Peristiwa

Keji, Guru Perkosa Belasan Santriwati

Report: Ryan I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – Aksi keji dilakukan seorang guru salah satu pesantren di Bandung, Herry Wirawan.  Ia melakukan aksi bejatnya tersebut sejak 2016 hingga awal 2021.

Herry ditangkap personel Polda Jabar di kediamannya, yang sekaligus digunakan sebagai yayasan.  Lokasinya di salah satu perumahan, Jalan Parakansaat, Antapani, Kota Bandung.

“Waktu penangkapan itu, pokoknya enggak lama setelah lebaran,” ujar Agus, warga sekitar, dilansir Detik, Kamis 9 Desember 2021.

Salah satu petugas keamanan kompleks itu terkejut saat mengetahui Herry ditangkap polisi karena bertindak biadab memerkosa para santriwati. “Tidak ada yang menyangka, tahu-tahu sudah ditangkap,” ujarnya.

Menurutnya, santriwati yang menghuni rumah tersebut keluar rumah kalau belanja ke warung. Di perumahan tersebut, pelaku jarang bersosialisasi dengan tetangga.

“Orangnya pendiam, jarang tinggal di sini. Keluar-masuk suka pakai mobil, pernah juga pakai motor,” jelasnya.

Kasus perkosaan santriwati ini telah sampai ke pengadilan. Pada Selasa (7/12), proses sidang sudah masuk ke pemeriksaan sejumlah saksi. Informasi dihimpun, saksi yang diperiksa para saksi korban. Sidang yang dipimpin ketua Majelis hakim Y Purnomo Surya Adi itu berlangsung tertutup.

Dari salinan dakwaan, aksi itu diketahui dilakukan Herry pada rentang waktu 2016 hingga 2021. Dakwaan itu dibacakan jaksa Kejaksaan Negeri Bandung Agus Mudjoko.

“Bahwa terdakwa sebagai pendidik/guru pesantren antara sekitar tahun 2016 telah melakukan perbuatan asusila terhadap anak korban santriwati,” ujar Jaksa dalam petikan dakwaan.

Masih dalam surat dakwaan yang diterima, total korban mencapai 14 orang. Mereka semua santriwati yang tengah belajar di pesantren milik HW di kawasan Cibiru, Kota Bandung.

Dalam dakwaannya, Jaksa mendakwa HW dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Jo Pasal 76D UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo Pasal 65 KUHPidana.

Guru pesantren di Bandung memperkosa belasan santriwati. Kekejian itu membuat empat santriwati hamil dan sudah melahirkan. “Ada empat anak korban yang hamil,” ujar Agus.

Ia mengatakan keempat anak yang hamil saat ini sudah melahirkan. Saat sidang saksi digelar, posisi anak korban yang hamil sudah melahirkan.

“Yang hamil sudah melahirkan semua. Bahkan salah seorang korban telah dua kali melahirkan akibat perbuatan terdakwa,” jelasnya.

Selain sembilan anak lahir dari santriwati, masih ada dua anak yang masih dalam kandungan. Hingga saat persidangan ini digelar, anak tersebut belum lahir.

Korban dirayu pelaku. Iming-iming dari HW diuraikan dalam dakwaan yang ada dalam poin penjelasan masing-masing korban.

Di dalam penjelasan salah satu korban, disebutkan kalau HW mengiming-imingi korban untuk jadi polisi wanita. Janji itu diutarakan HW kepada salah satu korban.

“Terdakwa menjanjikan akan menjadikan anak korban polisi wanita,” ujar jaksa dalam surat dakwaan.

Selain menjadi polisi wanita, HW juga menjanjikan kepada salah satu korban untuk mengurus pesantren miliknya.

“Terdakwa menjanjikan akan membiayai kuliah dan mengurus pesantren,” katanya.

Dalam dakwaan, HW disebutkan meminta kepada korban yang hamil untuk tak khawatir dan berjanji tanggung jawab.

“Terdakwa menjanjikan anak akan dibiayai sampai kuliah,” ujarnya.

Rata-rata korban melakukan ajakan hubungan intim itu dengan narasi seolah-olah istrinya tak mau melayani. Bahkan, ia sempat membawa mertua yang tak ingin memiliki banyak anak.

“Terdakwa ceritakan mertua tak mau banyak anak,” katanya.

Salah satu keluarga korban, Hikmat, perbuatan HW telah membuat keponakannya kehilangan masa depan. “Kita sudah kehilangan harga diri dan masa depan anak dan mental anak yang ada di sini, harapan kita itu sudah mati suri lah,” ujarnya.

Ia meminta semua pihak untuk mengawal perkara ini. Sebab, keluarganya khawatir predator kekerasan seksual itu dihukum ringan. Pihaknya meminta agar pelaku dihukum kebiri dan penjara seumur hidup.

“Ini seharusnya hukuman paling ringan hukuman kebiri atau seumur hidup, maunya keluarga seperti itu,” jelas Hikmat.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button