Balikpapan

Gaya Pencitraan Thohari Disorot Netizen Balikpapan

Model kampanye masuk ke gorong-gorong dinilai sudah basi.

Reporter: Taufik Hidayat I Editor: Isnan Rahardi

TIMUR MEDIA – Situasi politik Balikpapan menuju Pilkada Desember 2020, terus menjadi perbincangan warga. Tak hanya di lapangan, tapi masyarakat juga ramai membicarakannya di sosial media. Tak terkecuali soal gaya kampanye calon tunggal.

Pilkada Balikpapan 2020, hanya diikuti calon tunggal. Yakni calon petahana Rahmad Mas’ud dari Golkar, yang menggandeng pasangannya Thohari Aziz dari partai PDIP. Tingkah polah mereka pun tidak lepas dari sorotan masyarakat.

Bahkan, kali ini netizen Balikpapan sampai menyoroti gaya kampanye yang dilakukan Thohari. Salah satunya, akun Jamaluddin Ibrahim, yang memposting kegiatan Thohari masuk ke gorong-gorong. Ia menulis dengan cukup sarkastis. “Semoga setelah pilkada banyak yang melihat gorong-gorong,” tulisnya, Selasa 17 November 2020. Postingan itu pun menjadi viral.

Sampai Sabtu 21 November 2020 pukul 11.00 WITA, postingan itu telah dibagikan 39 kali, dengan interaksi 85 like dan 72 komentar. Para netizen menyindir foto Thohari yang berpose di gorong-gorong. Gaya kampanye ini dinilai usang dan tidak kreatif. Karena mengikuti Jokowi.

Seperti sarkasme yang dilempar Sonny Kurniawan. “Akting nya sdh pernah di pakai. Pakai gaya bru lg dong org bppn sdh gak mempan lg pake gtuan,” tulisnya. Ia pun menambahkan emot tertawa dalam komentarnya di postingan tersebut.

Netizen soroti gaya kampanye Thohari. (FB)

Lain lagi dengan Muhammad Benny Baskara. Sarkastisnya lebih pedas lagi. “Kalau cuma nengok gorong2, itu gaya basi. Sekali2 kreatif, misalnya bawa cangkul, pake sepatu boot , muka berlumpur , biar action-nya makin keliatan bohongnya,” lagi-lagi, ia juga menambahkan emot tertawa.

Musuh kita covid19, bukan gorong2, kreatif dikit timsesnya,” tulis akun Sayani Yandi. Selain melempar pelbagai sakartis yang cukup pedas, ada pula netizen yang justru merasa kasihan pada Rahmad Mas’ud, pasangan yang menggandeng Thohari.

Seperti netizen Ida Zuraidah Anwar. “Kasihan Pak HRM berpasangan dgn Si T ini dari Partai itu lagi…. Iiiih males bngt ngelihatnya basiiii bngt pencitraan apaaan tuh???? Saya gak kenal jg seh… Kasihan teamnya RM kerja keras. Relawan Partai merah ini…. Gak ada kelihat turun ke masyarakat.”

Lain halnya dengan Farida Ardhanie. Ia malah mengaku malu dengan gaya kampanye seperti itu. “Aku malah malu liat nya….

Netizen Ndrie GokieLz, menyoal gaya sama dengan yang pernah dilakukan Jokowi. “Kaya si anu anu.. Partai sama, cara nya sama2 masuk gorong2…

Ada banyak kritikan netizen lainnya tergadap model kampanye yang dinilai sangat usang. Beberapa pun memberi saran kepada timsesnya agar lebih kreatif dalam mengemas gaya kampanye. Apalagi, ada juga yang terang-terangan akan memilih rival dari pasangan calon tunggal ini, yaitu kotak kosong.

Sebelumnya saya gak pernah nyoblos pemilihan walikota, tp tahun ini ada kokos,ya saya coblos kokos aja karna,daripada omong kosong mending coblos kotak kosong,” demikian ungkap netizen Abro Juragan.

Sarkatisme netizen terhadap gaya kepemimpinan Thohari. (FB)

Dukungan terhadap kotak kosong, juga terus menggema di lapangan. Seperti Afifa, warga Strat 3 Balikpapan, mengaku ikut gembira dengan adanya dukungan terhadap kotak kosong. Awalnya ia tahu informasi itu dari tetangganya. “Saya diajak, dijelaskan. Saya kira tadinya kalau hanya calon tunggal, kita tak punya alternatif, ternyata bisa memilih kotak kosong,” ujarnya, Sabtu 21 November 2020.

Saat ditanya alasan mendukung kotak kosong, Afifa menjawab, kurang simpatik terhadap calon tunggal yang diusung dari partai penguasa. “Pilwali sebelumnya kan ada lebih dari satu kandidat. Kalau sekarang cuma satu calon, rentan kecurangan,” katanya. Warga, lanjutnya, juga tidak diberi alternatif.

“Kalau lebih dari satu kandidat kan kita bisa memilih calon lainnya. Kalau tunggal dan yang maju pejabat lama, sama saja. Saya sendiri kepingin pemimpin yang baru,” tegasnya.

Segendang sepenarian, Muchlis warga Balikpapan Barat mengatakan hal sama. Ia merasa kalau hanya calon tunggal dikhawatirkan tidak fair. Untuk itu, ia lebih memilih rival dari calon tunggal alias kotak kosong.

Menurutnya kalau hanya calon tunggal berarti pengkaderan partai tidak berjalan. Apalagi yang maju itu-itu saja. “KPU seharusnya juga lebih mensosialisasikan calon tunggal. Selama ini kan warga tahunya tidak boleh memilih calon tunggal, padahal kan boleh,” tegasnya.

Ia menilai KPU dinilai kurang dalam menggencarkan sosialiasi di masyarakat. “Ngasih tahunya cuma ada Pilkada tanggal 9 Desember dan jangan golput. Tapi tidak diberi tahu soal lawan kotak kosong dan sebagainya.”

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button