Mozaik

Dakwah Islam; Balada Seorang Ustadz – Bagian I

Penulis; Ickur (Ketua LAKPESDAN NU Balikpapan)

Suatu hari saat isu Khlafah Nabhaniyyah menghangat, aku terlibat perdebatan soal khilafah di WAG dengan seorang “Ustadz” yang berstatus PNS, karena keseringan beliau membagikan postingan yang mendukung penerapan “Khilafah Nabhaniyah” di Indonesia.

Aku merespon postingan Khilafah itu dengan pertanyaan ke “Ustadz” tersebut, “Apa antum sepakat dengan penerapan Khilafah Nabhaniyah” di Indonesia?. Jawabnya berputar-putar.

Aku minta ke anggota WAG lainnya untuk membanru screenshot jika si Ustadz menjawab dengan tegas, tapi sampai sekarang tidak pernah terjawab.

Di lain waktu terjadi lagi perdebatan, kali ini si Ustadz dan beberapa orang anggota WAG menganggap aku kurang Islami, terpaksa aku membagikan foto-foto tumpukan kitab kuning yang menghiasi rak buku di kamarku. aku bilang “Silahkan dipilih kitab mana yang mau dibahas?”, terus ada yang respon “Gak usah pake kitab, langsung aja Al Qur’an dan Hadits!”.

Aku tanggapi balik “Baiklah, aku tantang semua yang ada di grup ini, baik yang Ustadz, merasa Ustadz, atau seolah-olah Ustadz untuk uji kemampuan baca tulis Al Qur-an dan disiarkan langsung lewat Fecebook”. WAG itu langsung sunyi selama beberapa hari.

Si Ustadz mungkin tersinggung, beliau kirim pesan WA via japri ke aku, kataya dia cuma bisa baca Al Qur’an, nulisnya gak bisa.

Beliau jujur gak bisa baca kitab kuning, belum ada kesempatan belajar Nahwu-Sharaf, makanya beliau sering bingung menjawab pertanyaan jama’ah pengajian yang berhubungan dengan tata bahasa Arab.

Kata beliau juga, gak butuh sanad dalam berilmu, karena dakwah Islam gak akan berkembang kalau harus menunggu punya sanad yang tersambung sampai ke Rasulullah. Bukankah ada dalil “ballighu ‘anni walau ayatan” (sampaikanlah dariku walau satu ayat)?.

Dari sinilah asal mula persoalan utama yang selanjutnya akan kita bahas.*

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button