Kaltim

Bukan Hitam, Balikpapan Tetap Zona Merah

Report: Hendra I Editor: Isnan Rahardi

TIMUR MEDIA – Kabar mengejutkan sempat datang dari laman tim gugus tugas Pemprov Kaltim. Sebab, peta demografi penyebaran virus korona di Balikpapan tampak berubah menjadi zona hitam. Namun, hal ini segera diklarifikasi pihak Pemprov Kaltim.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Andi Muhammad Ishak memberi klarifikasi kesalahan info grafis tersebut. “Sebenarnya zona itu bukan hitam. Jadi mohon maaf sebenarnya gambar info grafis itu hanya menandakan degradasi warna berdasarkan jumlah kasus. Jadi bukan tingkat risiko keparahan,” ujarnya, Selasa 30 Juni 2020.

Andi menegaskan status Balikpapan masih tetap zona merah. Hanya saja warnanya berubah kehitaman. Alasannya mengacu total jumlah kasus penyebaran, penularan dari pendatang dan kasus transmisi lokal. “Artinya merah itu sudah ada kasus impor, kasus lokal, dan sudah banyak klaster,” jelas Andi.

Ia juga menegaskan, tidak ada zona hitam dalam penetapan kasus penularan. Ia meralat apa yang sudah tampak dalam info grafis. ”Jadi hanya ada zona merah, orange, kuning dan hijau,” terangnya.

Andi menerangkan sesungguhnya Balikpapan masih masuk kategori merah, artinya merah itu sudah ada kasus import, kasus lokal dan tentunya sudah banyak klaster. “Itu cirinya,” kata Andi.

Ditegaskannya kembali, “Itu peta hanya menggambarkan perbedaan warna karena jumlah kasus, bukan karena resiko penularan Covid-19. Jadi berbeda sekali kalau kita belum mengeluarkan, itu dikeluarkan BPNPB Pusat jadi silahkan dilihat Covid-19 Gugus Tugas Pusat ada klasifikasi berdasarkan warna.”

Penegasan sama juga disampaikan Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Balikpapan, Andi Sri Juliarty.

Menurut Dio, sapaan karibnya, ia telah menanyakan terkait zona hitam yang sempat menghebohkan itu. “Mereka menyatakan sedang menetapkan rumus yang ditetapkan internal. Karena kalau mengacu data nasional, Balikpapan tidak hitam. Zona merah,” tegasnya.

Pihaknya juga mengusulkan agar penghitungan jumlah kasus menggunakan nilai ambang batas. Misalnya dibatasi 95 kasus atau lebih, sebab jumlah kasus di Balikpapan telah mencapai 181 kasus. “Kalau dilihat total nilai kumulatif positif, tidak mungkin turun. Berarti akan hitam terus,” kata Dio.

Ia pun menyarankan, boleh ada ambang batas tapi yang dinilai jumlah positif saat itu, bukan total positif sejak awal. Artinya rumus itu bergerak fluktuatif bukan statis.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi menjelaskan, zona hitam hanya rumusan internal di tingkat provinsi, karena jumlah kasus terkonfirmasi positif di Balikpapan cukup tinggi. Namun jika total kasus 181 dikurangi jumlah yang sembuh, yakni 113 orang, maka yang saat ini positif dirawat tinggal 68 orang.

“Artinya status Balikpapan mestinya di bawah ambang batas 95 kasus. Jadi dilihatnya ambang batas itu dari jumlah positif dirawat. Itu yang kami usulkan,” jelas Wali Kota.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button