Editorial

Menghadapi Bencana 2020

Timur Media 2020

Cuaca ekstrim. (GI)

TimurMedia.com:

SAAT Refleksi Bencana Tahun 2019 dan Proyeksi Bencana 2020, yang dihelat 30/Des/2019, BNPB merilis data mencengangkan.

Di Indonesia pada periode 1 Januari hingga 26 Desember 2019, jumlah bencana lebih banyak terjadi tahun 2019 dibanding tahun 2018. Total ada 3.768 kejadian bencana di sepanjang tahun 2019.

Jumlah tersebut meningkat dibanding keseluruhan bencana yang terjadi tahun 2018. Di tahun 2019, bencana paling banyak terjadi dalam kurun waktu Januari – Maret.

Data BNPB mencatat selama bulan Januari hingga Maret 2019 telah terjadi 1.107 bencana yang menyebabkan 375 orang meninggal dan hilang, 1340 luka-luka dan 850.772 orang mengungsi dan terdampak.

Sedangkan keseluruhan bencana tahun 2019, paling banyak adalah puting beliung.

Dalam laporan ihwal Kaleidoskop Bencana 2019, Kepala Pusat Data, Informasi, dan hubungan masyarakat BNPB Agus Wibowo mengungkapkan puting beliung menjadi bencana yang sering terjadi dan terus meningkat di sepanjang tahun 2019.

Selama kurun 1 Januari – 27 Desember 2019 telah terjadi 1.370 kejadian puting beliung di Indonesia. Dalam rekapitulasi kejadian puting beliung 2019 tercatat 21 orang meninggal, 289 luka-luka, dan 50.066 orang mengungsi akibat puting beliung.

Bencana puting beliung pada 2019 juga menyebabkan kerusakan yang menimpa fasilitas pendidikan, peribadatan, dan kesehatan. Terhitung sebanyak 25.239 unit dilaporkan rusak berat.

Selain puting beliung, Agus menyebut bahwa banjir, longsor kebakaran hutan, gelombang pasang dan abrasi, serta erupsi gunungapi adalah bencana yang terjadi di sepanjang 2019.

Lalu, bagaimana di tahun 2020?

Tahun 2020, justru dibuka dengan bencana alam. Sejumlah daerah di Indonesia dilanda banjir. Dari Jabodetabek, Jabar, Banten, Makassar sampai Denpasar.

Di Jakarta, banjir merendam lima wilayah ibu kota. Tercatat, 19 ribu warga terpaksa mengungsi. Sembilan orang meninggal dunia. Ada 41 titik terpantau di Jakarta.

PLN terpaksa memadamkan sementara listrik di 724 wilayah yang terkena banjir. Sebanyak 3.100 gardu listrik di Jabodetabek pun dimatikan sementara.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), menyebut ada 169 titik banjir di seluruh wilayah Jabodetabek dan Banten.

Data BNPB juga mencatat, banjir kali ini paling ekstrim dalam 24 tahun terakhir. Di Banten bahkan sampai dilanda banjir bandang. Di Bogor, 11 orang meninggal dunia.

Sejumlah pihak mengingatkan akan datangnya potensi bencana tahun 2020.

Hasil analisis proyeksi bencana dari pelbagai sumber kementerian/lembaga serta para pakar, tren bencana yang harus diwaspadai berupa bencana geologi.

Seperti bencana gempa bumi yang disusul tsunami serta vulkanologi seperti erupsi gunung berapi.

“Potensi bencana yang perlu diwaspadai untuk tahun 2020 adalah bencana geologi, misal gempa yang disusul tsunami lalu bencana vulkanologi,” ingat Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo melalui keterangan resmi yang diterima, Rabu, 1/Jan/2020.

Apa yang diutarakan Agus, serupa dengan data prakiraan potensi bencana dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Potensi bencana tahun ini bisa berupa banjir, tanah longsor, banjir bandang, pohon tumbang, erupsi, gempa bumi, sampai tsunami.

BMKG mengingatkan dalam periode 1-7 Januari 2020, ada belasan daerah di Indonesia yang berpotensi mengalami cuaca ekstrim.

Yakni, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara.

Kemudian Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Jogjakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

Selama ini Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki potensi bencana sangat tinggi. Sayang, kesadaran masyarakat tentang mitigasi bencana masih terbilang rendah.

Padahal, posisi geografis Indonesia berpotensi mengakibatkan risiko bencana geologi. Mulai dari gempa bumi, tsunami, pergerakan tanah atau longsor, sampai erupsi gunung api.

Terlebih, Indonesia memiliki tidak kurang 127 gunung api yang statusnya masih aktif.

Sudah selaiknya besarnya potensi ancaman bencana geologi ini perlu dimbangi pengetahuan, pemahaman pencegahan dan pengurangan resiko bencana. Mitigasi bencana perlu dikenalkan sejak dini. Jika perlu dimasukan dalam kurikulum.

Faktanya, pengetahuan bencana di Indonesia masih belum terjangkau masyarakat awam. Sangat tampak kesenjangan antara pengetahuan bencana dengan pengetahuan di tingkat masyarakat.

Akibatnya muncul berita-berita bohong atau hoaks mengenai bencana di Indonesia. Di sisi lain, kewaspadaan terhadap bencana juga minim. Hingga mengakibatkan banyaknya korban jiwa tiap datang bencana.

Karena itu, patut kiranya pengetahuan mitigasi bencana lebih dikenalkan sejak dini. Dari rumah, sekolah atau tempat lain. Tentu saja hal ini perlu dukungan pemerintah pusat dan daerah.

Di Jepang, misalnya. Frekuensi bencana yang tinggi dengan daya rusak fisik yang hebat, namun masyarakatnya sudah memahaminya mitigasi bencana.

Mereka sudah paham tanda bencana, apa yang dilakukan saat terjadi bencana dan setelahnya. Jumlah korban jiwa pun dapat ditekan signifikan.

Pemahaman mitigasi bencana sebetulnya bisa diperoleh dari banyak sumber. Salah satu yang mungkin bisa dilakukan di rumah, mengenalkan pada anak-anak. Bagaimana tanda bencana, jenis, dampak, dan hal-hal yang perlu dilakukan.

Anak-anak juga bisa dikenalkan pemahaman bencana melalui dongeng. Ini bisa menjadi model pembelajaran membangun kesadaran terhadap pentingnya memahami karakteristik ancaman geologi.

Semisal, kita bisa merujuk pada sosok Rovicky yang karib dikenal Pakde. Ia adalah seorang geolog yang mencetuskan sebuah situs web geologi.co atau lebih dikenal dengan Dongeng Geologi.

Situs tersebut menjadi wadah langsung masyarakat untuk belajar banyak hal tentang mitigasi bencana.

Selain pemahaman mitigasi bencana. Tindakan preventif pun patut dilakukan. Ini dimulai dari ketegasan pemerintah dalam memberi izin pembangunan. Baik pemerintah pusat maupun daerah.

Perizinan, AMDAL, dan semisalnya kerap kali dilanggar para oknum. Asyik masyuk membangun tapi lupa pada dampak lingkungannya. Akibatnya, saat bencana datang semua pihak kelimpungan.

Rakyat pula yang menjadi korban. Jika demikian, bagaimana kesiapan kita menghadapi potensi bencana 2020?

Most Popular

To Top