Editorial

Korona, Angka dan Fakta

Masyarakat dunia, dalam tiga bulan terakhir, terus membicarakan virus korona atau Covid-19. Sejak ledakan awal di Wuhan Cina pada Januari 2020, sampai hari ini jumlah terinfeksi terus meningkat.

Data Worldometer yang memantau update korona di 159 negara, merinci per Sabtu 28 Maret 2020 tercatat ada 650.296 kasus, 30.226 kematian dan 139.555 pasien terinfeksi korona yang sembuh.

Di Indonesia, per Jumat 27 Maret 2020 sore, jumlah terinfeksi virus korona tercatat 1.046 kasus. Dari angka tersebut, 913 pasien masih dalam perawatan, 46 sembuh, dan 87 di antaranya meninggal dunia.

Selang sehari atau per Sabtu, jumlah kasusnya meningkat jadi 1.155 orang kasus. Korban yang meninggal dunia sebanyak 102 orang dan pasien sembuh 59 orang.

Kalau melihat data dua hari terakhir di Indonesia, antara 27 dan 28 Maret 2020. Terjadi peningkatan 100 lebih kasus terinfeksi, 15 kematian dan 13 pasien sembuh. Fluktuasi angka ini hanya terjadi dalam rentang sehari.

Hanya dalam sehari terjadi 100 kasus baru dan 15 kematian. Penyebarannya tak main-main. Begitu cepat. Kasusnya terus meningkat.

Di Kaltim sendiri per 28 Maret tercatat ada 17 kasus. Di hari sama terjadi penambahan enam kasus baru di Balikpapan. Pergerakan kasus di Kaltim relatif cepat. Selang tiga hari kosong, lalu muncul enam kasus baru. Jika dirata-rata, sehari ada dua kasus tambahan.

Dari 17 kasus positif itu tersebar di Balikpapan menjadi 12 kasus, Kutai Kartanegara 1 kasus, Kutai Timur 2 kasus, Bontang 1 kasus dan Samarinda 1 kasus. Beruntung tidak ada yang meninggal dunia. Jangan sampai terjadi.

WHO dan Ikatan Dokter Indonesia, menegaskan tingkat kesembuhan korona mencapai 97 persen. Tingkat kematiannya hanya tiga persen.

Tingkat kematian korona lebih rendah dibanding SARS 10 persen, Mers 34 persen dan virus Marburg 90 persen. Sedangkan untuk penyakit menular dengan tingkat kematian tertinggi di dunia tetap dipegang: tuberkolosis, DBD dan HIV. Ini mengacu data WHO.

Untuk korona yang tingkat kematiannya di dunia, rerata hanya tiga persen seolah ada pengecualian. Yakni tidak berlaku untuk Italia. Di sana tingkat kematiannya 10 persen. Di Indonesia delapan persen

Padahal di Vietnam, Sri Lanka, Kamboja, dan Nepal tingkat kematiannya nol persen. Tingkat kesembuhannya 100 persen. Artinya seluruh pasien terinfeksi korona sembuh total. Tidak ada kasus kematian. Data ini berasal dari pemantauan John Hopkins.

Lalu, kenapa tingkat kematian korona di Indonesia tinggi?

Menurut Komite Ahli Tuberkolosis Indonesia, Dr Pandu Riono MPH, PhD, dalam konferensi pers 24 Maret 2020 mengungkap: korban wafat didominasi penyakit bawaan. Seperti tuberkolosis, asma, diabetes, dan penyakit bawaan lain.

Hal sama diungkapkan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, dalam konferensi pers daring #FKUIPeduliCovid19, Jumat 27 Maret 2020.

Korban yang wafat dipengaruhi penyakit bawaan, faktor usia, telat penanganan, dan lainnya. Dengan kata lain, korona bukan lah satu-satunya faktor penyebab kematian.

Namun dipengaruhi faktor usia dan penyakit bawaan. Ini serupa dengan korban kematian di Wuhan Cina dan Italia.

Artinya data WHO dan IDI yang menyebut tingkat kematian korona hanya tiga persen dan tingkat kesembuhan 97 persen, masih masuk akal. Kasus berbeda hanya terjadi di Italia dan Indonesia, yang tingkat kematiannya terbilang tinggi.

Yang ternyata tetap dipengaruhi faktor penyakit penyerta atau bawaan dan usia. Korban yang wafat bukan lah disebabkan faktor tunggal terinfeksi korona. Sebaliknya meski penyebarannya sangat cepat tapi tingkat kesembuhannya tinggi.

Sayangnya, publik hanya fokus pada korban kematian tanpa menelisik penyebab utamanya. Akhirnya menimbulkan kepanikan berlebihan, yang justru bisa memicu menurunnya imunitas tubuh.

Saat imun melemah, bukan saja berpotensi terserang korona tapi juga penyakit lain yang bahkan lebih berbahaya dari korona. Yang paling krusial dilakukan saat ini menjaga ketenangan sikap dan meningkatkan imunitas tubuh.

Ahli Virologi, drh Mohammad Indro Cahyono, mengingatkan masyarakat untuk memperbanyak vitamin C dan E. Selain itu rajin mencuci tangan dan membiasakan pola hidup bersih.

Menurutnya di bagian dalam tubuh manusia telah memiliki sistem kekebalan yang diperantarai oleh sel memori.

Sehingga jika seseorang terinfeksi maka tubuh akan mengembangkan sistem kekebalannya dalam tujuh hari dan 14 hari. Selanjutnya berangsur-angsur pulih kembali.

Maka, jangan panik berlebihan. Tapi tetap waspada dan menghindari kerumunan manusia untuk memutus mata rantai virus. Sekaligus meningkatkan imunitas tubuh dengan buah, bahan-bahan alami dan vitamin C.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button