Nasional

Indonesia Diambang Resesi

Report: Janu I Editor: Basir

TIMUR MEDIA – Ancaman resesi ekonomi Indonesia sudah di depan mata. Sejumlah skenario yang tidak menggembirakan mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tahun ini menjadi indikator kuat datangnya gelombang resesi.

Selain itu, beberapa negara telah mengumumkan resesi yang dialaminya. Pertumbuhan ekonomi mereka merosot ke titik terendah. Terbaru, Jerman dan Amerika Serikat yang mengonfirmasi resesi ekonomi setelah PDB di kedua negara itu turun begitu dalam. Jerman minus 2,3% di kuartal kedua, sedangkan AS minus 32,9%.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan, Heru Kristiyana menyampaikan, sebagai regulator, OJK akan memantau setiap kebijakan yang sudah dikeluarkan OJK di sektor perbankan melalui relaksasi dan restrukturisasi kredit. Demikian dilansir CNBC Indonesia, Senin 3 Agustus 2020.

Selain itu, dalam menghadapi pandemi ini, perbankan harus bisa melakukan mitigasi risiko dan melakukan stress test. “Perbankan harus bisa mengukur dampak pandemi, memitigasi risiko, melakukan stress test dan melihat sektor yang masih berpotensi diberikan kredit. Itu yang sudah kita lakukan,” ujarnya.

Sebagai antisipasi menjaga kepercayaan nasabah, OJK bisa memperpanjang kebijakan perpanjangan restrukturisasi kredit tapi dengan melihat indikator seperti profitabilitas bank, likuiditas hingga arus kas.

“Saya kira dalam POJK 11, kita memberi arahan aturan ini bersifat balancing kepentingan nasabah, kepentingan perbankan supaya tetap sehat, sehingga perbankan diberikan keleluasaan dan menghitung risiko yang akan terjadi kalau dia melakukan restrukturisasi kredit,” paparnya.

Saat ini debitur yang terdampak pandemi korona bisa menunda pembayaran cicilan kredit selama maksimal 1 tahun. Aturan ini tertuang dalam Peraturan OJK Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Covid-19.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button