Mozaik

Islam Korea; Antara Nilai dan Simbol

Oleh: Ickur (Ketua LAKPESDAM NU Balikpapan)

Para muallaf Korea beruntung berada di negara sekuler lalu mengenal Islam dalam wajah yang damai dan menyejukkan hati.

Lain cerita jika mereka menjadi muallaf di Indonesia, mereka akan sibuk dengan perdebatan parsial antar firqah, mazhab atau aliran yang akhir-akhir ini tereduksi menjadi kompetisi ormas yang berujung pada mobilisasi massa umtuk dukungan politik.

Kenapa di negara sekuler justru terjadi geliat para muallaf dengan nilai Islam yang penuh cinta kasih dan kedamaian? padahal media Internasional kerap memberitakan Wajah Islam yang digambarkan layaknya komunitas monster berwujud algojo pemenggal kepala, yang kemudian mendapat penbenaran oleh rentetan fakta yang dimulai dari ambruknya Pusat Perdagangan Dunia tahun 2001 hingga terbentuknya ISIS tahun 2013.

Islam yang ditampilkan dengan wajah buruk ini juga terbenarkan ketika masyarakat muslim urban / muslim kelas menengah perkotaan terpancing propaganda Kelompok Islam Transnasional yang mencoba melakukan invasi dengan menghembuskan isu Formalisasi Syariat Islam dan isu Negarah Islam (Khilafah Islamiyah).

Meluncurlah berbagai varian nomenklatur simbol Islam kaffah(?) serba syar’i seperti hijrah, hijab, hidayah, khilafah. serta “hampir lupa”, ana-antum dan seterusnya…

Islam yang tidak mengenal perbedaan identitas kecuali ketakwaan, tereduksi menjadi ke-Araba-n. Yang paling mirip tampilannya dengan tampilan Arab klasik adalah yang paling Islami, sementara para pemilik industri model berpakaian syar’i mendapat berkah, tentu mereka tidak peduli apakah model pakaian yang mereka produksi benar-benar syar’i atau tidak, yang penting isi rekening di bank syari’ah terus beranak pinak.

Tapi para muallaf Korea ternyata tertakdir untuk bertemu dengan orang-orang Islam dari silent majoriy yang cukup toleran dalam menyikapi berbagai perbedaan, menganut serta mempraktekkan ajaran Islam yang penuh cinta kasih dan berusaha menebar kedamaian ke seluruh penjuru bumi.

Seperti pengakuan para Yuotubers muallaf Korea, ketika mereka stress, depresi dan dis-orientasi di tengah gaya hidup materialistis dan kompetitif masyarakat Korea, mereka menemukan solusi dalam nilai-nilai yang diajarkan Islam.

Islam yang dahulu terbentuk dalam benak mereka adalah Islam yang sama sekali tidak ramah, penuh amarah dan membenarkan bunuh diri untuk membunuh orang-orang yang berbeda dengan mereka.

Para muallaf korea ini akhirnya menemukan (dalam bahasa yang lebih islami mendapat hidayah dari Allah) Islam yang menebar kasih sayang ke seluruh alam semesta.

Youtubers Islam di Korea ini kembali ke kehidupan bersama keluarga mereka dengan membawa nilai-nilai Islam, bukan membawa simbol yang justru bertolak belakang dengan ajaran Islam.*

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button
Close
Close