Kolom

Kecolongan LGBT? Ha Ha Ha

2019

TimurMedia.com:

Dance KPop LGBT di Balikpapan.

Lesbian, gay, biseksual, transgender: LGBT. Hari-hari belakangan kembali jadi perhatian warga Balikpapan.

Pemicunya, perhelatan dance KPop sejumlah pria melambai di Pentacity. Pihak manajemen beralasan kecolongan.

Entah kenapa, kecolongan selalu jadi alasan. Bahkan, bukan kali ini saja. Dan banyak yang percaya.

Tentu saja jauh lebih banyak masyarakat yang tidak percaya. Bagaimana mungkin sekelas mall besar bisa kecolongan. Dan acara digelar sampai selesai.

Sungguh, ini kecolongan yang ajaib. Lebih ajaib dari sulap-sulap badut kebanyakan.

Maka tak heran, berbondong-bondong warga Balikpapan memprotesnya.

Dari FPI, GP Anshar, sampai DPRD. Pertanyaannya kemudian: Seberapa serius Pemkot Balikpapan memproteksi warganya dari pengaruh LGBT?

Kasus LGBT selalu timbul tenggelam. Gaduh saat mereka muncul, lalu diam bila gerakannya senyap.

Apakah masih merasa kalau LGBT itu muncul tiba-tiba? Bergerak sporadis? Jangan polos. Mereka adalah gerakan global. Didanai anggaran yang luar biasa.

Dari Hivos, Ford Foundation sampai lembaga resmi internasional. Pendanaan juga diperoleh dari AusAID, UNAIDS, dan UNFPA. Guyurannya berbilang miliaran dolar.

Ada pula sejumlah negara Eropa yang pernah mendanai program jangka pendek, terutama dalam kaitan dengan HAM LGBT.

Sebuah dokumen resmi yang dirilis Program Pembangunan PBB (UNDP), bahkan memaparkan strategi jangka panjang isu LGBT melalui program bernama The Being LGBT in Asia Phase 2 Initiative (BLIA-2).

Lantas, kalau muncul LGBT di Balikpapan ya jangan heran. Jangankan Balikpapan, di sejumlah kota kecil pun mereka makin marak.

Saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun lalu. Saat itu, usai talkshow di salah satu televisi swasta, kami makan bersama CEO televisi terkait, Pengasuh Buntet Cirebon KH Ayip Abbas, dan kawan-kawan lain.

Kami tertawa sekaligus miris. Apa pasal?

Di sebuah resto di Bekasi, sepasang lesbi terlihat asik bermesraan di depan umum. Saling memegang tangan. Begitu mesranya.

Lesbi yang buci: rambutnya bondol, berpakaian kemeja pria, sepatu pria, celana levis, jam tangan putih besi ala lelaki. Mereka tak peduli lagi ditatap anak-anak kecil dengan tatapan melongo.

LGBT makin unjuk gigi. Terutama di kisaran tahun 2015 dan 2016. Amat banyak kegiatan mereka. Dikemas dengan berbagai nama dan agenda.

Ibu Risma sang walikota fenomenal pernah meminta memblokir situs LGBT. Jangan kaget. Sekarang ini ada puluhan sampai ratusan website yang mengkampanyekan LGBT.

Ada ratusan akun LGBT. Bahkan tahun lalu, Balikpapan pernah dihebohkan dengan kemunculan grup gay di Facebook. Anggotanya ribuan.

Sejak tahun 2016, pun sudah ada enam sampai tujuh aplikasi di android yang menjadi sarana komunikasi dan ajang newbie mencari jodoh LGBT.

Ada 22 point rekomendasi hasil LGBT dari dialog nasional LGBT yang ditujukan untuk organisasi mereka, pemerintah dan lembaga internasional.

Ada pula begitu banyak buku, komik, yang mengkampanyekan LGBT. Ratusan organisasi mereka tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia.

Isu LGBT tidak akan pernah berhenti. Sebab, sejauh ini mereka telah berhasil. Berhasil, memanfaatkan apatisme masyarakat, tokoh dan ulama. Berhasil membiarkan LGBT hanya menjadi isu sporadis, tanpa penyelesaian konkrit.

Padahal, Indonesia sudah darurat LGBT. Kita pun pernah dikejutkan, saat tahun 2016, muncul poster konseling LGBT di kampus bergengsi Universitas Indonesia.

Kampanye mereka yang sering menyasar pelajar pun bukanlah barang baru. Jauh sebelumnya sudah banyak buku, website baru, komik, seminar, atau kegiatan berbungkus sosial, humanis, dan ilmiah. Bahkan organisasi mereka terus tumbuh.

Kalau kita masih cuek, jangan kaget bila suatu hari buah hati menjadi pelaku LGBT. Bayangkan saja, dulu begitu senyap sekarang meledak.

Dalam catatan sixpackmagazine, yang mengutip survei CIA, jumlah LGBT di republik beradab ini menempati urutan kelima terbesar di dunia.

Data itu masih meragukan. LGBT sendiri lemah mendata kaum mereka. Begitu pun lembaga pemerintah. Estimasi sudah jutaan, baik data pemerintah atau pengakuan pelaku.

Dari pengakuan mantan organisator LGBT internasional, perkembangan mereka tahun ke tahun terus meningkat.

Meningkatnya jumlah pertumbuhan mereka seiring pula dengan dampaknya. Salah satunya HIV/AIDS yang juga menyebabkan kematian.

Data Kemenkes (2019), jumlah kasus HIV sampai Juni mencapai 22.600 kasus. Untuk kasus AIDS dari Januari – September 2019, ada 2.912 kasus.

Data UNAIDS (2018), dalam rentang delapan tahun dari 2010-2018 kematian akibat HIV/AIDS di Indonesia meningkat. Dari 24 ribu melesat jadi 38 ribu kematian.

Risko penularan tertinggi melalui narkoba dan kelainan seksual alias LGBT!

Pertumbuhan mereka harus dibendung. Perlu ada regulasi khusus yang mengaturnya. Terkhusus di Balikpapan.

Walikota Rizal Effendi pernah berjanji akan membuat Perwali untuk mencegah LGBT. Faktanya, sudah setahun berlalu Perwali itu menguap. Tidak jelas nasibnya.

Regulasi ini harus diwujudkan. Jangankan Balikpapan, Amerika saja sejak dulu melarang mereka. Coba simak:

Christia Winsloe menulis novel dan difimkan judulnya Madchen in Uniform (1931). Film itu disutradai Leontine Sagan. Film lesbian pertama tentang kisah lesbi pelajar dan guru. Tapi, apa yang terjadi? Film itu dilarang di Amerika.

Bahkan saat Nazi berkuasa, film tersebut ditarik dari peredaran. Sampai-sampai sutradara dan pemainnya hengkang mabur ke negara lain. Nasib sang penulisnya Christa dieksekusi oleh Nazi, tahun 1944.

Kisah hampir serupa karya Lilian Helman. Drama percintaan lesbi antara kepala asrama sekolah dengan guru. Drama itu dilarang dipentaskan di sejumlah kota, seperti Chicago dan Boston.

Bahkan, karya Lilian dicekal Hollywood. Jangankan pelakunya, karyanya saja tidak diterima di negara bebas. Pentagon pun pernah menutup situs besar LGBT.

Amerika sendiri baru ramah pada LGBT di era Clinton. Sejak itu PBB justru mendanainya.

Film Queer as Folk (2000) dan film The L World (2004), yang DVD bajakannya saja begitu diburu oleh kaum LGBT di Indonesia.

Begitu dahsyatnya kanal-kanal saluran kampanye LGBT. Jika pemerintah tidak lebih lihai dari mereka, jangan kaget bila tiba-tiba jumlah mereka makin meningkat.

Nah, kalau masih ada lagi yang menyebut acara LGBT kecolongan, itu adalah guyonan yang sangat menggelikan. Organisator LGBT pun tertawa ha ha ha.

*Agung, Tim Riset Timur Media.

Most Popular

To Top