NEWS

Efek Samping Serius, Ujicoba Vaksin Dihentikan

Dalam beberapa kasus efek samping vaksin dapat berujung pada kematian.

Report: Maya I Editor: Isnan Rahardi

TIMUR MEDIA – Studi vaksin korona yang dilakukan perusahaan AstraZeneca terhadap warga Amerika Serikat resmi dihentikan. Alasannya, adanya reaksi serius yang merugikan seorang relawan asal Inggris.

Kandidat vaksin ini dikembangkan perusahaan AstraZeneca bersama Universitas Oxford. Mereka menjadi produsen paling maju dalam pembuatan vaksin Covid-19. Namun, dalam ujicoba ketiga yang dilakukan, ditemukan efek samping serius yang akhirnya dihentikan.

Vaksin besutan Oxford ini dinamakan AZD1222 dan dikembangkan menggunakan adenovirus. Adenovirus yang membawa gen untuk salah satu protein di SARS-Cov-2, virus yang menyebabkan Covid-19.

Juru bicara perusahaan mengatakan ujicoba dihentikan untuk tinjauan keamanan. Namun, efek samping serius apa yang didapat relawan tidak disebutkan pasti.

“Penghentian ini merupakan hal rutin yang harus dilakukan setiap kali ada penyakit potensial, yang tidak dapat dijelaskan muncul di salah satu uji coba,” tulis STAT mengutip juru bicara AstraZeneca, Kamis 10 September 2020.

Pihak perusahaan masih melakukan penyelidikan terhadap efek samping tersebut. “Kami menjaga integritas pengujian.”

Sumber STAT menjelaskan penghentian ini berdampak pada pengujian vaksin yang dilakukan produsen vaksin lain. Saat ini ada sembilan kandidat vaksin yang sedang memasuki uji coba tahap tiga ke manusia.

Sejumlah peneliti lain juga masih mencari kasus reaksi merugikan lain ke relawan penerima vaksin. Efek samping yang tergolong serius digambarkan berupa sakit yang membutuhkan rawat inap, penyakit yang mengancam jiwa dan bahkan kematian.

Di AS uji coba akhir AstraZaneca ini berlangsung sejak akhir Agustus, di 62 lokasi. Sebelumnya 2/3 tes sudah dilakukan di Inggris, Brasil dan Afrika Selatan.

AstraZeneca bersama delapan perusahaan lain menandatangani plakat perjanjian. Isi plakat itu perusahaan-perusahaan tersebut sepakat tidak mengejar persetujuan pemerintah yang prematur terhadap vaksin Covid-19.

Mereka akan menunggu hasil data pengujian yang cukup guna memastikan vaksin benar-benar aman. Delapan perusahaan yang menandatangi kesepakatan itu, yakni CEO AstraZeneca, BioNTech GlaxoSmithKline, Johnson & Johnson, Merck, Moderna, Novavax, Pfizer, dan Sanofi.

Dikutip dari Business Insider, perusahaan ini menguji vaksin besutan Universitas di Inggris, Oxford, di Amerika Serikat, Inggris, Amerika Latin, Asia, Eropa, dan Afrika Selatan.

Di Amerika Serikat, ada badan yang mengawasi uji coba vaksin, yakni Dewan Pengawas Data dan Keamanan. Dewan ini yang akan memerintahkan dilakukan jeda atau menghentikan uji coba.

Tapi, AstraZeneca tidak mengungkap siapa yang memerintahkan penghentian uji coba. Hingga saat ini belum diketahui siapa yang melakukan penundaan, kemungkinan hal ini dilakukan oleh AstraZeneca sendiri.

Sedangkan Vaksin Covid-19 buatan perusahaan Cina Sinovac Biotech yang diujicoba di Indonesia, juga menimbulkan efek samping setelah diuji klinis tahap III di Bandung. Efek samping itu ada lokal dan sistemik. Efek samping lokal menyebabkan pembengkakan pada area kulit yang disuntik vaksin.

“Kalau efek lokal, dilihat ada bengkak atau tidak, kalau ada bengkak berapa sentimeter bengkaknya. Kalau merah kaya apa merahnya,” papar Ketua Tim Riset Vaksin dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Kusnandi Rusmil dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button