara dan Tim Panel Ahli Bandara Kemenhub RI,” jelas Ivan.

Rekomendasi diberikan karena exitway mengalami kerusakan akibat tingginya beban lintas pesawat. Beban itu melebihi kapasitas perencanaan awal bandara.

“Exitway akan ditingkatkan dengan agregat setinggi 30 cm dan aspal setebal 12 cm,” paparnya.

Karena itu, menurut Ivan, untuk efektivitas pelaksanaan kedua pekerjaan dan keselamatan penerbangan.

“Maka Kemenhub akan menutup Bandara APT Pranoto mulai tanggal 20 November hingga 10 Desember 2019,” jelas mantan Kabag Humas Pemkab Kutim itu.

Menurut Ivan dua pekerjaan ini akan dikerjakan bersamaan secara paralel, siang dan malam agar lebih efektif. Karena itu selama 20 hari bandara akan ditutup untuk seluruh penerbangan.

Dua pekerjaan ini ditarget usai pada 10 Desember 2019. Operasional bandara akan dibuka kembali pada 11 Desember 2019.

Menurutnya usai pemasangan lampu runway ini, maka diharapkan masalah pengalihan pendaratan ke Bandara SAMS di Balikpapan akibat kabut tidak akan terjadi lagi.

Selama ini, seringkali terjadi pendaratan terutama di pagi hari sulit dilakukan saat kabut. Akhirnya pendaratan dialihkan ke Balikpapan.

“Kita fokus antisipasi kabut dulu agar tidak ada pengalihan pendaratan ke Balikpapan,” ujarnya.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button
Close
Close