Ekonomi

Indonesia Diambang Resesi

Report: Maya I Editor: Basir

TIMUR MEDIA – Ekonom menyarankan pemerintah perlu memberi stimulus dengan membentuk jaring pengaman sosial dan insentif bagi dunia usaha agar mampu keluar dari jurang resesi.

Hal ini menyusul kondisi geoekonomi Indonesia yang cukup mengkhawatirkan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II atau April-Juni 2020 diproyeksi negatif -4,3%. Akibatnya, banyak pihak memperkirakan ancaman resesi.

Pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada Dr. Eddy Junarsin, sebagaimana dikutip dari Deutsche Welle, memberi sejumlah saran agar Indonesia bisa keluar dari bayang-bayang resesi. Ia menyebut capaian pertumbuhan ekonomi di kuartal III atau rentang Juli-September menjadi penentu kondisi perekonomian Indonesia.

Di kuartal ini pemerintah diharapkan bisa mengambil kebijakan yang lebih akurat terkait penanganan korona. “Kalau kebijakan penanganan lambat atau tidak sinkron, maka efeknya akan berkepanjangan, dan semakin parah pula kondisi perekonomian kita,” ujar Eddy.  Ketika kondisi ekonomi parah, ia berpendapat, waktu recovery nya akan semakin panjang.

Pada kuartal II atau April-Juni 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan minus antara -3,5% hingga -5,1%. “Karena itu, kuartal III sangat menentukan, kalau pertumbuhannya berlanjut negatif maka Indonesia masuk resesi,” ingatnya.

Untuk keluar dari resesi, ia menyarankan agar pemerintah perlu memberi stimulus dengan membentuk jaring pengaman sosial dan insentif bagi dunia usaha. Terlebih jika pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar nasional secara singkat.

Selain itu, stimulus moneter dengan penurunan suku bunga diharapkan bisa menarik minat investor untuk kembali melakukan ekspansi usaha.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan pemerintah mewaspadai dampak resesi ekonomi yang dialami Singapura. Ia akan menjaga kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu tingkat konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi.

“Domestic demand-nya tidak bisa mensubstitusi. Karena itu penurunan dari Singapura sangat besar, karena memang tidak terjadi perdagangan internasional yang selama ini menjadi engine of growth-nya,” papar Sri Mulyani di gedung DPR, Rabu 15 Juli 2020. Kejadian yang menimpa ekonomi Singapura pun menjadi perhatian bagi Sri Mulyani meski mesin utama penggerak perekonomian Indonesia berbeda.

Pada Kamis, 23 Juli 2020, Jokowi bahkan menilai proyeksi ekonomi global dan sejumlah negara di dunia selama pandemi didominasi minus yang besar-besar. Hal itu ia utarakan di acara Penyaluran Dana Bergulir untuk Koperasi Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Nasional, di Istana Negara, Jakarta.

“Bayangkan (ekonomi) isinya hanya minus, minus, minus, minus, minus, dan minusnya adalah dalam posisi yang gede-gede,” ujar Jokowi. Ia mengaku, tiga bulan lalu menghubungi Managing Director IMF.

Di kesempatan itu ia menerima laporan ekonomi global tahun ini diperkirakan minus 2,5 persen dari sebelumnya positif 3-3,5 persen. Ia juga pernah menghubungi Bank Dunia dan menerima laporan berbeda. Menurutnya, ekonomi dunia akan minus 5 persen.

Bahkan, sambungnya, dua pekan lalu turut menelepon Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD yang menyampaikan proyeksi ekonomi dunia berpotensi minus 6 sampai minus 7,6 persen.

“Gambaran apa yang ingin saya sampaikan, bahwa setiap bulan selalu berubah-ubah, sangat dinamis, dan posisinya tidak semakin mudah, tapi semakin sulit. Minus 2,5 persen, ganti sebulan berikutnya minus 5 persen, satu bulan berikutnya minus 6 sampai minus 7,6 persen,” jelas Presiden Jokowi.

Mengacu laporan OECD, beberapa negara juga diproyeksikan minus. Antara lain Prancis minus 17 persen, Inggris minus 15 persen, Jerman minus 11 persen, Amerika Serikat minus 9,7 persen, Jepang minus 8,3 persen, Malaysia minus 8 persen.

Di hari sama, melansir Reuters, ekonomi Korea Selatan secara resmi jatuh dalam resesi di kuartal II tahun ini. Hal itu disebabkan adanya penurunan paling dalam selama dua dekade dari sisi ekspor. Resesi Korsel menyusul Singapura yang lebih dulu tenggelam dalam jurang resesi.

Pada Kamis (23/7), Bank of Korea mengatakan, ekonomi Korsel menyusut -3,3%. Ini termasuk kontraksi paling tajam sejak kuartal pertama 1998. Angka itu juga lebih dalam dari perkiraan jajak pendapat yang digelar Reuters di angka -2,3%.

Dikutip dari AFP, Kamis (23/7), Australia mulai memberi sinyal resesi yang bakal menimpa negara itu. Ekonomi Australia memproyeksikan negaranya akan mengalami kontraksi terdalam sepanjang sejarah di kuartal II tahun 2020. Sedangkan defisit anggaran akan menjadi yang terbesar sejak Perang Dunia II.

“Angka-angka kasar ini mencerminkan kenyataan pahit yang kita hadapi,” kata Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg dikutip dari AFP.

Bahkan, pada April-Juni PDB diprediksi mengalami kontraksi sebesar 7%. Ini akan mendorong Australis masuk dalam resesi untuk kali pertamanya sejak tiga dekade terakhir. Di kuartal I tahun 2020, ekonomi Australia minus 0,3%.

Akibatnya, defisit anggaran ikut melonjak menjadi Aus$ 185 atau sekitar US$ 132 miliar, hampir sepersepuluh dari PDB di tahun anggaran sampai 30 Juni 2021. Padahal Australia mencatat defisit anggaran sebesar Aus$ 86 miliar di tahun sebelumnya. “Angka-angka kasar ini mencerminkan kenyataan pahit yang dihadapi,” ujar Menteri Keuangan Australia, Josh Frydenberg, dilansir AFP.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button