Nasional

Mengulik Akar LGBT (3 – Selesai)

Dokumen laporan kegiatan LGBT. (Ist)

Report: Hendra| Editor: Agung

TIMUR MEDIA – DALAM catatan LGBT sendiri, pada 2013, diklaim ada 119 organisasi LGBT. Organisasi tersebut tersebar ke 28 provinsi di Indonesia.

Tahun 2015, menurut pengakuan mantan lesbi, ada sedikitnya 200-an organisasi LGBT.

“Kalau lo bilang LGBT ada di kota doang, lo salah. Sekarang di mana-mana, strata apa saja banyak. Pelaku yang menikah banyak, tapi selingkuh dengan LGBT. Sekarang ngincar pelajar, mereka disebut brondong,” beber Amel.

Di kalangan jetset, LGBT terutama lesbi, ada semacam arisan brondong. Misal, si A memiliki pasangan remaja. Si B, iri. Nah, bila si B mendapatkan pasangan brondong milik si A, itu kebanggaan tersendiri. ‘

‘Siapa yang gak ngiler. Ada yang dapat rumah, mobil atau deposito. Shopping mah gampang,” ungkap Amel.

Baca juga: Mengulik Akar LGBT (1)

Kaum LGBT, terutama lesbi, memiliki grup. Antara belasan sampai puluhan.

Pada Oktober 2018, di Balikpapan, pernah dihebohkan munculnya grup facebook ‘Kumpulan Pin Gay Balikpapan’. Temuan itu membuat sebagian masyarakat Balikpapan yang dijuluki kota Madinatul Iman resah.

Saat itu, grup publik tersebut beranggotakan 2.941 akun. Apakah hal itu dapat diartikan kelompok LGBT tumbuh berkembang di Balikpapan, masih belum diketahui pasti.

Rabu, 13/Nov/2019 siang, TIMUR MEDIA mencoba menelusuri keberadaan grup itu di sosial media. Tapi ternyata sudah menghilang. Hanya ada postingan akun lain, yang khawatir terhadap keberadaan grup LGBT di Balikpapan itu.

Grup LGBT di sosial media, hanya fenomena gunung es. Di kehidupan nyata, para LGBT punya basis masing-masing di tiap daerah. Mereka punya basecamp untuk kongkow.
 
Khusus di kalangan middle up ibu kota, kongkow santuy mereka dilakukan di sejumpah pub di Jakarta.

Biasanya paling banyak di daerah Jakarta Selatan. Ada juga yang ngumpul di rumah-rumah mereka. Kehidupan LGBT lekat sekali dengan alkohol, drugs, dan penyimpangan seks.

Di Balikpapan, keberadaannya belum terendus media. Selain homebase kongkow, LGBT juga diguyur pendanaan menggiurkan.

TIMUR MEDIA coba menelusurinya. Luar biasa angkanya. Sumbernya pun bermacam-macam. Bahkan ada dari luar negeri, termasuk PBB. Bahasan lengkap akan disajikan dalam tulisan berbeda dari laporan ini.

Sekilas pendanaan, dimulai tahun 2003, pendanaan ini kadang-kadang bersumber dari pemerintah negeri Belanda. Kemudian, Ford Foundation bergabung dengan Hivos dalam menyediakan sumber pendanaan bagi organisasi-organisasi LGBT.

Kedua badan penyandang dana yang terakhir disebut di atas, mengarahkan penggunaan dananya pada advokasi LGBT dan hak asasi manusia daripada penanggulangan HIV sebagaimana fokus tradisional badan pemberi dana lainnya.

LGBT selalu menggunakan hak seksualitas dan hak asasi manusia sebagai tamengnya. Namun, mereka lupa masyarakat Indonesia yang tidak sepakat dengan LGBT juga memiliki hak asasi.

Kalau mereka menggunakan hak itu untuk senjata agar diterima, masyarakat juga punya hak asasi menyelamatkan generasi dari LGBT. Menyelamatkan dari seks menyimpang, menyalahi fitrah manusia, norma, dan agama.

Kaum LGBT dan pendukungnya juga menuding agama Islam, Kristen, dan masyarakat yang menolak LGBT dianggap konsevatif.

Tapi agama mana yang menerima LGBT? Islam, Kristen, bahkan Yahudi melarang gaya hidup LGBT. Tidak ada agama yang mengizinkan. Jadi, LGBT menganut agama apa, budaya mana?

Salah satu kitab suci psikologi LGBT, buku DSM, The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, biasa dikenal DSM. Buku ini terbitan American Psychiatric Association. Buku itu digunakan pelaku LGBT dan aktivis HAM untuk dijadikan pembenaran bahwa perilaku para LGBT tidak menyimpang. Disusun tujuh orang. Lucunya, lima dari penulisnya adalah pelaku LGBT.

Baca juga: Mengulik Akar LGBT (2)

Dilansir Hidayatullah, penulis buku tersebut adalah Judith M Glassgold Psy. Dia sebagai ketua (lesbian), Jack Dreschers MD (homoseksual), A. Lee Beckstead Ph.D (homoseksual), Beverly Grerne merupakan lesbian, Robbin Lin Miler Ph.D (biseksual), Roger L Worthington (normal), tapi pernah mendapat Catalist Award dari LGBT Resource Centre, dan Clinton Anderson Ph.D (homoseksual).

Masyarakat sepatutnya waspada gurita LGBT. Apalagi, bocah ingusan mulai terjerat jaringnya. Namun, tak pantas juga berlaku keras. Asal vonis. Alangkah elegan jika semua pihak merangkulnya, menasihatinya dengan hati, bukan emosi.

Banyak dari mereka adalah korban. Korban lingkungan, dendam, dan sebagainya. Alangkah ciamik jika ada lembaga khusus yang menangani hal ini.

Bagaimana di Balikpapan? Mudah-mudahan penanganannya tidak hangat-hangat tahi ayam. Bereaksi hanya bila ramai kasus. Lalu hening saat LGBT bergerak senyap.

|pelbagai sumber

🅣🅘🅜🅤🅡 🅜🅔🅓🅘🅐

Tags
Selengkapnya...

Terkait

Back to top button
Close
Close