Kolom

Musda Golkar Kaltim dan Kompas Pilkada

Musyawarah Daerah X Golkar Kaltim, menjadi sesuatu yang ditunggu publik Benua Etam. Khususnya para politisi dan para pegiat politik. Apa pasal?

Musda ini menegangkan. Maklum, Partai Beringin adalah partai besar yang kerap mendominasi keberlangsungan peta kepala daerah di 10 kota/ kabupaten Kaltim.

Gocekan partai sepuh ini bukan main lihainya. Manuver-manuvernya sering tak terduga. Dinamikanya begitu hidup. Sengit.

Tapi saat terjadi konflik, cepat teredam.
Kepiawaian mengelola manajemen konflik ini yang menjadi satu keunggulan Beringin. Partai ini sarat akan pengalaman dari daerah sampai pusat.

Untuk Kaltim, nyaris saban Musda selalu menengangkan. Tentu saja menjadi sorotan, publik menyimpan pertanyaan: kejutan apa lagi yang akan diberikan?

Kalau Musda sebelumnya ada rivalitas kuat antar dua kandidat. Begitu pula dengan Musda 2020 ini. Kita masih ingat bagaimana Sayyid Amin vs Rita Widyasari.

Dari rivalitas itu, mereka mengajarkan kedewasaan berpolitik. Tegang, bahkan mencekam. Tapi selanjutnya, damai, tentram. Tak tahu kalau diam-diam masih menyimpan dendam. Itu sih, bukan urusan publik.

Yang publik ambil ilmunya: pengelolaan manajemen konflik dan pesona pendidikan politik. Yang selalu membuat kejutan demi kejutan. Musda kali ini pun, belum saja dimulai sudah membuat kejutan.

Dua kali ditunda dari jadwal semula. Awalnya tanggal 2-3 Maret, ditunda lagi tanggal 4-5 Maret. Kemudian ditunda lagi. Sampai batas yang belum ditentukan.

Dari sejumlah kandidat yang mendaftar untuk merebut kursi nahkoda pun, mengemuka pula rivalitas sengit di antara mereka. Yakni dua sosok politisi: Rudi Mas’ud dan Isran Noor.

Rudi Mas’ud lekat dengan Bani Mas’ud. Rudi adalah anggota DPR RI. Adiknya, legislator Kaltim. Ada pula Bupati Penajam Paser Utara. Kemudian, Wakil Wali Kota Balikpapan. Publik menilainya sebagai sebuah dinasti.

Tapi, dinasti atau bukan sah-sah saja. Namanya juga penilaian. Pro kontra itu biasa. Masing-masing orang pasti punya persfektif berbeda.

Yang menarik, empat bersaudara itu berlatar pengusaha. Tiga di antaranya bahkan boleh dibilang baru terjun ke politik. Tetapi tiki taka, gocekan politiknya, patut diacungi jempol. Jaringan mereka pun luar biasa. Kekuatan finansialnya, jangan ditanya.

Nah, di Musda Golkar saat ini boleh dibilang menjadi pertaruhan Bani Mas’ud. Kalau Rudi Mas’ud menang, cakar politik mereka semakin kokoh. Kalau kalah, peta politik bisa berubah. Yang paling terdampak Pilkada 2020 ini.

Apalagi, di antara Bani Mas’ud ada yang akan mencalonkan diri di Pilkada. Tentu kemenangan Rudi Mas’ud sangat memengaruhi. Begitu pula bila kalah.

Siapa sosok yang punya potensi mengalahkan Rudi di Musda? Siapa lagi kalau bukan Isran Noor. Secara politik, Isran adalah produk ‘barang jadi’.

Artinya, dengan statusnya sebagai kepala daerah provinsi, ia adalah aset berharga bagi parpol. Partai mana pun. Tak hanya Golkar. Value ini tentu menjadi lobi amat tinggi.

Isran sendiri dikenal sebagai politisi senior Kaltim. Bahkan pernah berkecimpung dalam konstelasi politik nasional saat ikut dalam konvensi presiden yang dihelat SBY.

Jaringannya tentu lebih kuat dibanding Rudi Mas’ud. Soal finansial pun bisa bertanding. Yang tak dimiliki Rudi dan kandidat lainnya status: kepala daerah. Isran sudah memegang kunci ini.

Apalagi ia sendiri dikenal dekat dengan Ketum Golkar Airlangga Hartarto. Gerbong politiknya di Kaltim pun didominasi politisi senior.

Di atas kertas, kans Isran sangat besar. Tapi… Ini Golkar. Partai yang selalu penuh kejutan.

Kita sudah menyaksikan rivalitas Sayid Amin vs Rita Widyasari. Di atas kertas Sayid Amin unggul, faktanya berkebalikan.

Kalau Rudi Mas’ud yang bisa dibilang pemain baru, bisa mengikuti jejak Rita. Maka, cakar Bani Mas’ud makin kuat. Dan tentu akan mempengaruhi konstelasi Pilgub 2024.

Sebaliknya jika Isran unggul, konstelasi Pilkada pun bisa berubah. Rahmad Mas’ud adik dari Rudi Mas’ud, yang mencalonkan diri di Pilkada Balikpapan, tentu akan memiliki dampak bila Rudi kalah.

Bisa-bisa, jabatannya Rahmad sebagai Ketua DPD Golkar Balikpapan, digeser. Atau tetap tetapi bakal calon kandidat yang bersanding dengannya di Pilkada Balikpapan, berasal dari gerbong Isran Noor.

Atau Rahmad sengaja memilih melepaskan diri karena sang kakak kalah di Musda.

Sebab secara langsung atau tidak, ada beban moral dan psikologis jika Rahmad mengikut mantan rival sang kakak. Kader Golkar dari gerbong Bani Mas’ud bisa melemah.

Maka, bisa dibilang pertarungan Musda Golkar Kaltim kali ini menjadi pertaruhan bagi kekuatan Bani Mas’ud ke depan. Musda ini juga penentu kompas Pilkada 2020.

Kalau boleh main tebak-tebakan, saya menebak Musda nanti dimenangkan Isran Noor. Pemilihan pun dilakukan secara aklamasi. Tanpa perpecahan, mengingat momen Pilkada yang makin dekat.

Loh bagaimana dengan Makmur HAPK? Bukankah ia kader Golkar paling lama dibanding sejumlah bakal calon ketua lainnya. Benar. Tapi, tak punya aset sebagai kepala daerah. Kekuatan finansialnya pun masih unggul Bani Mas’ud.

Sedangkan Isran, punya kekuatan aset sebagai kepala daerah, jaringan dan finansial. Dengan kata lain, tools untuk bertarung di kancah politik, telah dilengkapinya.

Kembalinya Isran ke Golkar pun atas permintaan Ketum Airlangga. Sampai-sampai beredar KTA Golkar atas nama Isran. Bernomor: NPAPG 647206 065602 0030.

Munculnya KTA ini seolah counter attack buramnya langkah diskresi yang mungkin diambil. Isran juga patut mengamankan periode berikutnya, kan?

Selamat Musda Golkar Kaltim. Siapapun yang terpilih, itulah putra terbaik Kaltim. Publik telah disuguhkan tiki taka politik yang amat menarik. Sungguh ciamik suguhan pembelajarannya.

*Sakhia Hamda, penikmat politik.

Tags
Selengkapnya...

Terkait

Back to top button
Close
Close