Mozaik

Menyampaikan Kebenaran

Kebenaran akan selalu mendapat penentangan.

Penulis: Fajar Kurnianto

Manusia sering kali berat dan sulit menerima kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu nyata terbukti, terlihat secara kasat mata, dan masuk akal. Tak hanya sulit menerima, bahkan menentang dan melawannya dengan alasan-alasan yang lebih tampak emosional dibanding rasional.

Alasan-alasan yang tak didukung oleh argumentasi yang kuat, bahkan tak berdasar sama sekali. Sekadar rasa atau dugaan-dugaan spekulatif yang belum terbukti atau diuji lalu disepakati bersama.

Kisah-kisah para nabi dan rasul dalam Alquran sarat dengan gambaran yang jelas tentang sikap seperti itu. Kaum-kaum yang didatangi para utusan Allah, misalnya, kaum Ad, Tsamud, Madyan, Bani Israil, dan lainnya, digambarkan selalu menentang kebenaran yang disampaikan kepada mereka.

Bahkan, mereka menentang dan melawan kebenaran itu dengan argumen-argumen emosional bahwa apa yang selama ini mereka lakukan semata-mata warisan turun-temurun dari nenek moyang mereka pada masa lalu.

Para nabi dan rasul sejatinya mengajak mereka berpikir jernih dan membuka hati untuk melihat tradisi yang disebut sebagai warisan nenek moyang itu lebih cermat dan kritis. Namun, bukannya menerima dengan lapang dada dan menerima kebenaran, mereka malah menyerang pribadi para nabi dan rasul dengan tuduhan dan tudingan yang tak relevan.

Misalnya, mereka menyebut para nabi dan rasul itu sebagai orang gila, penyihir, penyair, kerasukan makhluk gaib, dan sejenisnya. Mereka tak bisa membantah kebenaran, kemudian beralih menyerang pribadi yang ternyata juga salah.

Gagal membantah kebenaran, gagal juga menyerang pribadi yang memang dikenal sebagai sosok-sosok yang baik, saleh, dan jujur, mereka beralih ke jalur kekerasan. Mereka berusaha mengusir, bahkan menyerang para nabi dan rasul itu secara fisik.

Sejumlah nabi dan rasul bahkan mereka bunuh, misalnya, Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Alquran menyebutkan, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia untuk berlaku adil” (QS Ali ‘Imran [3]: 21).

Imam al-Baidhawi dalam tafsirnya menyebut, di antara nabi yang dibunuh adalah Isaiah, Zakaria, dan Yahya. Mereka membunuh para nabi itu karena mengikuti hawa nafsu dan cinta dunia. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan, Bani Israil setelah masa Nabi Musa banyak membunuh nabi. Bahkan, konon pernah terjadi mereka membunuh 70 nabi dalam sehari. Malam harinya, para pembunuh itu mengadakan pesta makan seakan-akan tak pernah terjadi apa pun pada siang harinya.

Sulitnya menerima kebenaran bisa disebabkan oleh banyak hal. Misalnya, kukuh mempertahankan tradisi atau pengetahuan lama tanpa sikap kritis. Bisa juga terjadi karena kesombongan, merasa paling benar, sementara yang berbeda dianggap salah. Bisa jadi juga karena ada posisi sosial dan kepentingan ekonomi yang terancam. Sejarah atau kisah akan terus terulang dalam konteks dan zaman yang berbeda dengan orang yang berbeda, tetapi sejatinya sama.

Kebenaran akan selalu mendapatkan penentangan. Meski begitu, seperti dikatakan Umar bin al-Khattab, katakan yang benar meskipun pahit atau keras reaksi baliknya. Seperti para nabi dan rasul yang tetap teguh menyampaikan kebenaran tanpa kenal menyerah hingga akhir hayat. Wallahu a’lam.

I ROL

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button