Editorial

Kekuatan Cinta

SEDIKIT perbedaan kita dengan para Waliyullah, dalam hal meminta pada Sang Maha.

Kebanyakan umat: memohon dengan sangat sungguh-sungguh saat mengalami ujian, terdesak kebutuhan dasar, dan atau keinginan yang sangat menggebu.

Ada sesuatu yang mendesak dulu, baru mencari, memohon serendah-rendahnya pada Sang Maha. Lantas, sangat berharap permohonan atau doa-doanya dikabulkan.

Waliyullah: setiap saat selalu ingat Sang Maha. Dalam ramai, sepi, terang, gelap, sadar, dan lelapnya. Jasadnya tidur, hatinya tak pernah istirahat untuk mengingat Nya.

Getaran hatinya selalu terkoneksi dengan server pusat Sang Kekasih. Karena begitu tahu sifat, dzat dan segala sesuatu tentang Sang Maha, yang di antaranya: maha Kasih, maha Cinta, maha Sayang, maha segala-galanya.

Dan sangat tahu, Sang Maha paling suka diminta, maka mereka memohon pada Nya. Memohon karena cinta, karena mengetahui sifat dan dzat-dzat Nya, karena maha segala Maha. Setelah meminta, ya sudah.

Meminta, memohon atau berdoa karena cinta. Karena Sang Maha cinta pada siapa saja yang meminta pada Nya, bersandar pada Nya. Maka mereka meminta. Tanpa ada keinginan dikabulkan. Terserah Allah, mau diijabah atau tidak. Meski amat jarang doa-doa Waliyullah yang tidak dikabulkan.

Inilah sekelumit perbedaan Waliyullah dan kita. Waliyullah bukanlah orang-orang sakti mandra guna, dan semisalnya. Mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. Tak ada kesedihan dan ketakutan dalam diri mereka.

Hari-harinya dipenuhi kebahagiaan. Dibanjiri kerinduan akan pertemuan dengan Allah dan Rasulullah. Dipenuhi doa-doa untuk kebaikan orang lain, keselamatan dan kebahagiaan umat. Pun dalam kondisi saat ini.

Kala fitnah akhir zaman berupa coro dan vak, tetap mampu menata jiwa. Tidak terbawa segala teror dan permainan yang dimainkan kaki tangan Dj. Tetap santai dan yakin akan pertolongan Nya. Sembari terus menebarkan ketenangan, melawan teroris pembawa ketakutan.

Soal Waliyullah yang kerap istimewa begini, begitu. Atau perkara mereka mendapat kharomah, itu bab lain. Bonus semata.

Tapi siapapun bisa menjadi Wali Nya, termasuk Anda semua. Bisa menjadi orang-orang yang dicintai Nya, dan mencintai Nya.

Cinta yang muncul dari jiwa, hati, lisan, dan perilaku. Cinta yang tak pernah bisa direkayasa. Melainkan dirasakan. Cinta yang memunculkan kebahagiaan dalam hidupnya.

Menjadi Radhiyallahu ‘anhum waradhuu ‘anhu. Golongan yang Allah Ridha pada mereka, dan mereka pun Ridha pada Nya. Ridha akan segala takdir dan apapun yang terjadi. Ridha akan Sunatullah dan sekecil apapun peristiwa dalam kehidupan ini.

Mudah-mudahan kita dimampukan, ditakdirkan, menjadi golongan orang-orang yang mencintai Nya. Dan Allah pun mencintai kita.

Menjadi orang-orang yang selalu ingat pada Nya, datang pada Nya. Bukan saat ujian menerpa. Bukan kala kebutuhan mendesak tak terkira.

Tapi, karena kekuatan cinta.

Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil adzim. Shalaallahu alaa Muhamamad.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button