NEWS

IPW Temukan Tujuh Kejanggalan

Report: Ryan I Editor: Maya

TIMUR MEDIA – Indonesia Police Watch atau IPW mengungkapkan ada tujuh kejanggalan atas insiden penembakan oleh aparat dari Polda Metro Jaya terhadap simpatisan Habib Rizieq Shihab di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50.

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane mengemukakan kejanggalan itu, dalam rilis resminya, yang diterima Timur, Senin 7 Desember 2020.

Pertama, soal kepemilikan senjata api laskar khusus Front Pembela Islam seperti yang disampaikan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran di Polda Metro Jaya.

“Jika benar FPI mempunyai laskar khusus yang bersenjata, kenapa Baintelkam tidak tahu dan tidak melakukan deteksi serta antisipasi dini serta tidak melakukan operasi persuasif untuk melumpuhkan,” tutur Neta dalam keterangan resminya.

Kejanggalan kedua, sambung Neta, apakah tim penyidik Polda Metro Jaya telah menerapkan SOP saat menghadang kendaraan iring-iringan yang mengawal Habib Rizieq Shihab di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50. “Mengingat polisi penghadang mengenakan mobil dan pakaian preman,” kata Neta.

Neta melanjutkan, kejanggalan ketiga, tim penyidik Polda Metro Jaya harus membuktikan apakah benar laskar khusus FPI menembak lebih dulu.

“Jika benar, ada berapa jumlah tembakan itu dan adakah bukti bukti, misalnya ada mobil polisi yang terkena tembakan atau proyektil peluru yang tertinggal dari tembakan itu,” ujarnya.

Kejanggalan keempat, menurut Neta, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadhil Imran, harus bisa membuktikan secara pasti lokasi baku tembak antara laskar khusus FPI dengan tim penyidik Polda Metro Jaya.

“Di mana TKP tewas dan tertembaknya keenam anggota Laskar Khusus FPI itu, karena menurut rilis FPI keenam anggotanya itu diculik bersama mobilnya di jalan tol,” tanya Neta.

Kelima, enam orang yang diduga laskar khusus FPI dan ditembak mati itu bukan anggota teroris, sehingga tim penyidik Polda Metro Jaya harus melumpuhkan terlebih dulu, bukan ditembak mati di tempat.

“Karena polisi lebih terlatih dan polisi bukan algojo tapi pelindung masyarakat,” tegas Neta.

Kejanggalan berikutnya, ujar Neta, ruas jalan tol adalah jalan bebas hambatan sehingga siapa pun yang tengah melakukan aksi penghadangan di jalan tol merupakan sebuah pelanggaran hukum.

“Kecuali si pengendara secara nyata sudah melakukan tindak pidana,” tegasnya.

Kejanggalan ketujuh, lanjut Neta, penghadangan yang dilakukan mobil sipil dan seseorang berpakaian preman, patut diduga sebagai pelaku kejahatan di jalan tol.

“Mengingat banyak kasus perampokan di jalanan yang dilakukan orang tak dikenal. Jika polisi melakukan penghadangan seperti ini sama artinya polisi tersebut tidak promoter,” ujar Neta.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button