Internasional

Menlu Turki Kritik Jerman Soal Libya

Red : Ahmad Mulyadi

TRIPOLI, TIMUR MEDIA – Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, mengkritik Jerman yang telah mengirim pasukan angkatan lautnya ke Libya. Menurut Cavusoglu, langkah militer Jerman itu tidak tepat mengingat Jerman berstatus sebagai negara tuan rumah Konferensi Berlin.

Cavusoglu mengatakan langkah Jerman mengirimkan fregat berisi 250 tentara Jerman itu membuat misi yang dinamai Irini itu menjadi bias. “Irini adalah operasi yang bias. Jerman adalah tuan rumah Konferensi Berlin, oleh karena itu Jerman harus netral dan objektif,” kata Cavusoglu kepada Kantor Berita Turki, Anadolu Agency, pada Kamis kemarin (6/8) seperti dikutip Aljazeera (7/8/2020).

Misi Irini diciptakan atas inisiatif Uni Eropa untuk mendukung misi perdamaian PBB di Libya. Misi ini bertujuan untuk mencegah aliran senjata ke Libya yang sedang mengalami konflik bersenjata. Selain itu, misi ini juga untuk menggali informasi terkait ekspor minyak ilegal dan penyelundupan manusia di negeri yang dulu dipimpin Muammar Khadafi tersebut.

Sejak jatuhnya Khadafi melalui pemberontakan yang didukung NATO dan mayoritas negara barat, Libya mengalami ketidak stabilan politik, keamanan dan ekonomi. Dan sejak itu pula sejumlah negara terus berusaha menguatkan pengaruhnya di negeri kaya minyak tersebut.

Saat ini, pemerintahan Libya secara umum terbagi menjadi dua : Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang berbasis di Tripoli dan Pemerintahan Khalifa Haftar yang berbasis di bagian timur.

Pemerintahan GNA merupakan pemerintahan yang diakui secara internasional dan dipimpin politisi senior Libya, Fayiz Mustafa Al-Sarraj. Selain didukung Uni Eropa dan PBB, pemerintahan ini pun mendapatkan dukungan dari sejumlah negara di antaranya Turki, Qatar dan Amerika Serikat. Sementara pemerintahan lainnya adalah pemerintahan militer di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar yang mendapatkan dukungan dari Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Prancis, Rusia dan Mesir.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button