Kaltim

Pabrik Bahan Peledak Dibangun di Kaltim

Report: Roby| Editor: Faisal

TIMUR MEDIA – Pabrik bahan peledak, akan kembali dibangun di Kaltim. Infrastruktur ini dikerjakan PT Kaltim Amonium Nitrate (KAN).

Nantinya pabrik ini akan memiliki kapasitas amonium nitrat 75 metrik ton per tahun dan 60 ribu metrik ton per tahun asam nitrat.

Amonium nitrat termasuk bahan baku peladak yang sangat dibutuhkan industri pertambangan. Saat ini pertumbuhannya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Adapun pengerjaan proyek dilakukan oleh konsorsium PT Wijaya Karya Tbk dan China Second Design Institute of Chemical Industry.

Perusahaan KAN didirikan dari hasil Joint Venture Agreement atau perjanjian usaha patungan antara dua raksasa BUMN: PT Pupuk Kaltim dan PT Dahana (Persero), yang diteken November 2019 lalu.

Keduanya sepakat membentuk PT KAN sebagai pengelola pabrik bahan peledak di Bontang. Nilai investasi perusahaan ini mendekati Rp 1 triliun.

Persisnya Rp 957,8 miliar, yang didapat dari kredit investasi BUMN Perbankan ekuitas masing-masing pemegang saham.

Kehadiran PT KAN menambah daftar panjang jumlah pabrik bahan peledak di Kota Bontang. Pabrik ini menjadi pabrik ketiga bahan peledak yang ada di Kaltim.

Pembangunan pabrik berada di kawasan industri Kaltim yang lebih dikenal dengan daerah Kaltim Industrial Estate (KIE).

Saat ini, kawasan industri KIE telah berdiri dua pabrik bahan peledak, PT Kaltim Nitrat Indonesia berkapasitas 300 ribu ton tiap tahun. Lalu PT Black Bear Denna, dengan rata-rata produksi 82 ribu ton per tahun.

KIE adalah sebuah kawasan industri yang letaknya di Kelurahan Lok Tuan, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Kaltim. Kawasan industri ini menjadi satu dengan area pabrik milik PT Pupuk Kaltim.

Secara keseluruhan, kawasan industri KIE memiliki lahan industri seluas 265,6 hektare yang terbagi dalam empat wilayah. Tiap wilayah punya peruntukan berbeda. Salah satunya industri kimia skala besar.

Mulai tahun 2020 ini, PT KAN akan fokus pada sosialisasi. Estimasi SDM yang dibutuhkan mencapai ratusan orang.

Direktur PT KAN, Bimo Nusantoro, menerangkan penandatangan kontrak dilakukan sejak 1 Oktober 2019.

Pembangunan dimulai per 18 Desember. Seperti pembangunan enginering dan beberapa pekerjaan infranstruktur awal semisal perataan tanah dan pemagaran.

“Sekitar enam bulan ke depan, barulah ada aktivitas konstruksi yang lebih signifikan,” jelas Bimo, Senin 6/ Jan/2020.

Saat ini pihaknya masih gencar sosialisasi ke masyarakat untuk memaparkan rencana pelaksanaan pembangunan. Rencananya pabrik bahan peledak ketiga ini dibangun di atas lahan seluas 6 hektare.

“Namun, luasan lahan untuk keperluan pabrik hanya 2,5-3 hektare, selebihnya dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau.” Proyeksi pengerjaan selesai dalam rentang waktu 30 bulan ke depan.

“Atau sekitar 2,5 tahun mendatang,” paparnya. Sedangkan kebutuhan SDM diproyeksikan sekitar 700 tenaga kerja. Pemenuhan kebutuhan ini nantinya akan menggandeng Pemkot Bontang.

Direktur Utama PT Dahana (Persero) Budi Antono dalam siaran persnya mengatakan, pabrik ini nantinya menghasilkan komposisi produk Amonium Nitrat dan Asam Nitrat.

Rencananya, hasil produksi bakal dipasarkan untuk kebutuhan dalam negeri dan industri batu bara.

Pihak perusahaan menjamin produksi pabrik bisa sangat aman.

“Sebab, teknologi pengoperasian pabrik telah mendapat persetujuan dan direkomendasikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi,” jelasnya.

PT Dahana mengklaim telah melakukan pertemuan dengan sejumlah warga dan tokoh masyarakat di sekitar bufferzone, Kelurahan Guntung dan Loktuan.

Namun tetap membutuhkan saran dan dukungan dari masyarakat sekitar untuk memuluskan rencana pembangunan pabrik.

Pembangunan pabrik amonium nitrat ini digadang-gadang bakal menjadi penunjang bagi kemandirian ekonomi di bidang industri bahan peledak yang dikelola dan dimiliki secara mandiri oleh perusahaan BUMN.

Hingga saat ini PT Dahana telah mengekspor bahan peledak ke Australia senilai Rp 7,025 miliar, sedangkan Timor Leste Rp 2,57 miliar.

Tahun 2029 perusahaan menargetkan akan ekspansi ekpsor ke  pasar Jepang, dengan total nilai ekspor yang dibidik tahun ini sebesar Rp 29,64 miliar.

Dari total produksi bahan peledak, 13% dipasok ke militer dalam negeri. Sedangkan sisanya dijual untuk keperluan pertambangan dan infrastruktur.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button
Close
Close