Nasional

Kurikulum Prototipe Diterapkan Bertahap

Report: Ryan I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – Kurikulum prototipe yang digodok Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mulai diterapkan di 2.500-3.500 sekolah penggerak. Pemberlakuan kurikulum ini bertujuan mewujudkan program Merdeka Belajar bagi siswa dan guru. Penerapan dilakukan bertahap.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek, Anindito Aditomo mengatakan, soal perubahan kebijakan dan kurikulum setiap pergantian menteri memang sering menjadi sorotan.

Menurutnya untuk memperbaiki kurikulum perlu diganti. Hal ini untuk menaruh perhatian pada isu kotemporer. Dalam kurikulum bari ini, tujuan pembelajaran di semua jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi dirumuskan dalam Profil Pelajar Pancasila sebagai wujud Merdeka Belajar.

”Jadi, pendidikan harus bisa memberikan pengalaman belajar seperti apa yang bisa membentuk Pelajar Pancasila,” ujar Anindito, belum lama ini.

Profil Pelajar Pancasila dijabarkan dalam enam karakter. Karakter beriman, yaitu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak memiliki elemen akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara.

Lalu, bergotong royong (kolaborasi, kepedulian, dan berbagi); bernalar kritis (memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksikan pemikiran dan proses berpikir mengambil keputusan).

Berikutnya, berkebinekaan global (mengenal dan menghargai budaya, kemampuan berkomunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi, tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan); mandiri (kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri); dan kreatif (menghasilkan gagasan orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal).

Menurutnya, proses pembelajaran saat ini menghadapi tantangan dalam pengembangan nalar karena berbasis konten. Akibatnya, guru kejar tayang saat menyampaikan materi.

”Yang penting materi sudah disampaikan, hafal, pas ujian siswa bisa menjawab. Tidak masalah setelah itu lupa,” ujarnya.

Padahal, pendidikan sekarang bukan banyaknya informasi yang disampaikan guru di tiap mata pelajaran karena semua itu sudah banyak di internet. Justru kemampuan berpikir dan kepedulian, kompetensi dan karakter yang dibutuhkan.

“Merdeka Belajar menuju ke situ, yakni mentransformasi pembelajaran dari penyampaian materi dan ujian menjadi proses dan kualitas pembelajaran untuk membangun kompetensi, nalar, dan karakter,” jelas Anindito. Perbaikan di kurikulum prototipe, antara lain, diterapkan dengan 20-30 persen dari jam pembelajaran dalam satu tahun yang mengerjakan proyek dalam kelompok untuk mengatasi masalah nyata di sekitar.

Salah satu contoh proyek terkait lingkungan di sekolah dasar dicontohkan Kemendikbudristek dengan nama Cerdik Kelola Sampah Plastik. Proyek satu semester ini dimulai dari pengenalan sampah plastik dan dampaknya, daur ulang, sampai pengumpulan data dan asesmen formatif tentang penyajian data.

Siswa melakukan observasi untuk mengumpulkan data dan memaknai problem sampah plastik di sekitar mereka. ”Jadi siswa mengalami sendiri isu yang dipelajari secara langsung,” ujarnya.

Pemerintah berencana menerapkan Kurikulum Prototipe pada tahun 2022. Kurikulum ini mendorong pembelajaran yang sesuai kemampuan siswa dan bisa memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar.

Kurikulum prototipe diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button