Nasional

Mengulik Akar LGBT (1)

TimurMedia.com:

Pembakaran bendera LGBT. (GI)

TIMUR MEDIA – ISU Lesbi, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT dari tahun ke tahun terus saja menggelinding.

Isu ini selalu menjadi bola liar nan panas yang selalu mendapat sorotan banyak pihak.

Tak terkecuali sekarang ini. Bahkan, di Balikpapan mereka terang-terangan menggelar Dance Korean Pop di mall besar, Pentacity.

Masyarakat resah. Ormas Islam protes. Pejabat dan elit kelimpungan. Polisi sibuk memeriksa panitia penyelenggara.

Namun seperti isu lain, isu LGBT ikut bermunculan. Lalu, timbul tenggelam. Begitu seterusnya. Tak pernah selesai.

Tahun 2018, warga Balikpapan diresahkan kemunculan grup LGBT di Facebook. Semua bereaksi.

Sampai Walikota Rizal Effendi meredam. Berjanji membuat Perwali. Terkait larangan kegiatan LGBT. Tapi sudah setahun aturan itu tak jelas kabarnya.

Senin ini, 11/Nov/2019, Balikpapan kembali dihentak ulah LGBT. Heboh lagi. Ramai kembali. Entah apakah nanti benar-benar hilang atau hangat-hangat tahi ayam.

Seperti sebelumnya. Bereaksi saat kejadian, santai saja kala isunya tenggelam. Sedangkan gerakan senyap mereka tak pernah berhenti.

Lantas, bagaimana sebenarnya geliat perkembangan LGBT di Indonesia dari masa ke masa? Dari mana akarnya?

Literasi tentang LGBT terserak di mana-mana. Namun, bisa dibilang teramat jarang yang mengungkap progres sejarah LGBT dan sumber dananya.

Terbanyak, justru propaganda LGBT, yang tentu saja ditulis pelaku atau pendukung LGBT.

TIMUR MEDIA mencoba menuliskan sekelumit informasi dari sumber mantan pelaku lesbi sekaligus literasi yang dibuat pihak LGBT sendiri. Juga laporan dialog nasional mereka.

LGBT di Indonesia setidaknya sudah ada sejak era 1960-an. Ada yang menyebut dekade 1920-an.

Namun, pendapat paling banyak menyebut fenomena LGBT ini sudah mulai ada sekitar dekade 60-an. Lalu, ia berkembang pada dekade 80-an, 90-an, dan meledak pada era milenium 2.000 hingga sekarang.

Cikal bakal organisasi dan avokasi LGBT di Indonesia sudah berdiri lama. Salah satunya organisasi jadul bernama: Hiwad, Himpunan Wadam Djakarta. Wadam, wanita Adam, mengganti istilah banci dan bencong. Namun, organisasi Wimad diprotes MUI.

Lalu, pada 1982, pelaku homo mendirikan Lambda Indonesia. Pada 1986 berdiri Perlesin, Persatuan Lesbian Indonesia.

Pada tahun yang sama, berdiri juga pokja GAYa Nusantara, kelompok kerja Lesbian dan Gay Nusantara.

Di era 1990-an semakin banyak organisasi yang berdiri. Kebanyakan, pendirian organisasi mereka berkedok emansipasi, merujuk emansipasi wanita.

Mereka juga mendirikan media sebagai publikasi. Ada beberapa media yang didirikan sebagai wadah komunikasi antar-LGBT.

Report: Hendra
Editor: Agung/pelbagai sumber

Most Popular

To Top