Nasional

Karakteristik Kurikulum Prototipe

Report: Ryan I Editor: Isnan

TIMUR MEDIA – Pemerintah berencana menerapkan Kurikulum Prototipe pada tahun 2022. Kurikulum ini mendorong pembelajaran yang sesuai kemampuan siswa dan bisa memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar.

Kurikulum prototipe diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.

Para guru perlu mengetahui karakteristik dan penerapan kurikulum ini.

Kurikulum prototipe pernah disampaikan Badan Standar Kurikulum dan Assesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Pemerintah tidak akan memaksa semua sekolah menggunakan kurikulum yang baru. Ini akan ditawakan sebagai opsi. Sama seperti kurikulum kondisi khusus tahun lalu. Jadi di 2022 ditawarkan kurikulum baru (prototipe) sebagai salah satu opsi tambahan bagi sekolah yang percaya dan merasa sudah siap menerapkan. Jadi bukan paksaan, melainkan tumbuh secara organik,” ujar Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Anindito Aditomo, belum lama ini.

Kurikulum Prototipe adalah kurikulum opsional yang tersedia untuk Satuan Pendidikan yang akan diterapkan di tahun ajaran 2022/2023. Kurikulum Prototipe melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya (K13).

Kurikulum ini sangat baik dan pro terhadap guru dan peserta didik. Di antaranya dapat memberikan semangat merdeka belajar. Berikut karakteristik dan penerapan Kurikulum Prototipe di setiap jenjang:

Jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Jenjang PAUD lebih ditekankan pada kegiatan bermain sebagai proses belajar yang utama dan ditambahkan penguatan literasi dini dan penanaman karakter melalui kegiatan bermain dan juga sudah mulai ditekankan pembelajaran berbasis proyek untuk penguatan profil Pancasila dilakukan melalui kegiatan perayaan hari besar.

Jenjang Sekolah Dasar (SD)/Sederajat

Jenjang SD untuk pembelajaran SD juga sangat menarik. Untuk memahami lingkungan sekitar mata pelajaran IPA dan IPS ini digabungkan, selama ini mata pelajaran IPA dan IPS terpisah jadi digabungkan menjadi ilmu pengetahuan alam dan sosial (penyederhanaan pelajaran).

Kemudian di SD juga akan diintegrasikan computational thinking dalam mata pelajaran bahasa Indonesia matematika dan IPA. Yang paling menarik mata pelajaran Bahasa Inggris dinaikkan levelnya menjadi mata pelajaran pilihan.

Jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Sederajat

Jenjang SMP juga ada perubahan. Jika tahun lalu sempat ada pelajaran TIK dan setelah K13 itu dihilangkan mata pelajaran TIK menjadi mata pelajaran pilihan bersama dengan prakarya. Jadi mulai tahun 2022 ada pelajaran yang hampir sama dengan TIK namanya Informatika.

Informatika ini menjadi mata pelajaran wajib dan guru yang mengajarkan Informatika tidak harus berlatar belakang pendidikan Informatika. Selanjutnya pembelajaran berbasis proyek untuk penguatan profil Pancasila dilakukan minimal tiga kali dalam satu tahun ajaran, ditekankan pembelajaran berbasis proyek.

Jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sederajat

Jenjang SMA akan ditekankan pembelajaran berbasis proyek untuk penguatan profil Pancasila minimal tiga kali dalam satu tahun ajaran dan pelajar menulis esai ilmiah sebagai syarat kelulusan.

Syarat kelulusan untuk SMA itu wajib menulis esai ilmiah. Jadi kalau di S1 ada skripsi, di S2 ada tesis dan S3 ada disertasi, di SMA itu ada isai ilmiah. Jadi peserta didik diarahkan untuk berpikir kritis sistematis dalam bentuk tulisan sebagai syarat kelulusan.

Jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Sederajat

Jenjang SMK ini juga sangat menarik. Yaitu dunia kerja diharapkan terlibat dalam pengembangan pembelajaran di dunia kerja perusahaan, misalnya  perusahaan itu bisa terlibat dalam pengembangan pelajaran kemudian strukturnya lebih sederhana dengan dua kelompok mata pelajaran yaitu umum dan kejuruan.

Pada  PKL atau praktek kerja lapangan menjadi mata pelajaran wajib minimal enam bulan, selama ini hanya beberapa bulan saja sehingga peserta didik lebih banyak prakteknya.

Jenjang SMK tempatnya untuk mempelajari keterampilan-keterampilan tertentu sehingga harus banyak prakteknya. Hal ini diaktualisasikan dalam bentuk kebijakan PKL wajib minimal enam bulan pengaruh di lapangan seperti itu dan juga pelajar dapat memilih mata pelajaran di luar program keahliannya.

Jenjang Sekolah Luar Biasa (SLB)

Jenjang SLB capaian pembelajaran pendidikan khusus dibuat hanya untuk yang memiliki hambatan intelektual. Bagi yang tidak memiliki hambatan intelektual capaian pembelajarannya sama dengan sekolah reguler yang sederajat dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum beregu.

Peserta didik di SLB juga menerapkan pembelajaran berbasis proyek untuk penguatan profil Pancasila dengan mengusung tema yang sama dengan sekolah reguler dengan kedalaman materi dan aktivitas sesuai karakteristik dan kebutuhan pelajar di SLB. Jadi, tetap menyesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan pelajar di sekolah luar biasa.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button