Pangan

Impor Rugikan Peternak Rp 2 Triliun

2019

peternak ayam (net)

TimurMedia.com:

Report: Ryan| Editor: Doni

TIMUR MEDIA – Peternak ayam mengklaim penurunan harga ayam telah merugikan mereka sampai lebih dari Rp 2 triliun. 

Para peternak ayam hidup yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nasional mengadukan hal itu ke Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga.

Pengaduan terkait kerugian yang mereka derita akibat penurunan harga ayam hidup di pasar dan perusahaan integrator.

Salah satu anggota paguyuban dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jawa Tengah, Parjuni menjelaskan kerugian akibat harga jual ayam hidup di kisaran Rp16 ribu sampai Rp17 ribu per ekor.

Padahal, Harga Pokok Penjualan (HPP) dari pemerintah berada di angka Rp18 ribu per ekor. 

“Padahal, Harga Pokok Penjualan (HPP) dari pemerintah berada di angka Rp18 ribu per ekor,” ujarnya.

Harga saat ini, menurutnya, sudah lebih baik dari Juli lalu sekitar Rp5 ribu sampai Rp10 ribu per ekor. Tapi harga yang masih lebih rendah dari HPP membuat peternak tetap merugi karena harga bibit dan pakan pun cukup tinggi.

Ia merinci harga bibit berada di kisaran Rp5 ribu sampai Rp10 ribu saat ini. Sedangkan harga pakan berupa jagung mencapai Rp7.000 sampai Rp7.300 per kilogram.

Padahal, peternak masih perlu mengeluarkan biaya lain untuk merawat ayam hingga siap dijual.

“Perhitungannya, harga ideal untuk bibit seharusnya berada di bawah Rp5 ribu per bibit, sedangkan harga pakan di kisaran Rp4 ribu per kg,” jelasnya

Untuk harga bibit saja, seharusnya maksimal hanya 30 persen dari harga jual ayam hidup. Misalnya, harga ayam Rp15 ribu per ekor, maka seharusnya harga bibit tidak sampai Rp5 ribu per kg, tapi sekarang lebih tinggi.

Selain persoalan harga bibit dan pakan, Parjuni mengatakan penurunan harga jual ayam hidup juga terpengaruh oleh peningkatan pasokan.

Ini terjadi karena kebijakan impor dari pemerintah sebanyak 707 ribu ekor per tahun.

|Sumber: CNN Indonesia

Most Popular

To Top