Nasional

Kode Wahyu Setiawan: Siap, Mainkan

Report: Ryan| Editor: Doni

TIMUR MEDIA – Komisioner KPU RI Wahyu Setiawan mengundurkan diri dari jabatannya seusai ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Keinginan itu ia sampaikan dalam sebuah surat yang ia berikan seusai pemeriksaan yang dilakukan penyidik KPK pada Jumat (10/1) dini hari.

Usai memberi surat dan pernyataan, Wahyu dibawa ke rutan Pomdam Jaya Guntur. Ia mengenakan rompi tahanan KPK dan kedua tangannya diborgol.

“Dengan saya telah ditetapkan sebagai tersangka, dalam waktu segera saya akan mengundurkan diri sebagai anggota KPU,” kata Wahyu dalam surat, yang diberikan pada wartawan, Kami dini hari.

Plt Jubir KPK Bidang Penindakan Ali Fikri mengatakan, ketiga tersangka bakal mendekam di sel tahanan masing-masing setidaknya selama 20 hari ke depan.

“Penahanan untuk 20 hari pertama,” kata Ali Fikri dikonfirmasi wartawan.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Wahyu Setiawan sebagai tersangka penerimaan suap terkait pergantian antarwaktu anggota DPR RI periode 2019-2024.

KPK juga turut menetapkan mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina, caleg DPR dari PDIP, Harun Masiku, serta seorang swasta bernama Saeful.

KPK menduga Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina menerima suap dari Harun dan Saeful.

Suap dengan total sebesar Rp 900 juta itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan KPU sebagai anggota DPR RI menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas, yang meninggal dunia pada Maret 2019.

Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar mengungkap adanya kode “siap mainkan” dalam percakapan antara Wahyu Setiawan dan mantan anggota Bawaslu, Agustiani Tio Fridelina.

Menurut Lili, Agustiani mengirimkan dokumen dan fatwa MA yang didapat dari caleg PDIP Saeful kepada Wahyu untuk membantu proses penetapan Harun yang juga politisi PDIP.

“Dan Wahyu menyanggupi membantu dengan membalas: ‘Siap, mainkan!’,” ujar Wakil Ketua KPK Lili Pintauli.

Ia menuturkan, dalam konstruksi perkara, saat Juli 2019, salah satu ‎pengurus DPP PDIP memerintahkan Doni mengajukan‎ gugatan uji materi tentang pemungutan dan penghitungan suara.

Gugatan itu terkait meninggalnya caleg terpilih PDIP Nazarudin Kiemas pada Maret 2019.

Gugatan kemudian dikabulkan Mahkamah Agung (MA) dan menetapkan partai adalah penentu suara dan PAW. Penetapan MA ini kemudian menjadi dasar PDIP bersurat ke KPU untuk menetapkan Harun Masiku sebagai pengganti Nazarudin Kiemas.

Namun, KPU dalam plenonya menetapkan Riezky Aprilia sebagai PAW.

Bermula dari hal tersebut, Saeful menghubungi Agustiana Tio Fredelina, mantan anggota Bawaslu yang juga orang kepercayaan Wahyu Setiawan.

Sebagai imbalan menjadikan Haris PAW, Wahyu meminta dana operasional Rp 900 juta.

“Pemberian dilakukan dua tahap, pertengahan dan akhir Desember 2019. Salah satu sumber dana (sedang didalami KPK) memberi uang Rp400 juta yang ditujukan pada WSE melalui ATF, DON dan SAE,” ujar Lili.

‎Wahyu menerima uang dari dari Tio sebesar Rp200 juta di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Akhir Desember 2019, Harun kembali memberi uang ke Saeful ‎Rp 850 juta melalui salah seorang staf di DPP PDIP.

“SAE memberikan uang Rp 150 juta pada DON. Sisanya Rp 700 juta yang masih di SAE dibagi menjadi Rp 450 juta pada ATF, Rp 250 juta untuk operasional.

Dari Rp 450 juta yang diterima ATF, sejumlah Rp 400 juta merupakan suap yang ditujukan untuk WSE, komisioner KPU,” terang Lili.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button