Ekonomi

Indonesia Diguncang Resesi

Report: Ryan I Editor: Isnan Rahardi

TIMUR MEDIA – Perekonomian Indonesia dipastikan diguncang resesi mulai bulan Oktober ini. Ekonomi Indonesia yang masuk jurang resesi juga telah dipastikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Ia mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III berada di kisaran minus 2,9% sampai minus 1%. Sementara untuk seluruh tahun 2020 berada di kisaran minus 1,7% sampai minus 0,6%. Dengan demikian, ekonomi Indonesia masuk jurang resesi.

Resesi adalah kondisi pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut. Realisasi pertumbuhan ekonomi nasional sendiri sudah minus 5,32% pada kuartal II-2020.

Peneliti Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet mengatakan sulit bagi ekonomi Indonesia keluar dari jurang resesi mengingat data-data penunjangnya pun mengalami penurunan.

“Ya, memang dari beragam indikator sulit untuk tidak mengatakan bahwa ekonomi Indonesia akan lolos dari resesi,” ujar Yusuf dilansir Detik, baru-baru ini.

Proyeksi ekonomi Indonesia masuk resesi juga datang dari lembaga internasional, seperti World Bank. Dalam proyeksi terbarunya, Bank Dunia menyebut ekonomi Indonesia pada 2020 bisa -1,6% sampai -2%.

Angka itu turun dibanding outlook Bank Dunia pada Juli yang memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan di nol persen. Ekonomi Indonesia diprediksi baru bisa kembali pulih pada 2021 dengan pertumbuhan 4,4% dan skenario buruk pertumbuhannya hanya mencapai 3%.

Staf Khusus Menko Perekonomian Reza Yamora Siregar juga mengakui ekonomi pada kuartal III tahun ini masih berada di zona negatif. Namun ia masih berani memastikan kondisi ekonomi pada periode Juli-Agustus-September lebih baik dibanding kuartal sebelumnya.

“Untuk kuartal III dan sampai akhir tahun kami melihat pertumbuhan ekonomi ini akan membaik. Ini yang penting. Kemungkinan ekonomi masih tumbuh negative year-on-year antara kuartal III-2020 dengan kuartal III-2019, tapi lebih baik dari pada di kuartal II-2020,” kata Reza.

Kelesuan ekonomi Indonesia semakin lama semakin jelas terlihat. Yang memberi konfirmasi data inflasi.

Deflasi sudah terjadi selama tiga bulan beruntun. Artinya, kuartal III-2020 sepenuhnya diwarnai oleh deflasi. Kali terakhir Indonesia mengalami deflasi panjang adalah pada Maret-September 1999.

Kinerja rupiah melawan dolar Amerika Serikat di kuartal III-2020 juga memburuk, bahkan sangat buruk jika dibanding dengan mata uang utama Asia lainnya. Selain rupiah, hanya baht Thailand yang melemah, sisanya membukukan penguatan.

Sepanjang kuartal III-2020, rupiah merosot 4,65% ke Rp 14.840/US$, sementara baht yang juga melemah jauh lebih baik dengan pelemahan 2,27%.

Sedangkan inflasi tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2020 tercatat 1,42%, dan inflasi tahun kalender semakin jauh di bawah 1%, atau 0,89%. Kemudian inflasi inti adalah 0,13% MtM dan 1,86% YoY. Inflasi inti secara YoY menyentuh titik terendah sejak 2004, sejak kali pertama BPS mencatat inflasi inti.

“Secara MtM, ada empat kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi. Makanan, minuman, dan tembakau -0,37%, pakaian dan alas kaki -0,01%, transportasi -0,33%, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan -0,01%,” kata Suhariyanto, Kepala BPS, dilancir CNBC.

Suhariyanto menilai fenomena deflasi disebabkan dua hal. Pertama adalah pasokan yang memadai sehingga tidak menimbulkan tekanan harga. “Namun daya beli masyarakat juga rendah, sangat-sangat lemah. Ini ditunjukkan oleh inflasi inti yang terus menurun,” ungkapnya.

Ya, inflasi inti memang kerap dipakai untuk mengukur kekuatan daya beli. Sebab komponen ini berisi pengeluaran yang harganya susah naik-turun alias persisten. Jadi kalau harga barang dan jasa yang persisten saja sampai bergerak turun, artinya dunia usaha sudah desperate, terpaksa menurunkan harga saking rendahnya permintaan.

Gambaran dunia usaha yang terpaksa mengalah dan menurunkan harga jual produknya sudah terlihat dari data yang dirilis pagi tadi. IHS Markit mencatat Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2020 berada di angka 47,2. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 50,8.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Kalau di bawah 50 berarti kontraksi, di atas 50 berarti ekspansi.

Penurunan pada September adalah yang pertama setelah PMI terus merangkak naik sejak April. Menurut IHS Markit, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang lebih ketat pada pertengahan September menjadi penyebabnya.

Penurunan permintaan membuat produksi kembali turun. Akibatnya, penciptaan lapangan kerja ikut berkurang. Bahkan laju Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) semakin cepat.

Selain itu, dunia usaha juga mengurangi pembelian bahan baku sebagai upaya efisiensi. Laju penurunan pembelian bahan baku pada September bahkan menjadi yang tercepat dalam tujuh bulan terakhir.

Situasi yang sulit bahkan membuat dunia usaha sampai menurunkan harga jual produk demi mendongkrak penjualan. Ini membuat tekanan inflasi pada kuartal III-2020 sangat ringan, bahkan hampir tidak ada.

Melihat dua data ekonomi yang dirilis hari ini, sepertinya sudah terpampang nyata bahwa konsumsi masyarakat sedang ‘sakit keras’. Padahal konsumsi adalah kontributor terbesar dalam pembentukan output ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan porsi lebih dari 50%.

Meski datanya belum diumumkan, tetapi kontraksi atau pertumbuhan negatif PDB pada kuartal III-2020 rasanya sudah terjadi. Proyeksi terbaru Kementerian Keuangan untuk pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 adalah -2,9% hingga -1%.

Pada kuartal sebelumnya, Indonesia membukukan kontraksi ekonomi 5,32%. Jadi PDB Tanah Air mengalami kontraksi dua kuartal beruntun, yang merupakan definisi resesi.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button