Ekonomi

Ekspor dari Kaltim Dibuka Lagi

Ekspor dari Kaltim akan dibuka lagi. (Humas Pemprov)

Report: Robbi| Editor: Faisal

TIMUR MEDIA – Dua pekan mendatang, jika tak ada aral melintang, kapal-kapal yang membawa komoditas ekspor asal Kaltim ke luar negeri, tidak lagi harus melalui Surabaya. Namun sudah bisa langsung dilakukan di Kaltim.

Alasannya, direct call atau ekspor langsung dari Kaltim ke negara tujuan akan kembali diberlakukan. Kebijakan perdagangan ini diharapk dapat memperkuat ekonomi Kaltim.

Demikian disampaikan Kabag Industri dan Jasa Biro Perekonomian Setdaprov Kaltim, Eka Kurniati. Ia berujar pelepasan secara simbolis bakal digelar dua pekan ke depan atau pada 23 Maret 2020 mendatang.

Rencananya akan dilepas langsungn Gubernur Kaltim Isran Noor di dua pelabuhan. Yakni di Terminal Peti Kemas Kariangau Balikpapan, yang dikelola PT Kaltim Kariangau Terminal.

“Benar, awalnya qkan dilakukan pada 22 Maret, tapi karena salah satu pimpinan perusahaan yang menyediakan kapal tidak ada penerbangan di hari itu. Jadi diundur menjadi tanggal 23 Maret 2020,” jelas Eka, Selasa.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kaltim, Fuad Asadin, direct call ini akan memperluas tujuan ekspor Kaltim.

Ia menjelaskan selama ini hanya berharap pada lima negara utama ekspor. Yaitu Jepang, Tiongkok, India, Taiwan, dan beberapa negara di Eropa. “Nanti kita akan tingkatkan,” tuturnya.

Peningkatan bukan sebatas pada perluasan tujuan ekspor. Tapi juga mengoptimalkan produk unggulan Kaltim. “Jadi tidak hanya mengandalkan batubara dan migas saja,” jelas Fuad.

Ia memerinci, sedikitnya ada beberapa komoditas unggulan Kaltim yang tercatat bakal diangkut ke empat negara tujuan.

“Sekarang masih proses, kita belum tahu persis. Tapi dari laporan yang saya terima, komoditasnya ada kayu lapis atau plywood, molding, rumput laut, kelapa, cangkang Sawit,  dan udang,” terangnya.

Untuk pengirimannya ke Tawau, Singapore, Filipina, Tiongkok. “Baru ke seluruh dunia,” katanya.

Kepala Biro Humas Setdaprov Kaltim Muhammad Syafruddin menjelaskan, pelabuhan PT KKT sejak 2018 telah melayani direct call produk kayu dan perkebunan Kaltim ke Tiongkok, oleh PT SITC Indonesia.

Diawali Maret 2018, sebanyak 17 TEUS (twenty feet equivalent unit), April (27 TEUS) dan Mei (32 TEUS). Namun karena terbatasnya volume komoditi yang diekspor, sehingga jika harus dilakukan direct call dinilai tidak ekonomis.

Setelah dilakukan pertemuan dengan pelaku usaha dan eksportir. Selanjutnya, Disperindagkop dan UMKM di bawah arahan Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan menginventarisasi dan mengidentifikasi faktor penghambat, dan instansi penanggung jawab.

Berikutnya disusun matriks, item-item yang perlu dilakukan, batas waktu pelaksanaan dan penanggung jawab pelaksanaan.

Setelah disepakati rumusan tugas dan penanggung jawab ini dikirimkan kepada perangkat daerah terkait, baik daerah maupun pusat.

“Kemudian, dilakukan Rapat Koordinasi dengan semua instansi terkait, termasuk kunjungan kerja ke Pelindo IV di Makassar dan Pelindo III di Surabaya, sehingga akhirnya memberikan hasil,” terang Ivan.

Dengan ketersediaan komoditi atau produk angkutan dari Kaltim, dan menerima muatan sekitarnya seperti dari Kaltara, Sulbar dan Sulteng jumlah komoditi yang diangkut lebih dari cukup.

Demikian pula dalam mendukung pembangunan ibu kota baru akan masuk kapal dari Korea yang membawa kargo impor berupa mesin untuk pembangunan kilang Pertamina.

Rencananya pada Maret akan masuk setiap dua minggu sekali dalam sebulan. Begitu pula nantinya kapal Singapura sudah membawa kargo impor.

“Kapal-kapal angkutan impor ini akan menyediakan pelayanan angkutan ekspor ke negara-negara lain. Semoga langkah ini bisa menggerakkan perekonomian Kaltim,” harap Ivan.

Most Popular

To Top