NEWS

Hagia Shopia Resmi Jadi Masjid

Keputusan Erdogan disambut hangat Muslim dunia.

Editor: Nina Nurmala

TIMUR MEDIA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid, pada Jumat 10 Juli 2020. Hal ini ditandai dengan pelaksanaan shalat yang akan dimulai pada 24 Juli atau dua pekan mendatang. Keputusan tersebut diambil setelah pengadilan tinggi memutuskan pengalihan bangunan kuno menjadi museum adalah ilegal.

Erdogan menyampaikan pernyataannya pada Jumat kemarin, selang beberapa jam usai putusan pengadilan diterbitkan. Berita ini segera menjadi perbincangan hangat media asing. Ia dianggap mengesampingkan peringatan internasional untuk tidak mengubah status bangunan berusia hampir 1.500 tahun yang dihormati dua agama, Islam dan Kristen.

Keputusan Erdogan disambut hangat penduduk Muslim dunia. Ia dinilai sebagai New Ottoman. Tapi saat bersamaan Amerika Serikat, Rusia, dan para pemimpin gereja termasuk menyatakan keprihatinan tentang pengalihan status Situs Warisan Dunia UNESCO itu

Alasannya Hagia Sophia adalah titik fokus dari kekaisaran Byzantium Kristen dan Kekaisaran Ottoman Muslim. Sekarang menjadi salah satu monumen yang paling banyak dikunjungi di Turki.

Erdogan berusaha mengubah Islam menjadi arus utama politik Turki selama 17 tahun memimpin. “Dengan putusan pengadilan ini, dan dengan langkah-langkah yang kami ambil sejalan dengan keputusan itu, Hagia Sophia menjadi masjid lagi, setelah 86 tahun, seperti yang diinginkan Fatih, penakluk Istanbul,” ujar Erdogan dalam pidatonya, dilansir dari Reuters, Sabtu 11 Juli 2020.

Ia juga menyinggung sejarah saat-saat kritis Kekaisaran Bizantium dan pendiri republik modern. Erdogan mengatakan, Turki sekarang dapat seperti yang dikatakan Fatih, Sultan Ottoman Mehmet II, yang menyebut ketiganya akan menyertai siapa saja yang mengubah Hagia Sophia menjadi masjid.

“Seperti semua masjid kami, pintu Hagia Sophia akan terbuka bagi semua, penduduk lokal dan asing, Muslim dan non Muslim,” ujarnya.

Namun Departemen Luar Negeri AS mendesak Turki mempertahankan bangunan itu sebagai museum. AS mengaku kecewa dengan keputusan pengalihan status menjadi masjid. Tetapi AS berharap Hagia Sophia tetap dapat diakses semua kalangan.

Asosiasi yang membawa perkara terkait Hagia Sophia ke pengadilan, mengatakan Hagia Sophia adalah milik Sultan Mehmet II yang merebut kota pada tahun 1453 dan mengubah katedral Ortodoks Yunani yang sudah berusia 900 tahun menjadi masjid.

Ottoman membangun menara di samping struktur kubah yang luas, di dalamnya mereka menambahkan panel bertuliskan nama Arab Allah, Nabi Muhammad, dan khalifah Muslim. Mosaik emas dan ikon Kristen, dikaburkan oleh Ottoman, dan ditemukan kembali ketika Hagia Sophia menjadi museum.

Dalam keputusan Dewan Negara, pengadilan administratif utama Turki, disebutkan, “Disimpulkan bahwa akta penyelesaian penetapannya sebagai masjid dan penggunaannya di luar karakter ini tidak dimungkinkan secara hukum. Keputusan kabinet tahun 1934 yang mendefinisikannya sebagai museum tidak mematuhi hukum,” ujarnya, merujuk dekrit yang ditandatangani Mustafa Kemal Ataturk.

Di Istanbul, ratusan orang berkumpul di dekat Hagia Sophia untuk merayakan keputusan itu. “Mereka yang membangun ini melakukannya untuk menyembah Tuhan juga,” ujar Osman Sarihan, seorang guru. “Terima kasih Tuhan hari ini kembali ke tujuan utamanya. Hari ini Tuhan akan disembah di masjid ini.” Kelompok-kelompok Turki sudah lama berupaya mengalihkan status Hagia Sophia. Bagi mereka, lebih baik mencerminkan status Turki sebagai negara yang sangat Muslim.

Direktur Program Penelitian Turki di Institut Washington untuk Kebijakan Timur, Soner Cagaptay menilai, pemerintah Turki telah membalikkan langkah Ataturk yang paling simbolis yang menggarisbawahi komitmen Ataturk pada republik sekuler.

“Hagia Sophia adalah momen puncak revolusi agama Erdogan yang telah berlangsung di Turki selama lebih satu dekade,” ujarnya.

I Sumber: Rol

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button