Balikpapan

Kronologi Kematian Herman Balikpapan

Report: Taufik Hidayat I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – Warga Balikpapan tidak terima satu anggota keluarganya, Herman, meninggal dengan luka di sekujur tubuhnya setelah ditangkap anggota polisi Polresta Balikpapan.

LBH Samarinda membeberkan kronologi meninggalnya Herman seorang tahanan di Polresta Balikpapan. Herman dijemput saat tak berbaju sebelum kemudian dinyatakan tewas. Hal itu diungkap LBH Samarinda dalam keterangan pers mereka yang dikutip Minggu 7 Januari 2021.

LBH menyebut Herman meninggal sudah dua bulan lalu, tapi hingga saat ini keluarga belum mengetahui penyebab Herman meninggal. “Pihak keluarga korban yang tidak terima atas kematian Herman, yang belum 24 jam ditahan di Polresta Balikpapan itu, terus berusaha mencari informasi mengenai musabab tewasnya korban,” jelas Tim Advokasi LBH Samarinda, Fathul Huda Wiyashadi.

Menurutnya, korban dipulangkan tidak bernyawa dengan penuh luka di sekujur tubuh yang masih mengeluarkan darah segar. Namun keluarga tidak mendapat informasi jelas mengenai sebab mengapa Herman disiksa hingga tewas. Pihak keluarga pun melaporkan kasus ini ke Propam Polda.

Fathul Huda mengungkapkan kronologi meninggalnya Herman, saat mulai dijemput polisi sampai diantarkan dalam kondisi tak bernyawa.

Menurutnya, pada 2 Desember 2020 pukul 21.00 Wita, Herman diboyong orang tidak dikenal ke luar rumah. Saat itu Herman tak mengenakan baju, bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek hitam.

Pada 3 Desember 2020 pukul 22.00 Wita, pihak keluarga Herman mendapat informasi jika Herman telah meninggal dunia. Menurut informasi awal dari anggota Polresta Balikpapan, sesaat setelah kabar meninggalnya korban, lantaran korban sempat buang air dan muntah-muntah setelah diberi makan, dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit.

Saat mendapat informasi kematian itu, pihak keluarga ingin melihat jasad Herman, namun salah satu polisi mengatakan jenazah Herman masih di Rumah sakit. Saat keluarga hendak berangkat ke rumah sakit beberapa anggota polisi disebut menghalang-halangi.

“Ketika keluarga ingin ke rumah sakit, anggota polisi yang lain seakan mencoba menghalang-halangi dengan mengatakan tidak ada dokter yang berjaga di rumah sakit karena sudah tengah malam,” ujar Fathul.

Pada  4 Desember 2020 pukul 08.30 Wita, lanjut Fathul, jenazah Herman tiba di rumahnya dengan diantar personel Polresta Balikpapan. Pihak keluarga memutuskan membuka kafan pembungkus jasad korban, dan ditemukan luka sayatan di hampir seluruh tubuh korban dengan darah segar yang masih mengalir, serta lebam dan luka lecet di bagian punggung korban.

Fathul mengungkapkan saat ini keluarga Herman telah mengadukan hal ini ke Propam Polri, namun hingga saat ini belum ada perkembangan atas kasus ini.

Hingga akhirnya, keluarga memasukkan pengaduan pembunuhan terhadap Herman kepada Direktorat Reserse Kriminal Umum dan ditembuskan kepada Bidang Propam Polda Kaltim.

LBH Samarinda, yang mendampingi keluarga Herman, berharap Polda Kaltim dapat mengusut kasus ini. LBH Samarinda meminta polisi memberhentikan oknum polisi yang terbukti terlibat melakukan kekerasan kepada Herman hingga meninggal dunia.

“Dengan ditempuhnya langkah hukum berupa pengaduan kepada Polda Kaltim diharapkan ada titik terang, dan kepastian penegakan hukum yang berkeadilan,” jelasnya.

Ia mengatakan, dengan bergulirnya pengaduan ini diharapkan kepada jajaran pejabat Polda Kaltim untuk melakukan hal-hal berikut:

Pertama, mengusut tuntas kasus tewasnya korban dengan penuh tanggung jawab dan transparan. Kedua bila terdapat keterlibatan oknum anggota kepolisian, agar segera melakukan tindakan penegakan hukum dan melakukan pemberhentian secara tidak hormat kepada oknum kepolisian yang terlibat.

“Ketiga, tidak melakukan upaya baik teror, intimidasi, dan pengancaman terhadap keluarga korban, serta seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pengungkapan kejahatan ini,” ujar Fathul.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button