Ekonomi

Lockdown Kaltim Pukul Roda Ekonomi

Report: Dwi I Editor: Faisal

TIMUR MEDIA – Dalam dua hari berturut-urut, 6-7 Februari 2021, seluruh kota/kabupaten di Kaltim menerapkan lockdown akhir pekan. Dari sisi fluktuasi kasus, karantina wilayah yang kemudian dinamai Kaltim Silent ini belum dirasakan dampaknya. Sebab, hasilnya tidak bisa langsung instan.

Namun, dari sisi finansial, dampaknya telah memukul roda ekonomi.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, Andi Sri Juliarty, dampak kebijakan itu baru bisa dilihat paling cepat sepekan ke depan. “Dampak implementasi Instruksi Gubernur baru dapat kita lihat tujuh sampai 14 hari yang akan datang,” ujar Dio, sapaan karibnya.

Dio menilai, gambaran penularan pasien terpapar terjadi sekitar satu sampai dua pekan. Sebab masa inkubasi Covid-19 rerata selama 14 hari. Selain itu hasil pemeriksaan laboratorium PCR yang dirilis kemarin dan tadi sore adalah pemeriksaan yang dilakukan pasien pada  2-4 Februari 2021.

Hasil itu terjadi sebelum diterapkan lockdown akhir pekan, sehingga tidak bisa dijadikan tolok ukur.”Nggak bisa menilai dua hari libur di rumah, kasus besoknya langsung turun,” jelasnya.

Dampak kurva kasus Covid-19, memang belum bisa dirasakan. Tetapi, dampak ekonomi sudah tampak bahkan saat hari H penerapan kebijakan itu. Masyarakat, terutama pedagang kecil yang paling merasakan dampaknya. Sebab mereka mengandalkan pendapatan harian. Semisal pedagang pasar.

Bahkan pada Senin 8 Februari 2021, ratusan pedagang pasar Taman Rawa Indah Bontang, menggelar demonstrasi di depan Kantor UPT Pasar, di lantai empat pasar Tamrin.

Para pedagang pasar itu menilai pemerintah Bontang melakukan pembiaran dan seolah tebang pilih saat menerapkan Kaltim Streril. Mereka yang ada di luar pasar dibiarkan tetap berjualan. Sedangkan pedagang pasar Tamrin dilarang berjualan.

“Ini tidak adil namanya. Kenapa hanya kami yang di pasar dilarang. Yang di luar pasar dibiarkan,” ujar Sekretaris Asosiasi Pasar Tamrin Bontang, Muhammad Saleh. Mereka pun menuntut lockdown akhir pekan dihentikan.

“Kalau Sabtu dan Minggu nanti masih seperti ini maka kami akan tetap berjualan juga. Kalau pasar tutup, maka kami akan membuka paksa pasar ini,” ujarnya. Dampak finansial dirasakan pula para pengusaha middle up, terutama yang bergerak dalam bidang perhotelan.

Tak terkecuali para pengusaha hotel di Kabupaten Paser.

Manager Hotel Kyriad Sadurengas Alle Mahrus,  mengatakan hari Sabtu dan Minggu pihaknya membatalkan dua agenda kegiatan. Padahal Sabtu dan Minggu adalah hari yang biasanya menjadi andalan bagi pengusaha hotel. Sebab, di akhir pekan inilah para tamu berdatangan.

“Pemberlakuan instruksi gubernur merugikan kami selaku pengusaha, mestinya cukup penerapan prokes ketat tidak perlu larangan ke luar rumah,” keluh Alle Mahrus, Senin.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button