Balikpapan

Korona Hantam Kehidupan Pedagang Kaki Lima

Report: Zen| Editor: Teguh

TIMUR MEDIA – Memasuki pekan kedua penerapan work form home atau bekerja dari rumah. Dampaknya mulai berimbas pada kehidupan pekerja harian di Balikpapan. Terutama pedagang kecil di jalanan.

Kebijakan work form home ini instruksi pemerintah pusat yang diteruskan ke pemerintah Balikpapan. Tujuannya sebagai upaya memutus potensi penyebaran virus korona atau Covid-19.

Namun, berdiamnya masyarakat di rumah menjadi pukulan bagi pedagang kecil. Para pedagang kaki lima mengalami anjloknya omset penjualan lantaran sepinya pembeli.

Hal ini dirasakan Yudi, pedagang cendol yang biasa mangkal di depan Telkom, kawasan Ringroad MT Haryono.

Ia mengisahkan, dalam kondisi seperti ini alih-alih mereguk keuntungan. Modalnya saja tidak kembali.

”Saya biasa modal buat satu hari itu Rp 150 ribu, Mas. Jualan dari pagi sampai malam, yaa gak balik modal di saat sepi gini,” tutur Yudi, ditemui Jumat, 27 Maret 2020.

Ia pun sedikit cemburu pada karyawan yang bisa mendapat pemasukan rutin bulanan. Apalagi kerjaannya bisa dilakukan dari rumah. Berbeda dengannya yang harus keluar untuk mengadu nasib mencari calon pembeli.

“Pekerja kantoran sih bisa kerja dari rumah, tapi kalau jualan gini, mana bisa Mas” lirih Yudi, dengan asa yang masih tersisa.

Yudi berbagi kegetiran hidupnya. Ia mengaku memiliki banyak kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

“Tagihan juga banyak Mas, buat modal usaha juga saya harus meminjam ke koperasi. Pendapatan gak sebepara tapi tiap hari di tagih sama koperasi,” ujar Yudi, mengeluarkan kejumudan di kepalanya.

Tak hanya Yudi. Dampak diamnya masyarakat di rumah turut dialami Suparni, penjual nasi kuning yang lapaknya berdekatan dengan Yudi.

Menurut Suparni, untuk berjualan di waktu sebelum meledaknya korona, ia biasa memasak 6-7 kilogram. Tapi sejak virus menyerang dan masyarakat diimbau untuk di rumah, sumber pendapatannya turut kehantam.

“Sekang cuma bisa masak 3-4 kilogram aja, itu pun kadang gak habis. Padahal biasa saya jualan dari pagi sampe jam 10 an sudah habis, tapi sekarang ini sampe tengah hari pun belum habis,” tutur Suparni, yang ikut berbagi keluhnya.

Ia melanjutkan, “Karena pelanggan saya itu biasa orang kantor yang berangkat kerja, jadi mereka beli sarapan di sini. Tapi kan sekarang kerja dari rumah semua,” ucapnya.

Segendang sepenarian. Yudi dan Suparni tak sendiri. Korona juga menghantam kehidupan pedagang kaki lima lainnya.

Pak Sumaji, seorang pedagang kue keliling. Ia mengutarakan jika keadaan ini sangat merugikan bagi kehidupannya.

“Saya jualan dari Gunung Malang mulai pagi, biasa jalan sampai tennis indoor di Bjbj. Kadang kalau gak habis, lanjut sampai Polda,” terangnya.

Yudi, Suparni dan Sumaji punya asa sama. Mereka berharap ada kebijakan dari  pemerintah untuk mendapat kompensasi dari kebijakan work form home, yang mengakibatkan minimnya pembeli.

admintimurmedia | Timur Media | Referensi Baru Driver online berharap bantuan Pemkot Balikpapan. (TM)

Tapi, alih-alih mendapat kompensasi. Mereka didata saja tidak. Hal ini juga dikeluhkan Taufik, driver GoCar.

“Kompensasi apa, gak ada. Dari pemerintah pusat atau Pemkot Balikpapan gak ada. Tidak ada juga pendataan bagi pekerja harian terdampak seperti kami,” keluhnya, Minggu 29 Maret 2020.

Ia mengaku pendapatannya anjlok lebih 50 persen. Biasanya per hari bisa dapat Rp 400 ribu.

“Sekarang cari Rp 200 ribu saja susah banget. Kalau dapat sudah sangat bersyukur,” ungkapnya. Penurunan omset itu dirasakan usai pemberlakuan work form home.

“Ya setelah adanya instruksi kerja dari rumah, jadi sepi. Pada libur. Kalau ASN yang diliburkan enak tetap mendapat gaji dan tunjangan tanpa potongan,” ujarnya.

Ia pun berharap, pemerintah bisa ikut membantu kehidupan masyarakat yang terdampak ekonomi.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button