Mozaik

Kunci Kesuksesan Pemerintahan Sayyidina Umar

Jujur dan shalih menjadi prinsip utama Sayyidina Umar bin Khattab mengangkat pegawainya.

TIMUR MEDIA – Khalifah Umar bin Khaththab tak sembarangan mengangkat pegawai. Ia memiliki persyaratan cukup ketat. Hal inilah yang menjadikan pemerintahan Umar dikenal bersih dan cemerlang.

Dikutip dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Erwandi Tarmizi, persyaratan sifat jujur dan shalih menjadi prinsip utama Sayyidina Umar bin Khattab mengangkat pegawainya. Selama pemerintahan beliau setiap gubernur atau pegawai kepercayaannya adalah sahabat Nabi dari golongan Muhajirin dan Anshar. Ia tahu bahwa generasi ini telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ia yakin apabila Allah telah meridhai mereka dalam agamanya, maka urusan dunia pun bisa ditangani sesuai jalan-Nya. Firman Allah, “Orang-orang yang terdahulu Iagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-Iamanya. Mereka kekal di dalamnya. ltulah kemenangan yang besar” (At Taubah: 100).

Di samping itu, Umar kerap menguji kezuhudan para gubernurnya. Sifat zuhud dan tidak tamak dengan gemerlap dunia dapat menciptakan pegawai dapat bersikap jujur, bersih dan tidak korup. Dengan demikian, memilih calon pegawai yang zuhud merupakan kunci dalam pemberantasan korupsi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan untuk mengangkat pegawai yang jujur dan dapat dipercaya. Begitu juga dengan Nabi turut menganjurkan hal yang serupa.

Imam Bukhari dalam kitab shahihnya dalam pembahasan tentang ijarah (upah-mengupah) memulai dengan pembahasan: “Mengangkat seorang yang shalih menjadi orang upahan” sambil menuliskan hadis Nabi, “Seorang yang jujur yang dipercayakan untuk mengantarkan sedekah kepada orang yang berhak menerimanya, ia mendapatkan pahala bersedekah juga, jika ia ikhlas melakukannya”.

Sistematika Imam Bukhari dalam penyusunan hadis Nabi ini menunjukkan bahwa mengangkat orang yang jujur dalam sebuah tugas merupakan persyaratan penting agar tugas itu terlaksana sebagaimana mestinya. Seorang yang dibebani sebuah tugas yang mulia jika ia ikhlas melakukannya, selain mendapat upah dari pengguna jasanya ia juga mendapatkan pahala dari misi kebajikan yang dijalankannya.

I Islam Digest

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button