Kesehatan

Komorbid Korona: Antara Teori dan Realita

Komorbid ini menjadi faktor risiko bagi beberapa pasien.

Diasuh oleh: dr. Leli Hesti, MKK, akademisi & praktisi kedokteran.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menjadi relawan medis dalam gugus tugas percepatan penanganan Covid di bawah BNPB. Saya dengan rekan relawan lain di tempatkan di sebuah RS di Jakarta.

Kami tentu saja kontak langsung dengan para pasien Covid yang sudah terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan swab nasopharynx dengan PCR. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga dan memberi saya pengetahuan dan view baru untuk penyakit ini.

Walaupun waktunya tidak terlalu lama, tapi saya mencermati beberapa hal sehubungan dengan Covid ini. Beberapa pasien yang positif datang tanpa gejala sama sekali, yang lain dengan gejala seperti demam dan batuk, atau gejala lain seperti diare sementara pasien lain datang dalam keadaan yang lebih berat seperti sesak nafas.

Walaupun tanpa gejala, namun dari pemeriksaan swab beberapa kali tidak menunjukkan hasil negatif. Setelah hampir 5-6 kali bahkan 8 kali pemeriksaan, hasil swab masih menunjukkan positif. Bisa dibayangkan rentang waktu yang dihabiskan pasien untuk dirawat.

Berita baiknya adalah pasien ini memang kemudian betul-betul sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah. Sementara itu, pasien lain dalam beberapa hari sudah menunjukkan gejala perburukan dan kemudian memang harus ber”pulang”, menghadap Sang Pencipta..

Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan sebenarnya faktor apakah yang membedakan hal tersebut diatas. Kenapa dengan virus yang sama, namun memberikan outcome yang berbeda-beda. Bahkan dalam 1 keluarga!

Perawatan pasien Covid-19. (dokpri)

Mungkin sebelumnya kita sering mendengar istilah komorbid yang membuat perjalanan penyakit pada Covid 19 menjadi berbeda. Komorbid ini menjadi faktor risiko bagi beberapa pasien. Apa sajakah faktor risiko tersebut? Saya mencoba mencari teori beberapa faktor risiko yang menjadi komorbid dan mencoba membandingkan nya dengan pengalaman di lapangan.

Tentu saja ini hanya perbandingan secara “mentah” karena saya tidak menghitung dengan pasti  dan atau membuat analisa statistik kemarin. Boro-boro lah bikin analisa,  kami kemarin sudah sangat kelelahan ditambah dengan pemakaian APD lengkap yang membuat kami tambah lelah, plus masuk angin karena harus sering-sering mandi setelah kontak dengan pasien.

Well, kembali ke bahasan diatas.. jadi faktor risiko apakah yang yang membuat  gejala Covid-19 ringan untuk beberapa orang, namun mematikan bagi orang lain? Dan bagaimanakah kenyataan di lapangan?

  1. Usia tua vs muda

Usia adalah salah satu faktor risiko. Dibandingkan dengan pasien yang lebih muda, yang berusia setengah baya dan lebih tua jauh lebih mungkin untuk mengalami gejala, dirawat di rumah sakit dan meninggal.

Menurut U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika menyebutkan sekitar 8 dari 10 kematian yang terkait dengan Covid-19 di AS telah terjadi pada orang dewasa berusia 65 tahun dan lebih tua.

Risiko meninggal akibat infeksi, dan kemungkinan memerlukan rawat inap atau perawatan medis intensif, meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia. Misalnya, orang dewasa berusia 65-84 tahun diperkirakan sekitar 4-11% dari kematian Covid-19 di AS, sementara orang dewasa berusia 85 tahun ke atas mencapai 10-27%.

Realita:  pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa pasien Covid yang kami rawat dengan usia tua memang lebih banyak yang menunjukkan perburukan gejala sampai meninggal  dibanding usia muda.

Keterangan: Kecenderungan ini mungkin disebabkan oleh fakta bahwa banyak orang lanjut usia memiliki kondisi medis kronis, seperti penyakit jantung dan diabetes, yang dapat memperburuk gejala Covid-19.

Selain itu kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kuman patogen juga menurun dengan bertambahnya usia, membuat orang lanjut usia rentan terhadap infeksi virus yang parah.

  1. Pria vs Wanita

Para peneliti di Cina menemukan bahwa 58% pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 adalah laki-laki; ada komposisi yang serupa pada pasien di AS dan Italia.

Kemungkinan laki-laki dan perempuan untuk terinfeksi  Covid-19 kira-kira sama, tetapi di sebagian besar negara laki-laki lebih mungkin meninggal karenanya. Di Italia dan Irlandia, misalnya, laki-laki menyumbang sekitar 70% dari kematian Covid-19.

Realita: jumlah pasien pria dan wanita yang datang hampir sama banyaknya dan yang memburuk kondisinya pun komposisinya juga tidak jauh berbeda.

Keterangan: Bahwasanya pria lebih banyak yang terkena penyakit ini sampai meninggal disebabkan oleh beberapa hal. Sebuah teori menyebutkan bahwa pria umumnya dianggap memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah dan cenderung memiliki masalah kesehatan yang lebih mendasar daripada wanita; dua kromosom X wanita mungkin memiliki kualitas perlindungan yang lebih terhadap sejumlah kondisi.

Namun hal lain yang menjadi faktor pemberat adalah karena kebiasaan sosial pria misalnya jumlah pria jauh yang lebih banyak merokok dan cenderung minum alkohol. Kedua hal ini ditengarai menjadi hal  yang melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap terjadinya infeksi pernafasan seperti pneumonia.

  1. Obesitas vs Tidak Obes

CDC nya  Eropa melaporkan bahwa 73% pasien yang sakit kritis dengan Covid-19 di Italia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Belanda mengalami obesitas. Sebuah jurnal menyebutkan bahwa risiko kematian di rumah sakit terkait coronavirus meningkat dari antara 1,5 hingga 2 kali untuk orang dengan indeks massa tubuh (IMT/BMI) 30.

Sebuah study dari Shenzhen, Cina, menemukan bahwa pasien Covid-19 yang obesitas lebih dari dua kali lebih mungkin untuk mengalami pneumonia berat dibandingkan dengan pasien yang berat badannya normal.

Beberapa laporan dari seluruh dunia mengidentifikasi obesitas sebagai faktor risiko rawat inap dan perlunya bantuan ventilator. Menurut organisasi Federasi Obesitas Dunia, bahwa  obesitas akan  menggandakan peluang kematian.

Realita: Ini mirip sekali dengan kondisi di lapangan..pasien yang gemuk atau obes di tempat kami kemarin, kondisinya lebih banyak yg memburuk.

Keterangan: Pasien obesitas dikaitkan dengan penurunan kapasitas paru-paru atau meningkatkan peradangan dalam tubuh. Sejumlah besar molekul peradangan yang bersirkulasi dalam tubuh dapat menyebabkan respons imun yang berbahaya dan menyebabkan penyakit parah.

Orang yang kelebihan berat badan memiliki apa yang dikenal sebagai keadaan pro-inflamasi/peradangan. Dengan obesitas berat ,maka sistem kekebalan tubuh kita bekerja lembur.

“Saat tubuh kelebihan jaringan lemak, ketika mencapai titik tertentu, mulai mengeluarkan  sebuah hormon yang membuat tubuh kita  berpikir bahwa hal tersebut adalah sebuah proses radang yang harus dilawan dan kalau ini berjalan kronis akan menghancurkan banyak sistem penting seperti ginjal, paru-paru, jantung, dan sebagainya.

  1. Diabetes Mellitus (DM) vs Tidak DM

Diabetes dan kadar gula darah  yang tidak terkontrol dilaporkan sebagai prediktor signifikan dari tingkat keparahan dan kematian pada pasien yang terinfeksi virus yang berbeda, termasuk di tahun 2009 saat  pandemic influenza A (H1N1) ,SARS-CoV dan MERS-CoV terjadi. Begitu juga dengan Covid kali ini.

Diabetes adalah faktor risiko rawat inap dan mortalitas infeksi Covid-19. Dalam studi lain dari 173 pasien dengan penyakit parah, 16,2% menderita diabetes, dan dalam studi lebih lanjut dari 140 pasien yang dirawat di rumah sakit, 12% memiliki diabetes . Angka mortalitas atau kematian juga  meningkat sekitar tiga kali lipat lebih tinggi pada orang dengan Covid19 dan  DM di Cina

Realita: Persis. No doubt, pasien-pasien Covid yang juga menderita DM situasinya kalau tidak memburuk kondisinya sampai meninggal, maka kalaupun gejala Covid tidak berat namun butuh waktu lama untuk sembuh. Situasi yang sama-sama tidak mengenakkan bukan?

Keterangan: Ada banyak teori mengapa hal diatas terjadi.  Pertama, sistem kekebalan tubuh terganggu, membuatnya lebih sulit untuk melawan virus dan kemungkinan mengarah ke periode pemulihan yang lebih lama.

Kedua, virus lebih banyak berkembang di lingkungan glukosa darah tinggi. Masalah lain  adalah infeksi akan menyebabkan hilangnya kontrol glikemik, dan pengobatan hiperglikemia juga lebih  sulit selama penyakit yang terjadi bersamaan dengan penyakit lain seperti Covid.

Selain itu, pada seseorang yang terkena  infeksi tersebut dapat menempatkan pasien  pada risiko yang lebih besar untuk komplikasi diabetes seperti ketoasidosis diabetik (KAD). KAD terjadi ketika keton menumpuk di dalam darah . Ini bisa sangat serius.

Beberapa orang yang terkena virus corona memiliki respons tubuh yang berbahaya, disebut sepsis. Untuk mengobati sepsis, dokter perlu mengatur kadar cairan dan elektrolit tubuh Anda. KAD menyebabkan tubuh kehilangan elektrolit, yang dapat membuat sepsis lebih sulit dikontrol.

  1. Mempunyai penyakit kardiovaskuler vs Tidak

Penyakit kardiovaskuler (Cardiovasculer disease/ CVD) adalah penyakit jantung dan pembuluh darah, misalnya Hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung dan sebagainya. Merupakan komorbiditas yang umum pada pasien dengan pendahulu Covid-19 seperti SARS dan MERS.

Pada SARS, prevalensi DM dan CVD adalah 11% dan 8%, masing-masing, dan adanya salah satu komorbiditas meningkatkan risiko kematian 12 kali lipat. DM dan hipertensi lazim pada 50% kasus  MERS.

Peningkatan kehadiran komorbid kardiovaskular juga berlaku untuk Covid-19, terutama di antara mereka yang memiliki penyakit yang lebih parah. Data dari Komisi Kesehatan Nasional China menunjukkan bahwa 35% dari pasien yang didiagnosis dengan Covid-19 memiliki hipertensi dan 17% memiliki penyakit jantung koroner.

Realita: Pasien yang mempunyai hipertensi / riwayat hipertensi faktanya butuh waktu yang lebih lama untuk sembuh.Begitu juga bila ada sakit jantung sebelumnya seperti gagal jantung maka kondisinya akan cepat memburuk. Salah satu pasien kami dengan riwayat gagal jantung pada akhirnya juga harus berpulang.

Keterangan: Pasien  dengan kondisi yang mempengaruhi sistem kardiovaskular, seperti penyakit jantung dan hipertensi, umumnya menderita komplikasi yang lebih buruk dari Covid-19 daripada mereka yang tidak memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya, menurut American Heart Association (AHA) .

Orang yang secara historis sehat juga dapat menderita kerusakan jantung akibat infeksi virus. SARS-CoV-2, coronavirus yang menyebabkan Covid-19, menginfeksi manusia dengan menempelkan dirinya pada reseptor tertentu di bagian luar sel yang disebut angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2), yang digunakannya untuk menyerang sel.

Jaringan jantung juga mengandung ACE2 — yang bisa diserang oleh virus secara langsung. Dalam satu skenario, dengan menyerang paru-paru secara langsung, virus dapat menguras pasokan oksigen tubuh ke titik di mana jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah teroksigenasi ke seluruh tubuh.

Pada beberapa orang, Covid-19 juga dapat memicu respons kekebalan yang berlebihan yang dikenal sebagai badai sitokin, di mana tubuh menjadi sangat meradang dan jantung dapat mengalami kerusakan sebagai akibatnya.

  1. Perokok vs Bukan Perokok

Orang yang merokok lebih rentan terhadap infeksi Covid-19 yang berarti mereka menghadapi risiko tinggi terkena pneumonia, menderita kerusakan organ, dan membutuhkan bantuan pernapasan.

Sebuah penelitian terhadap lebih dari 1.000 pasien di China, yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, menggambarkan tren ini: 12,3% dari perokok saat ini yang termasuk dalam penelitian dirawat di ICU, memerlukan bantuan  ventilator atau meninggal, dibandingkan dengan 4,7 % pasien yang bukan perokok.

Realita: Saya tidak menanyakan secara detail kebiasaan merokok ini kepada semua pasien, namun ada  pasien yang saya tahu punya riwayat merokok dan ternyata juga butuh waktu lebih lama untuk sembuh.

Keterangan: Asap rokok membuat tubuh rentan terhadap virus korona dalam beberapa cara.  Pada awalnya, perokok mungkin rentan terhadap infeksi virus karena paparan asap rokok melemahkan sistem kekebalan tubuh dari waktu ke waktu, merusak jaringan saluran pernapasan dan memicu peradangan kronis.

Merokok juga dikaitkan dengan banyak kondisi medis, seperti PPOK (penyakit paru obstruktif kronis) dan aterosklerosis, yang dapat memperburuk gejala Covid-19. Selain itu, data menunjukkan bahwa paparan asap meningkatkan jumlah reseptor ACE2 yang juga ada di jaringan paru-paru.

Selain faktor komorbid diatas, ada beberapa study yang menyebutkan bahwa faktor genetik dan golongan darah ikut berperan dalam menentukan perjalanan penyakit ini.

Begitu juga dengan viral load atau “dosis virus” yang ada dalam tubuh pasien. Namun saya tidak dapat menuliskannya disini, karena kurangnya data saya di lapangan tentang hal tersebut.

Namun demikian, berdasarkan fakta yang saya temui di RS kemarin, menunjukkan bahwa  hampir semua sama dengan  yang sudah disebutkan  di teori atau mirip-mirip dengan study/penelitian lain yang membahas mengenai faktor komorbid pada pasien Covid19.

Tentu saja perlu study lebih lanjut untuk memperkuat “temuan” ini dan tetap tidak menutup kemungkinan akan berbeda hasilnya dengan RS/tempat lain di Indonesia yang merawat pasien Covid.

Sebenarnya faktor komorbid ini saya yakin juga dapat memperburuk berbagai kondisi penyakit lain, tidak hanya pada pasien Covid. Oleh karena itu pesan moralnya adalah selalu menjaga tubuh kita tetap bugar agar kita tidak mempunyai faktor risiko komorbid seperti yang telah disebutkan diatas.

Memang ada beberapa hal seperti usia, genetik atau jenis kelamin yang tidak bisa kita ubah. Namun, untuk hal lain kita bisa berikhtiar seoptimal mungkin  agar kita tidak terkena diabetes, hipertensi, penyakit jantung atau obesitas dengan terus mengupayakan gaya hidup sehat atau menerapkan PHBS/perilaku hidup bersih dan sehat secara  rutin, sukarela, dan senang hati.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button