Sastra

Madrasah Driver Ojol

Oleh: Ickur
(Kepala Madrasah Miftahul Ulum Balikpapan)

Aplikasi Ojol berdering keras memyambut langit yang mulai merekahkan senyum setelah memuntahkan butir-butir airnya secara deras sejak subuh. Seorang penumpang minta dijemput di Masjid Bandara.

“Nambah uang parkir ya Mas!!!’ kataku via aplikasi Chatting.

Aku sebenarnya kurang suka kalau dapat orderan jemputnya sampai masuk ke bandara, selain harus melewati pos parkir yang menambah biaya operasional juga biasanya menunggu lama di parkiran bandara yang super luas.

Dan betul saja titik jemputnya tidak sesuai, si pengorder yang bernama Hendro menunggu di masjid bandara, sedangkan ojol hanya bisa masuk sampai parkiran.

Terkait

“Gak bisa masuk sampai masjid, mas. Aku nunggu di parkiran C1” kataku.

“Ok. Aku ke sana”, balasnya.

Tidak menunggu waktu lama Hendro muncul dengan dua tentangan barang yang berat.

“Itu apa, mas?’ tanyaku agak ragu setelah melihat dia mau menaikkan barangnya ke Jok motorku.

“Ini majalah” jawabnya singkat.

Aku minta satu bundel saja yang ditaruh di depan, yang satunya lagi biar dipangku di belakang, takut motor hilang keseimbangan dan tidak bisa berbelok.

Motor pun berjalan pelan menyesuaikan diri dengan beban yang agak berat. Arah yang kami tuju adalah stadion Batakan yang sejak kemarin ramai oleh kegiatan persiapan Hari Olah Raga Nasional yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden RI.

Siswa sekolah pada hari ini disuruh “belajar di rumah”, untuk memperhalus istilah libur. Semua berkonsentrasi dan menyimpan energi untuk acara puncak HAORNAS malam nanti, selain diisi banyak kegiatan kreasi siswa, jauh hari sebelumnya di jalan-jalan terpasang spanduk foto band ibukota yang akan tampil di stadion Batakan malam ini.
###

Aku tahu acara HAORNAS hari ini karena kemarin aku mengantar seorang Kepala Madrasah yang pulang dari rapat di sebuah kafe di sekitar pantai Manggar. Katanya yang diundang cuma Sekolah sedangkan Madrasah tidak dilibatkan, jadi kami tidak meliburkan siswa.

“Madrasah itu yang sekolah agama ya Pak?” Tanyaku dengan sedikit penasaran.

“Iya, kalau sekolah di bawah naungan Kementerian Pendidikan, sedangkan madrasah di bawah naungan Kementerian Agama”. Jawab Pak Kepala Madrasah.

“Yang sekolah di Madrasah nanti dapat ijazah juga kah Pak? Bisa lanjut ke SMP?” Tanyaku lagi.

Pak Kepala Madrasah tertawa sebentar kemudian menjawab pertanyaanku.

“Iyalah! Sama aja dengan sekolah, bisa lanjut ke MTs, bisa ke SMP, atau kalau mau mondok ke Pesantren itu lebih bagus lagi”. Pak Kepala Madrasah mencoba menjelaskan kepadaku dengan kata-kata sederhana biar lebih mudah dicerna oleh seorang Driver Ojol seperti aku.

“Tapi yang dipelajari agama aja, gak belajar pelajaran umum!”” kataku menyela.

“Gak juga, memang pelajaran agamanya banyak, tapi seimbang dengan pelajaran umun seperti yang dipelajari di Sekolah. Kalau di Sekolah cuma belajar Pendidikan Agama Islam, di Madrasah, Pendidikan Agama Islamnya di pecah ke dalam beberapa mata pelajaran. Ada Akidah Ahklak, Fikih, Al Qur’an Hadits dan Sejarah Kebudayaan Islam, trus ditambah pelajaran Bahasa Arab”. Kata Pak Kepala Madrasah di sela-sela desing kendaraan yang agak sepi di siang hari.
###

Di tengah keriuhan dan kesibukan orang-orang sekolah dalam meramaikan HAORNAS dengan berbagai kreasi, hiburan dan pertunjukan, Madrasah seperti tidak mendapat ruang untuk menunjukkan skill dan kreativitas.

Agaknya stigma masyarakat dalam memandang Madrasah masih dicekoki cara pandang konservatif, Madrasah dianggap hanya bergelut dengan dunia keislaman yang tertutup dari dunia luar, tersisih dari dunia yang di dalamnya orang-orang awam bergaul dan diatur oleh tata sosial. Inilah yang sering disebut dengan istilah “umum”, atau lebih kerennya disebut “Sekuler”.

Madrasah yang agamis, suci dan tertutup dari pergaulan umum dan hanya mengajarkan nilai-nilai keislaman yang beberapa dasawarsa ini dirusak citranya oleh orang-orang atau kelompok yang keliru mempelajari Islam sehingga Islam dicap teroris, sedangkan sekolah itu sekuler terbuka dan dapat mengakses perkembangan zaman yang bergerak sangat cepat di era Teknologi Informasi.

Kata si Alim tempo hari, ketika aku diajak nongkrong di angkringan; cara pandang Agamis dan Sekuler itu salah!.

“Di Madrasah juga diajarkan pelajaran umum seperti yang dipelajari di sekolah, sementara di Sekolah juga diajarkan pelajar agama, meski tidak sedalam pelajaran agama di Madrasah. Jadi mana yang Agamis, mana yang sekuler?” Kata si Alim.
###

Tiba di pos parkiran bandara Hendro langsung berinisiatif untuk membayar uang parkir.

“Balikpapan sering hujan ya?” Tanya Hendro.

“Iya mas, akhir-akhir ini sering hujan, Jakarta gimana?” Jawabku diakhiri pertamyaan.

“Jarang’. Jawab Hendro singkat.

“Kalo hujan langsung banjir ya?’ tanyaku lagi.

“Gak juga’. Jawabnya.

“Ini jawaban seorang pendukung AB ya?” Kataku sambil tertawa ringan.

“Bukan mas, madia itu netral’. Katanya sembari tertawa juga.

“Siapa nih yang elektabilitasnya paling tinggi?”. Tanyaku memancing diskusi pilpres

Tapi Hendro menjawab secara diplomatis dan berputar-putar, intinya dia tidak mau diajak diskusi soal politik..

Gerimis kembali turun membuat umbul-umbul yang menampilkan gambar Walikota dan Band Ibukota turgulung dan basah kuyup. Kata orang kalau hujan mengguyur pada Jumat pagi biasanya akan awet sepanjang hari, mitosnya seperti itu.

Apakah jika hujan mengguyur deras, panitia pelaksana akan mendatangkan pawang hujan untuk mengusir hujan?, entahlah.

Hendro minta diantar ke gerbang barat stadion. Di pintu masuk Stadion, aparat kepolisian dan TNI sudah mulai bersiap-siap melaksanakan tugasnya, berbaris di kiri kanan jalan masuk stadion.

Kami berhenti tepat di pintu masuk sebelah Barat Stadion, Hendro memberiku tip uang lima ribuan dan mengucap salam perpisahan. Aku menyelesaikan order pada aplikasi ojol di layar Hapeku, tapi beberapa detik kemudian aplikasi itu kembali berbunyi, orderan baru telah menanti.

Inilah Madrasah Driver Ojol, tempat menggali pelajaran dan mengambil hikmah kehidupan melalui sentuhan langsung dengan realitas sosial yang dipenuhi berbagai watak dan karakter yang berbeda, bukan untuk saling membedakan tetapi untuk saling memahami.*

Selengkapnya...
Back to top button