Mozaik

Haji Mabrur tanpa Berhaji

2019

Pemandangan kota Makkah pada abad ke 11 Masehi. (ROL/Abdul Hadi MW)

TimurMedia.com:

ABDULLAH bin Mubarrok adalah seorang ulama besar yang terkenal menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Ayahnya adalah seorang budak yang taat dan wara’. Ketaatan ayahnya memancing majikannya untuk menikahkan beliau dengan putrinya. Dari pernikahan ini lahirlah seorang ulama bernama Abdullah.

Abdullah bin Mubarrok terkenal dalam kisah haji mabrur. Saat musim haji tiba, Abdullah pergi ke pasar untuk membeli seekor unta yang digunakan sebagai pengangkut perbekalan.

Ia membawa uang senilai 500 dinar. Sayangnya, uang itu tidak cukup untuk membeli unta, akhirnya ia kembali ke rumahnya.

Dalam perjalanan menuju rumah, ia dikagetkan dengan seorang wanita yang membersihkan bulu ayam di dekat tempat sampah. Tanpa ragu, Abdullah mendekati wanita itu, namun wanita itu segera membelakangi dirinya.

Hal itu membuat Abdullah semakin penasaran dengan apa yang disembunyikan wanita itu.

Setelah diamati lebih teliti, ternyata ayam tersebut tidak ada bekas potongan di bagian lehernya. Berarti ayam yang dibersihkan adalah sebuah bangkai.

Berkali-kali Abdullah menanyakan alasan mengapa dirinya membersihkan bangkai ayam. Namun berkali-kali juga wanita tersebut menolak menjelaskannya. Setelah beberapa kali membujuknya, wanita itu bersedia menceritakannya.

Wanita itu bercerita mengenai keadaannya yang kini berstatus sebagai seorang janda. Ia tinggal bersama anak-anaknya yang belum makan selama tiga hari.

Anaknya menjadi yatim lantaran ayahnya gugur di medan perang. Sedangkan ayahnya tidak meninggalkan warisan yang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Mendengar cerita tersebut, seketika Abdullah menangis. Ia merasa berdosa jika membiarkan wanita serta anak-anaknya memakan bangkai ayam tersebut.

Akhirnya Abdullah menyerahkan semua uang yang dibawanya kepada wanita tersebut.

Ketika musim haji sudah selesai, Abdullah bin Mubarrok menyambut rombongan haji di batas kota. Para haji yang baru pulang itu bercerita bertemu ibnu Mubarrok di tempat ini dan itu.

Beliau tentu saja heran dengan cerita tersebut karena ia tidak jadi berangkat haji. Namun semua orang yang berangkat haji mengaku bertemu dengannya.

Malam harinya, Abdullah bin Mubarrok mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpinya, Rasulullah bersabda,

“Wahai ibnu Mubarrok, engkau telah merelakan bekal hajimu untuk menolong sanak keturunanku sehingga mereka terbebas dari kesulitan hidup. Maka, Allah mengutus malaikatNya yang diserupakan dengan dirimu pergi haji untukmu setiap tahun. Dan engkau akan menerima pahalanya sampai hari kiamat.”

Kalau kita berkaca pada kisah ini, maka seluruh perbuatan kita yang tidak mengacu pada pengorbanan harta untuk orang lain, orang miskin, atau kepentingan sosial itu tidak menjadi kebaikan.

Dengan demikian, haji mabrur adalah haji yang menjadikan pelakunya memiliki komitmen yang kuat, memiliki rasa kemanusiaan, kepedulian, empati, simpati, serta solidaritas yang tinggi terhadap orang-orang yang tidak mampu.

Jadi peningkatan komitmen sosial inilah yang menjadi kemabruran ibadah haji seseorang. Setelah pulang dari kota suci, ia menjadi pribadi yang baik, lebih terbuka, dan mementingkan dimensi sosial. Itulah sebabnya mengapa haji mabrur dipandang sebagai jihad yang utama (HR. Bukhari no.1520).

Orang yang berjiwa sosial tinggi tidak akan tenang jika jutaan nyawa menjerit kelaparan saat dirinya menunaikan ibadah. Hatinya penuh derita dan dosa, jika orang tersebut mati kelaparan. Sedangkan dirinya dikaruniai harta berlebih untuk menolongnya.

Jika kita di posisi orang tidak punya, pasti akan mengutuk orang yang menunaikan ibadah tanpa mempedulikan sekitarnya.
Padahal disana ada beribu nyawa yang perlu diberi makanan dan minuman.

Mereka berjuang mati-matian melakukan ibadah dengan menahan rasa lapar dan dahaga. Maka, akan sangat bermakna jika kita mampu menggerakkan tangan kita untuk mereka.    

Orang yang tidak mempunyai jiwa sosial setelah menunaikan haji, ibadahnya biasanya didasari niat pamer. Niat yang salah ini dapat merusak hikmah haji itu sendiri.

Pelakunya tidak akan merasakan dampak positif dari kegitan ibadahnya. Sehingga mereka tetap berbuat aniaya dan tidak peduli kepada sesama meskipiun sudah berusaha mendekatkan diri dengan Pencipta.

Dalam hidup beragama, kita tidak boleh berhenti pada simbol semata. Meskipun simbol sangat penting dalam agama, namun harus diimbangi dengan ruh dari simbol tersebut. Hal inilah yang harus diterapkan dalam pelaksanaan ibadah haji.

Orang yang pergi haji jangan hanya mengharap penghormatan dengan menyandang predikat haji di depan namanya saja. Namun, juga harus bisa menghormati orang lain dengan budi pekerti luhur dan jiwa sosialnya.

Maka yang perlu diingat, salah satu indikasi haji mabrur adalah semakin meningkatnya ibadah seseorang, berbuat baik, dan meninggalkan segala kejelekannya di masa lalu.

Selain itu, mereka juga berkontribusi besar bagi masyarakat baik secara harta maupun tenaga. Jadi, untuk meraih predikat haji mabrur, selain melakukan ritual haji kita juga harus menyelami makna yang terkandung didalamnya.

|Sumber: Pecihitam

Most Popular

To Top