DPRD Bontang

Dari Kunjungan Kerja Komisi I DPRD Bontang ke Pemprov Kaltim (2)

Program Gerakan Pembudayaan Kegemaran Membaca atau GPMB menarik atensi para legislator Kota Taman. Di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Jalan Juanda, Nomor 4, Kota Samarinda, mereka membahas lebih dalam.

TIMURMEDIA – Dalam kunjungan kerja itu, Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bontang diterima langsung Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Elto, bersama Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca atau BP3KM Pemprov Kaltim, Taufik, Kamis 15 April 2021 di Ruang Pustaka Lantai 2 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pemprov Kaltim.

Menariknya, sejumlah mitra kerja Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Pemprov Kaltim, juga turut hadir. Diantaranya adalah Ketua GPMB Syafrudin Pernyata, Wakil Ketua GPMB Fitri Susilowati, Ketua Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI) Jamaludin, Sekretaris Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kusiatun, Kepala Bidang (Kabid) Deposit dan Pengolahan Agustoni Tawakaluddin, Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Rusmawati, Kasi Pusat Pelatihan Kewirausahaan Masyarakat (P2KM) Nikko Dwi Nanda, para pustakawan, dan penggiat literasi Kaltim.

Raking, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Bontang, menyatakan penguatan literasi diperlukan untuk pemajuan budaya. Menurutnya, di era revolusi industri 4.0 ini, seluruh bidang mengalami gelombang besar tak terkecuali perpustakaan. Karena itu, penguatan literasi menjadi pemikiran bersama dengan konteks revolusi industri 4.0.

“Perlu adanya ketersediaan daya dukung untuk mengubah budaya bertutur untuk beralih ke budaya baca tulis. Di era digital saat ini sebenarnya sudah tidak ada hambatan lagi, semua orang sudah bisa mengakses. Dengan bantuan teknologi kita diuntungkan untuk mempercepat proses literasi ini,” ungkapnya.

Raking menambahkan, harus ada perubahan paradigma mengenai kebudayaan yang bukan hanya bicara tentang masa lalu. Untuk meningkatkan literasi budaya, tuturnya, harus dituangkan dalam bentuk visual.

“Kendala kita belum mampu memahami literasi budaya. Padahal kebudayaan memiliki dampak yang luas dalam kehidupan sehari-hari, seperti kita dapat belajar berdiplomasi, dan pembentukan karakter,” urainya. (fa/ads)

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button