Internasional

Negeri K-Pop Resesi, Australia Bersiap Menyusul

Australia mulai memberi sinyal resesi yang bakal menimpa negara itu.

Report: Janu I Editor: Ahmad

TIMUR MEDIA – Negeri K-Pop Korea Selatan resmi masuk ke jurang resesi menyusul Singapura. Ekonomi Negeri Ginseng itu minus 1,3 pada kuartal I 2020 dan di kuartal II lebih besar mencapai minus 3,3 persen.

Resesi ini pertama kalinya bagi Korea Selatan setelah 17 tahun terakhir ekonominya selalu tumbuh positif. Suatu negara disebut resesi jika ekonominya terkontraksi atau minus dalam dua kuartal berturut-turut.

Salah satu industri yang menopang ekonomi negara ini sektor hiburan seperti musik dan film yang kerap dikenal dengan KPop dan K-Drama. Namun, sektor ini tak mampu menahan laju resesi. Ambruknya ekonomi Korsel dipicu penurunan paling dalam selama dua dekade dari sisi ekspor.

Dilaporkan Reuters, Kamis 23 Juli 2020, anjloknya ekspor disebabkan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran virus. Akibatnya memicu kelumpuhan industri. Produk domestik bruto Korsel menukik sampai 2,9% secara year-on-year. Penurunan terbesar sejak kuartal keempat 1998.

Bank of Korea menyatakan, ekonomi Korsel menyusut -3,3%. Ini menjadi kontraksi paling tajam sejak kuartal pertama 1998. Angka ini juga lebih dalam dari perkiraan jajak pendapat yang dilakukan Reuters di angka -2,3%.

Ekonom Capital Economics Asia Alex Holmes, menilai di sisi lain pengeluaran konsumen harus secara bertahap pulih, ancaman dari virus tidak mungkin memudar sepenuhnya dan pembatasan jarak sosial mungkin harus tetap dilakukan. “Sedangkan permintaan global hanya akan pulih perlahan yang akan membebani pemulihan ekspor.”

Ekspor, yang menyumbang hampir 40% dari ekonomi Korsel, adalah hambatan terbesar dari penyusutan ekonomi ini. Ekspor tercatat turun 16,6% dan menjadi yang terburuk sejak 1963.

Sedangkan investasi konstruksi ikut mengalami penukikan 1,3% kuartal-ke-kuartal. Begitu pun investasi modal turun 2,9%. Output dari sektor manufaktur dan jasa turun masing-masing sebesar 9,0%, dan 1,1%.

Dikutip dari AFP, Kamis (23/7), Australia mulai memberi sinyal resesi yang bakal menimpa negara itu. Ekonomi Australia memproyeksikan negaranya akan mengalami kontraksi terdalam sepanjang sejarah di kuartal II tahun 2020. Sedangkan defisit anggaran akan menjadi yang terbesar sejak Perang Dunia II.

“Angka-angka kasar ini mencerminkan kenyataan pahit yang kita hadapi,” kata Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg dikutip dari AFP.

Bahkan, pada April-Juni PDB diprediksi mengalami kontraksi sebesar 7%. Ini akan mendorong Australis masuk dalam resesi untuk kali pertamanya sejak tiga dekade terakhir. Di kuartal I tahun 2020, ekonomi Australia minus 0,3%.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button