Ibu Kota Baru

Konsep Forest City Harus Dimatangkan

2019

Hutan Kalimantan, paru-paru dunia. (net)

TimurMedia.com:

Editor: Faisal

TIMUR MEDIA – PEMERINTAH patut memahami karakteristik Kalimantan sebagai paru-paru dunia.

Karena itu, dalam pemindahan ibu kota baru konsep forest city perlu dimatangkan.

“Jangan sampai pemindahan ibu kota malah menggeser fungsi hijau di Kalimantan. Jadi, konsep forest city harus dibahas matang sehingga pembangunannya baru bisa mengedepankan aspek lingkungan.”

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) Andy Simarmata, seperti dilaporkan MI, belum lama ini.

Konsep forest city yang dimaksud Andy, pemerintah harus memikirkan kondisi hutan di Kalimantan. Bukan hanya meningkatkan persentase lahan hijau, melainkan distribusi dan penataan jalur hijau di ibu kota baru.

Ia menyarankan pemerintah bisa belajar dari New York AS, yang menghadirkan taman berskala besar, yakni Central Park, di tengah kota. Selain itu perlu melihat pengembangan jalur hijau di pinggiran kota di London, Inggris.

“Di sini paling penting ialah letak jalur hijau, bukan persentasenya. Bagaimana suhu kota dapat distabilkan dengan penjagaan jalur hijau,” ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Andy, tidak terjadi kenaikan suhu signifikan saat adanya pergerakan angin dari tinggi ke rendah. Apalagi, ekosistem Kalimantan didominasi rawa.

“Jadi, perspektif pembangunan harus terkait dengan lingkungan,” katanya. Beberapa aspek lain berkaitan konsep forest city yakni populasi hewan dan tanaman, serta teknologi pendukung ramah lingkungan.

Andy mengingatkan, jadi bukan hanya memperhatikan populasi manusia yang mengisi wilayah ibu kota baru.

“Kota berskala besar itu tak selalu berbanding lurus dengan banyaknya jumlah penduduk. Tidak selamanya kota besar itu penduduknya banyak,” terangnya.

Menurutnya di berbagai penjuru dunia, banyak kota besar justru kota menengah dengan penduduk sekitar 500 ribu-1 juta jiwa. Washington DC sebagai ibu kota AS, memiliki populasi kurang dari satu juta jiwa. Bonn di Jerman hanya 600 ribu orang.

“Padahal pertumbuhan ekonominya tinggi,” ujarnya. Ia juga mengingatkan, skenario pembangunan ibu kota baru perlu memproyeksikan pertumbuhan wilayah pada rentang waktu tertentu.

Nantinya penataan ruang ibu kota baru turut menyiapkan potensi pertumbuhan alami serta daya dukung seperti pemindahan populasi.

Pada September lalu, di Jakarta sempat dihelat Kongres Perencana Dunia (International Society of City and Regional Planners/ISOCARP) ke-55. Kongres itu dihadiri 30 wali kota, 500 pakar dan perencana tata kota dari 44 negara.

Salah satu agendanya, sebagai upaya untuk memberi masukan kepada pemerintah terkait dengan perencanaan serta pembangunan kota, termasuk ibu kota baru yang mengutamakan aspek keamanan, kenyamanan, dan berkelanjutan.

|Sumber: Media Indonesia

Most Popular

To Top