Ekonomi

Investasi Miras Bebani Negara

Investasi miras mengundang mudharat yang besar.

Report: Ryan I Editor: Basir

TIMUR MEDIA – Ekonom Indef Dradjad Hari Wibowo membantah pembukaan investasi minuman keras memberi dampak ekonomi yang besar. Ia menilai malah sebaliknya, pembukaan investasi miras akan membuat beban ekonomi yang ditanggung negara akibat minuman keras lebih besar.

Akibatnya, negara malah terbebani secara ekonomi. “Saya kira tidak benar kalau manfaatnya lebih besar dari mudharatnya. Biaya yang dikeluarkan negara akan lebih besar dibanding manfaat ekonominya. Ini berdasar riset ya, bukan asal-asalan,” ujar Dradjad, dikutip dari ROL, Senin 1 Maret 2021.

Dampak Pemerintah yang menerbitkan Perpres No 10 Tahun 2021 tentang bidang usaha penanaman modal, yang di dalamnya mengatur tentang pembukaan investasi minuman keras, menurut Drajad, tidak tepat.

Dengan adanya investasi, katanya, perusahaan tentu ingin mendapatkan keuntungan yang bagus sehingga mereka akan mengupayakan agar banyak orang yang mengonsumsi minuman beralkohol. Suplai akan menciptakan permintaan.

“Kondisi ini akan membuat konsumsi minuman beralkohol meningkat. Dengan begitu, akan ada sekelompok masyarakat yang konsumsi alkoholnya berlebihan,” jelasnya. Ini, lanjutnya, berdasar pengalaman dari berbagai negara di dunia.

Ketua Dewan Pakar PAN itu menjelaskan, mengacu studi tahun 2010 di Amerika Serikat, disebutkan, pertama, satu dari enam orang di AS yang minum masuk dalam kategori minum minuman beralkohol dalam kategori berlebihan.

Kedua, dengan kondisi biaya minum minuman keras ini, pada 2010, di AS mencapai 249 miliar dolar AS atau sekira 2 dolar 5 sen  per minuman. “Ini biaya yang ditanggung dari efek buruk minuman keras ke perekonomian. Kalau dipresentasikan ke PDB AS, jatuhnya 1,66 persen dari PDB,” ujarnya.

Menurutnya pemborosan terbesar itu disebabkan hilangnya produktivitas sebesar 72 persen, 11 persen karena biaya kesehatan, 10 persen untuk penegakan hukum kejahatan yang disebabkan alkohol, serta lima persen terkait kecelakaan kendaraan bermotor akibat alkohol.

“Angka-angka ini masih perkiraan rendah,” jelasnya. Padahal, para peneliti memperkirakan angkanya bisa lebih mahal lagi. Ini penelitian resmi yang dimuat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dari Pemerintah AS atau dikenal dengan CDC.

Ia juga menyebut studi lain yang menunjukkan hal sama. Studi yang ditulis Montarat Thavorncharoensap dalam 20 riset di 12 negara menyebutkan, beban ekonomi dari minuman beralkohol adalah 0,45 persen hingga 5,44 persen dari PDB.

Jika angka ini disimulasikan di Indonesia dengan hanya menerapkan angka yang dipakai di AS yaitu 1,66 persen maka hasilnya sudah tinggi. PDB Indonesia 2020 sebesar Rp.15.434,2 triliun jika dikalikan 1,66 persen maka hasilnya adalah Rp 256 triliun.

“Jadi kalau diasumsikan tidak setinggi 5,44 persen, tapi hanya 1,66 persen saja, sama seperti AS, hasilnya biaya ekonomi yang harus ditanggung Indonesia karena minuman keras mencapai Rp 256 triliun,” paparnya.

“Pertanyaan saya, apakah investas miras akan menghasilkan Rp 256 triliun? Saya tidak yakin itu,” lanjutnya. Dari angka-angka tersebut, biaya ekonomi yang diakibatkan Miras akan jauh lebih besar dari manfaatnya. Jadi karena mudharatnya lebih besar dari manfaatnya, ia meminta pembukaan investasi miras lebih baik dibatalkan.

I ROL

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button