Kolom

Novel Sejarah dan Sebuah Proses

Najib, sastrawan Mesir yang mempelopori dakwah lewat novel.

Penulis: Faiqa Hamda, penikmat sastra

TIMUR MEDIA – “Ayo Umar, kita dentingkan gelas anggur seperti masa lalu,” rayu seorang pelacur kepada Khalifah Umar. Khalifah menolaknya dengan lembut.

Dialog di atas, kutipan dari novel sejarah Umar bin Khattab; Terbakar Risalah Muhammad. Novel ini salah satu karya Najib Kailani, seorang dokter yang lebih dikenal sebagai Sastrawan utama Mesir.

Tak seperti karya sastra lain, novel sejarah Najib punya banyak kekuatan. Di antaranya, diangkat dari arsip-arsip bersejarah yang disembunyikan sejarawan Orientalis dan Barat.

Dalam karyanya bakal kita temukan penghayatan mendalam terhadap nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan dan cinta.

Najib termasuk yang anti dengan sastra-sastra cabul yang mengeksploitasi tubuh manusia serta menilai sesuatu dengan sudut pandang materi.

Najib al Kailani adalah teladan dan pelopor tentang bagaimana membangun karya sastra dengan sentuhan mendalam nilai Islam. Mengulik kisah-kisah sejarah tersembunyi.

Dalam novel tentang Sahabat, kita menemukan sejarah yang sedikit berbeda dari buku serupa kebanyakan yang kerap menonjolkan dahsyatnya ibadah dan perjuangan Sahabat.

Tapi Najib lebih jeli lagi dengan melihat proses demi proses kehidupan Sahabat, yang juga masih manusia. Bagaimana awal Sahabat bergejolak hatinya menerima cahaya Islam.

Bagaimana jatuh bangun Sahabat dalam menjaga dan menggenggam keimanan. Rayuan, godaan, tantangan digambarkannya dengan penuh kejelian.

Tentu saja didukung dengan periwayatan Shahih yang mungkin jarang kita dengar. Kekuatan menelisik arsip bersejarah itu yang membuat karyanya maha asyik untuk dikunyah.

Di sisi lain, Najib tidak segan mengkritik profesi dokter yang bekerja sekadar mengeruk materi, tanpa memiliki misi kemanusiaan yang luhur.

Ia juga selalu mengkritik orang yang menyandang gelar terhormat keagamaan justru melakukan tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai Islam. Memotret kehidupan orang-orang yang lihai memainkan kemasan.

Selain puluhan novel, ada pula karya puisi, cerpen dan karya ilmiahnya. Semisal: Fi Rihah al-Thibb al-Nabawi atau Nikmatnya Pengobatan Nabi, al-Shaum wa ash-Shihhah alias Puasa dan Kesehatan, dan Mustaqbal al-‘Alam fi Shihhah al-Thifl atau Masa Depan Kesehatan Anak di Dunia.

Tak ada tulisannya yang membosankan. Semuanya selalu mendebarkan, menggemaskan, dan kadang terlalu sendu karena saking suramnya.

Satu novel yang juga menarik, bertajuk: Adza Jakarta atau Gadis Jakarta. Novel ini berkisah tentang perlawanan bangsa Indonesia dalam menghadang paham komunis yang makin menggurita.

Novel ini sangat menarik, karena dibuat Najib yang belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya ke Indonesia. Ada pula novelnya: Alladzina Yahtariqun atau Mereka yang Terbakar. Karyanya pernah disinetronkan pada tahun 1980-an.

Mengisahkan kebobrokan manajemen sebuah poliklinik dan kejujuran serta keuletan dan kegigihan seorang dokter muda yang didera berbagai fitnah.

Dokter yang juga sastrawan ini mengajarkan pada kita: hidup adalah proses. Bahkan seorang Nabi dan para Sahabat pun melewati proses yang berliku. Apalagi manusia biasa. Terlebih kita, produk-produk akhir zaman.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button