Historia

Kala Pandemi Hilang Sendiri

Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pandemi korona mulai runtuh.

Editor: Kahar

TIMUR MEDIA – Saat ini, warga dunia dikeluhkan dengan jenuhnya pemberitaan tentang korona. Sejak Februari 2020 sampai hari ini, nyaris saban hari dijejali informasi tentang korona. Meski jutaan orang dinyatakan sembuh, tapi tetap saja pandemi diklaim akan terus terjadi.

Mengacu data Worldometer, per Senin 20 Juli 2020 pukul 20.30 Wita, pasien korona di dunia yang sembuh berjumlah 8.752.380 orang. Tapi, kenapa pandemi tidak juga dinyatakan menghilang? Pertanyaannya kemudian: siapa yang bisa menjamin dan menentukan hilangnya pandemi? Semua hanya bisa berdasar asumsi. Atau sekadar prediksi.

Bahkan prediksi berakhirnya pandemi menjadi amat sulit dibuktikan. Sejarawan Universitas Yale Naomi Rogers pada The New York Times, mengatakan saat kerugian ekonomi meningkat akibat pembatasan sosial, orang-orang memilih untuk kembali menjalankan aktivitas. “Saya pikir ada masalah psikologis sosial seperti kelelahan dan frustrasi,” ujarnya.

Menurutnya, ada perbedaan sudut pandang antara masyarakat dan ahli kesehatan. Masyarakat melihat masalah ekonomi dan sosial. Sedangkan ahli kesehatan melihatnya sebagai krisis kesehatan. Menilik akhir pandemi di masa lalu, sejarawan membedakannya menjadi dua.

Berakhir secara medis, dengan indikator jumlah kasus baru dan tingkat kematian menurun drastis; dan berakhir secara sosial, yakni ketika ketakutan terhadap penyakit itu berkurang.

Priyanto Wibowo dalam Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918, menyebut wabah yang paling hebat berlangsung kira-kira tiga minggu. Tapi puncaknya baru berakhir sekitar dua bulan dan.

Menurut Priyanto, pandemi itu menghilang dengan sendirinya. Para sejarawan bahkan menyebut Flu Spanyol sebagai pandemi yang terlupakan. Dalam ingatan kolektif masyarakat Amerika Serikat sendiri, Pandemi Flu 1918 tidak banyak diperbincangkan terutama ketika masa pandemi itu sendiri.

Namun karena beratnya kehidupan di masa Perang Dunia I, orang-orang memilih kembali beraktivitas dengan beberapa penyesuaian untuk menghindari penularan virus. Sejarawan Universitas Cambridge Mary Dobson, menilai infeksi flu Spanyol kemudian menurun pada 1921. Dan tidak ada catatan pasti kapan sebuah penyakit benar-benar hilang. Tiba-tiba seolah hilang sendiri.

Dalam konteks korona, ada potensi pengulangan sejarah serupa Pandemi Flu. Meski WHO dan pemerintah mengabarkan perkembangan laju kasus, tapi masyarakat mulai apatis. Masyarakat sudah jenuh dengan pemberitaan soal korona. Terlebih diiringi kasus-kasus yang meruntuhkan kepercayaan.

Semisal, korban yang negatif dinyatakan positif. Bahkan, ada pula yang sudah wafat dikabarkan positif lantas kemudian terbukti negatif. Sampai akhirnya makam yang bersangkutan dibongkar kembali. Kasus ini tidak satu dua terjadi. Tapi berkali-kali. Bahkan, ada pula pihak keluarga yang membawanya ke ranah hukum.

Apatisme masyarakat juga disebabkan runtuhnya ekonomi keluarga. Akhirnya memilih melawan protap-protap yang berlaku. Enggan di rumah, enggan menerapkan protokol kesehatan. Bahkan masa bodoh dengan perkembangan kasus yang dikabarkan media.

Apatisme itu juga diperkuat dengan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap Cina. Apalagi dengan hadirnya vaksin Cina di Indonesia. Runtuhnya trust ini lantaran kuatnya stigma negatif akibat kegagalan rapid test yang dinilai tidak akurat dan berbau bisnis.

Maka, kehadiran vaksin pun tidak lagi dipercaya. Terlebih banyaknya catatan korban KIPI dalam vaksin-vaksin sebelumnya. Akhirnya publik memilih untuk mengganggap pandemi pasti akan berakhir sendiri. Tidak lagi takut untuk keluar rumah. Tidak perlu vaksinasi, toh jutaan orang sembuh tanpa vaksin.

Apalagi, Mendagri Tito juga berpendapat, vaksin dari Cina belum tentu bisa menyembuhkan covid-19 dan mengangkat wabahnya dari Indonesia. Hal itu, ia utarakan saat Rapat Kordinasi Pilkada 2020 dan Pengarahan Gugus Tugas Covid-19 di Balhroom Hotel Novotel Balikpapan, pada Sabtu 18 Juli 2020.

“Vaksin yang dibuat dari Cina belum tentu dapat mengangkat virus ini dari Indonesia, karena kemungkinan jenis virusnya berbeda,” jelas Tito. Apakah pada akhirnya korona benar-benar hilang sendiri? Seperti pandemi flu yang dianggap biasa saja.

Waktu yang akan menjawabnya.

ISumber: Historia

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button