Balikpapan

Kematian Herman Balikpapan, Pelaku Divonis Ringan

Report: Ryan I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – Majelis hakim di Pengadilan Negeri Balikpapan, memvonis tiga tahun untuk lima terdakwa dan satu tahun untuk terdakwa penganiayaan yang menyebabkan tewasnya tahanan Polresta Balikpapan, Herman (39).

Majelis hakim diketuai S Pujiono dengan anggota Arif Wisaksono dan Arum Kusuma Dewi. Sedangkan keenam pelaku ditahan di Rumah Tahanan Balikpapan.

Adik Herman menilai hukuman itu sangat ringan dan tidak sepadan dengan kematian anggota keluarganya. Persidangan yang digelar secara daring itu digelar pada Kamis 9 Desember 2021.

Perwakilan anggota keluarga korban yang hadir di ruang sidang, yakni Dini (33), adik almarhum Herman, dan tiga anggota keluarga lain. Untuk para terdakwa, kuasa hukum, dan jaksa penuntut umum mengikuti persidangan melalui aplikasi Zoom.

Rondy Hermawan, salah satu terdakwa, menjabat Kepala Unit Kejahatan dan Kekerasan Polresta Balikpapan saat kejadian pada Desember 2020. Sedangkan terdakwa lain anggota polisi yang saat kejadian sedang tugas malam.

Mereka adalah Agung Siswoko, Asri, Rion Antonius Simanjuntak, Kiki Armando Rico, dan Gusti Romansyah.

Majelis hakim memvonis Rondy, Gusti, Agung, Rion, dan Asri dengan pidana penjara selama tiga tahun, sesuai Pasal 351 Ayat (3) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Di persidangan, mereka terbukti melakukan penganiayaan berat yang mengakibatkan seseorang meninggal.

Baca juga: Kasus Herman, Enam Polisi Dibebastugaskan

Gusti terbukti menggunakan staples untuk melukai telinga Herman saat melakukan interogasi. Adapun Agung, Rion, Rondy, dan Asri bergantian menyiksa almarhum Herman dengan selang air, tongkat, dan ekor ikan pari saat proses pemeriksaan, yang menyebabkan tahanan itu tewas.

Pujiono menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana. “Mereka yang melakukan, menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan, dengan sengaja melakukan penganiayaan berat yang mengakibakan mati,” kata Pujiono dalam persidangan.

Ada satu terdakwa yang dihukum lebih ringan. Yakni Kiki, yang divonis satu tahun penjara karena dalam fakta persidangan tidak terbukti menyiksa Herman. Ia hanya bertindak sebagai orang yang mengantar tim menjemput Herman. Tapi, majelis hakim menilai Kiki turut serta dalam tindakan yang menyebabkan Herman tewas.

Atas putusan hakim otu, para kuasa hukum terdakwa menyatakan pikir-pikir. Para terdakwa dan kuasa hukumnya punya waktu melakukan proses hukum selanjutnya atau menerima putusan dalam tujuh hari ke depan, terhitung mulai Jumat.

Keluarga mengaku akan berunding dengan anggota keluarga lain untuk menentukan langkah apa yang perlu dilakukan. Hukuman tiga tahun penjara dinilai terlalu ringan karena perbuatan terdakwa telah merenggut nyawa Herman. Motif penganiayaan sampai tewas pun belum diketahui.

Baca juga: Kronologi Kematian Herman Balikpapan

Diberitakan sebelumnya, pada 2 Desember 2020, Herman warga Balikpapan Utara, dijemput paksa tiga orang tak dikenal ke Polresta Balikpapan. Herman diduga mencuri gadget dengan dua alat bukti. Dua hari kemudian, Herman dipulangkan tak bernyawa dengan kondisi tubuh penuh luka, telinga berdarah.

Herman meninggal dengan luka di sekujur tubuhnya setelah ditangkap anggota polisi Polresta Balikpapan.

Saat itu, LBH Samarinda membeberkan kronologi meninggalnya Herman. Herman dijemput saat tak berbaju sebelum kemudian dinyatakan tewas. Hal itu diungkap LBH Samarinda dalam keterangan pers pada Minggu 7 Januari 2021.

LBH menyebut saat Herman meninggal keluarga belum mengetahui penyebab kematiannya. “Pihak keluarga korban yang tidak terima atas kematian Herman, yang belum 24 jam ditahan di Polresta Balikpapan itu, terus berusaha mencari informasi mengenai musabab tewasnya korban,” jelas Tim Advokasi LBH Samarinda, Fathul Huda Wiyashadi.

Menurutnya, korban dipulangkan tidak bernyawa dengan penuh luka di sekujur tubuh yang masih mengeluarkan darah segar. Namun keluarga tidak mendapat informasi jelas mengenai sebab mengapa Herman disiksa hingga tewas. Pihak keluarga pun melaporkan kasus ini ke Propam Polda.

Fathul Huda mengungkapkan kronologi meninggalnya Herman, saat mulai dijemput polisi sampai diantarkan dalam kondisi tak bernyawa.

Menurutnya, pada 2 Desember 2020 pukul 21.00 Wita, Herman diboyong orang tidak dikenal ke luar rumah. Saat itu Herman tak mengenakan baju, bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek hitam.

Pada 3 Desember 2020 pukul 22.00 Wita, pihak keluarga Herman mendapat informasi jika Herman telah meninggal dunia. Menurut informasi awal dari anggota Polresta Balikpapan, sesaat setelah kabar meninggalnya korban, lantaran korban sempat buang air dan muntah-muntah setelah diberi makan, dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit.

Saat mendapat informasi kematian itu, pihak keluarga ingin melihat jasad Herman, namun salah satu polisi mengatakan jenazah Herman masih di Rumah sakit. Saat keluarga hendak berangkat ke rumah sakit beberapa anggota polisi disebut menghalang-halangi.

“Ketika keluarga ingin ke rumah sakit, anggota polisi yang lain seakan mencoba menghalang-halangi dengan mengatakan tidak ada dokter yang berjaga di rumah sakit karena sudah tengah malam,” ujar Fathul.

Pada  4 Desember 2020 pukul 08.30 Wita, lanjut Fathul, jenazah Herman tiba di rumahnya dengan diantar personel Polresta Balikpapan. Pihak keluarga memutuskan membuka kafan pembungkus jasad korban, dan ditemukan luka sayatan di hampir seluruh tubuh korban dengan darah segar yang masih mengalir, serta lebam dan luka lecet di bagian punggung korban.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button