Internasional

Dampak Vaksin Bahaya, Peru Hentikan Ujicoba

Report: Maya I Editor: Isnan Rahardi

TIMUR MEDIA – Peru menangguhkan uji klinis vaksin Covid-19 yang diproduksi perusahaan obat asal China Sinopharm. Hal ini terjadi setelah vaksin yang disuntikan pada relawan membahayakan. Salah satu relawan mengalami gangguan saraf atau masalah neurologis.

Melansir AFP, Institut Kesehatan Nasional mengatakan bahwa mereka menghentikan uji coba vaksin korona setelah seorang relawan mengalami kesulitan menggerakkan lengan mereka.

“Peringatan sudah kami berikan kepada otoritas regulasi, bahwa salah satu peserta uji coba menunjukkan gejala neurologis yang mirip kondisi sindrom Guillain-Barre,” ujar Kepala Peneliti German, Malaga, pada Sabtu 12 Desember 2020. Sindrom Guillain-Barre ini penyakit yang memiliki kelainan langka tapi tidak menular.

Peru mengumumkan keadaan darurat kesehatan sementara di lima wilayah pada Juni tahun lalu menyusul adanya beberapa kasus tersebut. Uji klinis Peru untuk vaksin Sinopharm seharusnya bisa minggu ini.

Jika berhasil, pemerintah Peru akan membeli 20 juta dosis vaksin Sinopharm untuk penyuntikan warga setempat. Namun Peru memutuskan untuk menghentikan ujicoba menyusul dampak vaksin Covid-19, yang ternyata malah menyebabkan relawan mengalami gangguan saraf.

Pada Oktober silam, Presiden Brasil, Jair Bolsonaro juga menolak rencana pembelian 46 juta dosis vaksin Covid-19 buatan China. Namun, bukan produk Sinopharm. Melainkan Sinovac. Alasan penolakan karena memicu kekhawatiran di Brasil.

“Orang-orang Brasil tidak akan menjadi kelinci percobaan dari siapapun,” tulis Bolsonaro di akun media sosialnya, @jairmessias.bolsonaro.

Ia menekankan, “Keputusan saya adalah tidak membeli vaksin semacam itu (buatan China).”

Kekhawatiran Bolsonaro juga dipicu pengumuman dari Otoritas kesehatan Brasil Anvisa. Pada Rabu (21/10/2020) Anvisa mengumumkan, seorang sukarelawan peserta uji klinis vaksin Covid-19, yang dikembangkan AstraZeneca dan Universitas Oxford, meninggal dunia. Kasus ini menjadi sorotan media internasional. Namun, pihak AstraZeneca belum mau mengomentari kasus tersebut.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button