Kaltim

Pasangan Pejabat Kutim Ditangkap KPK, Kekayaannya Naik

Keduanya ditahan di sel terpisah.

Report: Robi I Editor: Basir

TIMUR MEDIA – Pasangan suami istri yang juga menjadi pejabat teras di Kutim, ditangkap KPK. Mereka diduga menerima gratifikasi dari rekanan. Keduanya adalah Ismunandar dan Encek Unguria Riarinda Firgasih. Sang suami adalah Bupati Kutim, dan istrinya Ketua DPRD Kutim.

Tahun 2010, sebelum menjadi Bupati, Ismunandar menjabat sebagai Sekretaris Daerah di kabupaten yang sama. Dari data KPK, laporan harta kekayaan di LHKPN milik Ismunandar tercatat senilai Rp 3.148.310.015.

Kekayaannya meningkat nyaris Rp 3 miliar dibanding kala masih menjadi Sekda. Persisnya naik sekitar Rp 2,8 miliar dari sebelumnya Rp 304 juta. Dari data itu, Ismunandar terakhir melaporkan hartanya pada 17 Maret 2020.

Dari total kekayaannya Rp 3,14 miliar, sebagian besar berasal dari kepemilikan tanah dan bangunan. Nilainya mencapai sebesar Rp 2.934.272.000. Ia tercarar punya 14 bidang tanah dan bangunan di dua daerah di Kaltim, yakni di Kutai Timur dan Samarinda.

Selain itu, Ismunandar juga tercatat memiliki kas dan setara kas senilai Rp 131.038.015. Ada pula harta bergerak lainnya sebesar Rp 43 juta. Untuk aset tak bergerak, Ismunandar hanya punya satu unit mobil Suzuki yang nilainya Rp 40 juta.

Bagaimana dengan sang istri, Encek? Ia memiliki harta kekayaan sekitar Rp 1.616.382.024. Encek juga punya sebidang, yang nilainya cukup fantastis yakni Rp 1.465.000.000. Harta lain yang dimiliki Encek adalah mobil Toyota Rush serta kas dan setara kas.

Pada Kamis 2 Juli 2020 malam, keduanya ditangkap KPK di sebuah hotel di Jakarta. Pasangan suami istri ini kemudian digiring ke kantor KPK.

Pada Jumat 3 Juli 2020, Wakil Ketua KPK RI, Nawawi Pongolango dalam rilisnya menjelaskan di kasus ini, pihaknya menetapkan tujuh orang sebagai tersangka.

“KPK menetapkan tujuh orang sebagai tersangka, pertama sebagai penerima masing-masing ISM selaku bupati, EU ketua DPRD, MUS selaku Kepala Bapenda, SUR selaku Kepala BPKAD, ASW Kepala Dinas PU. Sebagai pemberi, AM selaku rekanan dan DA selaku rekanan,” papar Nawawi.

Ia membeber sejumlah peranan dari setiap tersangka, terutama ISN dan EU yang memiliki peranan besar menentukan kegiatan proyek di Kutai Timur.

Pertama, jelas Nawawi, ISN selaku bupati menjamin anggaran dari rekanan yang ditunjuk agar tidak mengalami pemotongan anggaran. Lalu EU sebagai Ketua DPRD, mengintervensi penunjukan terkait pemenang pekerjaan di Kutai Timur.

Selanjutnya tersangka Mus, Kepala Bapenda Kutim yang juga kepercayaan bupati melakukan intervensi dalam menentukan pemenang pekerjaan di Dinas Pendidikan dan PU. “Sur, kepala BPKAD mengatur dan menerima uang dari setiap rekanan yang melakukan pencairan atau termin sebesar 10 persen dari pencairan,” bebernya.

Satu orang lain, kepala Dinas PU ASW mengatur pembagian jatah proyek bagi rekanan yang akan menjadi pemenang. Atas penangkapan tersebut, para tersangka akan ditahan terpisah.

Nawawi menjelaskan Ismunandar akan ditahan di rutan KPK Kavling C1. Sedangkan istrinya Encek ditahan di rutan KPK Gedung Merah Putih.

“Para tersangka saat ini dilakukan penahanan rutan selama 20 hari terhitung sejak tanggal 3 juli 2020 sampai dengan 22 juli 2020,” ujar Nawawi. Untuk pejabat Kutim lain yang ditangkap, ditahan di rutan KPK Kavling C1. Sedangkan dua tersangka rekanan ditahan di Polda Metro Jaya dan rekanan Deky Aryanto ditahan di Polres Jakarta Pusat. Mereka semua akan menjalani isolasi untuk mencegah korona.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button