Pangan

Ekspor Perikanan Baru Capai Empat Persen

Ada 16 permasalahan dan tantangan pembangunan kelautan dan perikanan.

Reporter: Agus Setyawan I Editor: Abi Kurniawan

TIMUR MEDIA – Sampai saat ini Cina masih menjadi produsen ikan terbesar di dunia, yakni 60 juta ton per tahun. Sedangkan Indonesia berada di peringkat kedua, yakni 24 juta ton per tahun.

Namun, kata pakar kelautan dan perikanan dari IPB University Bogor, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS, jumlah ekspor perikanan Indonesia masih relatif rendah.

“Ekspor produk perikanan Indonesia masih sangat kecil. Yakni, 1 juta ton atau sekitar 4 persen dari total produksi perikanan Indonesia per tahun,” papar Prof Rokhmin Dahuri dalam Focus  Group Discussion BKIPM-Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang dihelat di Cirebon, Selasa 24 November 2020.

Ia menilai jumlah ekspor hasil perikanan Indonesia masih sangat kecil. “Artinya, peluang bagi bangsa Indonesia untuk meningkatkan ekpsor perikanan masih sangat besar,” ujar Rokhimin, dalam rilisnya.

Nilai ekspor perikanan Indonesia  tahun 2019 hanya  4,5 miliar dolar AS. Indonesia berada di ranking ke-15 dunia dalam ekspor hasil perikanan. Padahal dalam hal  produksi, Indonesia nomor dua.

“Berarti ada sesuatu yang salah. Mungkin kita malas mengolah, dan malas memenuhi persyaratan  yang dibutuhkan negara-negara pengimpor, karena hal  itu sangat penting,” ingatya.

Rokhmin menegaskan, ekspor adalah  ujungnya. Untuk bisa mengekspor  dalam kuantitas dan nilai yang bagus, harus dimulai dari hulunya, dari penangkapannya, dari budidayanya.

“Lalu, di tengahnya industri pengolahannya, selanjutnya cara-cara kita memasarkan, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” jelasnya.

Ia menyebutkan, setidaknya ada 16 permasalahan dan tantangan pembangunan kelautan dan perikanan.

Antara lain, sebagian besar usaha perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan hasil perikanan, dan perdagangan hasil perikanan dilakukan secara tradisional dan berskala usaha kecil dan mikro. Lalu ukuran unit usaha perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan hasil perikanan, dan perdagangan hasil perikanan sebagian besar tidak memenuhi skala ekonomi.

Selanjutnya, sebagian besar usaha perikanan belum dikelola dengan menerapkan Sistem Manajamen Rantai Pasok Terpadu yang meliputi subsistem Produksi – Industri Pasca Panen – Pemasaran. Dan umumnya, tingkat pemanfaatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, bioteknologi perairan, sumber daya non-perikanan, dan jasa-jasa lingkungan kelautan belum optimal.

Ia juga melihat dari sisi nelayan, banyak yang terjerat renteni. Para nelayan dalam sistem tata niaga sangat tidak diuntungkan. Apalagi derajat kesehatan nelayan pada umumnya relatif rendah dan kurang  gizi. Di sisi lingkungan, terjadi overfishing di beberapa wilayah perairan semisal pencemaran ekosistem, serta dampak negatif  perubahan iklim global.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button