Mozaik

Mistifikasi, Trik Sulap dan Gimmick Para Dukun

Mistifikasi, Trik Sulap dan Gimmick Para Dukun
Oleh; Ickur
(Ketua Lakpesdam NU Kota Balikpapan)

Dalam beberapa pekan ini medsos diramaikan oleh isu viral yang hirarkis, di level atas ada isu perwira tinggi polisi yang terjebak rentetan kasus pidana, berbeda dengan kisah keberhasilan seorang perwira TNI yang berhasil menggagalkan transaksi Narkoba, sementara perwira tersebut justru mendapat hadiah pencopotan jabatan dan berujung kematian bagi perwira TNI itu. Kisah heroik perwira TNI ini sangat sepi dari pemberitaan, tak lebih dari sekedar bisik-bisik di medsos.

Di level bawah ada drama Pesulap Merah versus “Gus” Samsuddin yang belakangan merembet ke Kelompok Dukun yang mencoba merebut panggung dengan menunggangi isu Pesulap Merah.

Yang menarik perhatianku adalah di antara isu viral nan trending itu tiba-tiba melintas rentetan konten di youtube yang mengangkat dan merekomendasikan tontonan seorang Ustadz yang masyhur sebut saja namanya AS sedang melakukan silaturrahmi kepada beberapa tokoh politik dan konten kreator youtube.

Sebelum menghubungkan pembahasan mengenai Ustadz AS dengan si Pesulap Merah, terlebih dahulu kita menengok Kisah Viral Pesulap Merah.

Terkait

Pesulap Merah mendapat perhatian netizen ketika dia mulai membuat konten membongkar trik yang digunakan oleh Dukun yang menurutnya membohongi pasien. Pesulap Merah melihat bahwa apa yang dimistifikasi oleh para Dukun dengan berbagai Gimmick tak lebih dari trik sulap.

Berdanya ketika pesulap berakting, para penonton sadar bahwa itu hanyalah trik yang tujuannya untuk menghibur. Sedangkan ketika Dukun berakting pasien menganggap bahwa itu adalah asli kesaktian, karamah atau ilmu metafisika lainnya, dan pasien pun bersedian membayar mahal.

Lantas kenapa Dukun lebih “laris”?
Dukun atau sering disebut paranormal, kadang juga disebut Orang Pintar ini banyak menarik pelanggan setidaknya karena beberapa hal; Pertama, kepiawaian memainkan Gimmick dan piawai menghias penampilan dengan pakaian Religius layaknya pemuka Agama.

Kedua, cara pandang masyarakat Nusantara masih dicecoki oleh apa yang disebut oleh Paulo Freire sebagai “Kesadaran Magis” sehingga ketika pengguna kesadaran magis ini mendengar kisah irrasional, imajinatif dan fantastik, mereka langsung takjub dan menerima sebagai sebuah kebenaran.

Ketiga, Masyarakat kelas menengah ke bawah baik secara ekonomi maupun pendidikan butuh hasil yang praktis. Mereka menganggap bahwa berobat secara medis membutuhkan biaya yang sangat mahal dan penyembuhannya berangsung-angsur sedangkan berobat ke Dukun efeknya “diyakini” serta merta terjadi karena ada bantuan kekuatan Gaib. Pada kasus lain, untuk bisa berhasil dalam suatu pekerjaan dan menghasilkan uang yang banyak butuh kerja keras dengan waktu bertahun-tahun, lebih baik datang ke Dukun yang punya kemampuan melipat gandakan uang.

Lalu apa hubungannya Ustadz AS dengan Pesulap Merah? Baiklah kita mulai pembahasannya…

Masih ingat Pilpres 2019? Di sini lah kisahnya bermula.

Beberapa hari sebelum pencoblosan Pilpres, TV One menanyangkan wawancara Eksklusif antara salah satu Capres, sebut saja namanya PS dengan Ustadz AS. Di tengah wawancara, Ustadz AS menceritakan ketika dia sowan ke tiga Ulama Sepuh tetapi tidak masyhur yang disebut oleh Ustadz AS dianugerahi oleh Allah kelebihan melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya karena hati dan mata batin mereka yang bersih. Katanya ulama itu bermimpi sebanyak lima kali, jadi itu bukan mimpi karena setan tapi dari Allah dan menyebut nama PS. Ketiga ulama sepuh yang didatangi Ustadz AS mengatakan satu nama kepada Ustadz AS, yaitu PS.

Terlepas dari benar atau tidak apa yang dikatakan oleh Ustadz AS mengenai pertemuannya dengan ketiga Ulama Sepuh tersebut, yang jelas kisah mistis ini menjadi alat propaganda yang mengesankan kepada Umat bahwa PS adalah pilihan “Tuhan” yang disampaikan melalui “ilham” kepada ketiga Ulama Sepuh tersebut. Atau secara sederhana Ustadz AS berusaha mengelola kesadaran Magis masyarakat untuk kepentingan memenangkan salah satu capres saat itu yaitu PS.

Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa mistifikasi juga bisa dijadikan sebagai alat kampanye dalam dunia politik di Negara yang masyarakatnya mungkin “sebagian besa”‘ masih menggunakan kesadaran Magis dalam berpikir.

Agama direduksi menjadi alat pembenar dari alam gaib kemudian diseret ke dalam kepentingan yang sangat praktis menjadii sebatas kisah-kisah fantastik dan irrasional yang bertentangan dengan akal sehat oleh para pengguna jubah agama untuk tujuan tertentu.

Lihatlah ketika Pesulap Merah menuntut adanya pembuktian secara Empiris, para Dukun menanggapinya dengan jawaban argumantasi berputar-putar, dan semakin menguak fakta bahwa “kekuatan gaib” para Dukun tersebut tak lebih dari sebuah trik sulap semata.

Sedangkan apa yang dikatakan oleh Ustadz AS terbukti gagal. PS kalah dalam Pilpres dan memilih menjadi Menteri dari Presiden terpilih.

Selanjutnya muncul pertanyaan lanjutan, apakah dengan terbuktinya trik sulap para Dukun dan gagalnya mististifikasi yang dilakukan oleh Ustadz AS menjadi alat pembenar akan suatu kesimpulan bahwa kekuatan gaib, mistis, atau karamah para Ulama sebenarnya tidak ada? Akan dibahas pada setelah ini.*

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button