Kolom

Oo Inikah Kebetulan?

Oleh: R. Faiqa Hamda, pemerhati sosial politik.

TIMUR MEDIA – Dar der dor, suara senapan. Sugali anggap petasan. Tiada rasa ketakutan, punya ilmu kebal senapan. Semakin lupa daratan. Demikian lirik lagu Sugali, karya Iwan Fals, yang dulu sering digaungkan.

Dar der dor, ada tembak-tembakan katanya. Satu pihak, meregang enam nyawa. Pihak lain, tak ada satu pun yang terluka. Di lokasi kejadian yang dianggap arena dar dor doran, menurut laporan Republika, tidak ada satu pun tanda bekas tempat kejadian perkara. Tidak ada pula garis kuning laiknya tanda TKP.

CCTV, klaimnya, juga dalam perbaikan. Persis pola tiga tahun silam. Kala Hermansyah, pakar IT, dibacok di tol Jagorawi Km 6. Saat itu CCTV tak pula menyala.

Oo inikah kebetulan?

Seperti kebetulannya alasan bila terjadi wafatnya korban KIPI, yang tak pernah diakui. Sudahlah nurut untuk vaksin, tapi saat jadi korban wafat, orangtua yang disalahkan.

Dan mereka, yang ditembak itu masih muda. Dituding membawa senjata, lalu menyerang begitu saja. Mereka wafat jadi korban penembakan, kemudian disalahkan.

Oo inikah kebetulan?

Seperti kebetulannya alasan darurat-daruratan setiap menjelang program vaksinasi. Tak peduli kandungan haram, B2 atau bahkan sel janin yang diaborsi. Setiap jelang vaksin, selalu muncul alasan kedaruratan.

Oo inikah kebetulan?

Seperti kebetulannya kasus-kasus korupsi besar yang hilang begitu saja. Tenggelam oleh isu-isu sosial yang menyayat hati, memantik emosi, memancing publik bereaksi. Lantas, kasus korupsi hilang lagi.

Oo inikah kebetulan?

Polanya selalu sama, hanya konteks, waktu dan korbannya yang berbeda.

Oo inikah kebetulan?

Dalam keresahan sosial seperti ini, tiba-tiba rindu Iwan Fals dan Slank. Keduanya jarang keliatan. Biasanya lirik-lirik sarkasmenya ramai-ramai diperdendangkan. Sayang, tak seperti sebelum-sebelumnya. Kini entah kemana lagu-lagu ciamik mereka.

Oo inikah kebetulan?

Bacalah tujuan atas apa yang disajikan. Bukan sajiannya, tapi tujuannya. Apalagi yang terjadi secara tiba-tiba. Dan kaitkan dengan rangkaian peristiwa-peristiwa sebelumnya. Nyaris, polanya selalu sama.

Jangan lupa, selalu tambahkan suplemen jiwa: shalawat dan doa untuk umat.

Shalaallahu alaa Muhammad.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button