Editorial

Bom untuk Siapa?

Kesekian kalinya, publik dikejutkan dengan ledakan bom bunuh diri. Terbaru, bom itu meledak di depan Gereja Katedral, Makassar. Kepolisian menemukan potongan wajah terduga pelaku. Dari foto yang dipublikasikan, terlihat masih muda. Seluruh pihak mengutuk tindakan pengecut ini.

Tidak ada angin, tidak ada hujan, tempat ibadah diledakan.

Korban berjatuhan. Warga ketakutan. Ledakan demi ledakan tidak juga menghilang dari bumi Indonesia. Tapi, tidak satu pun yang mengetahui apa motif sebenarnya pelaku. Untuk siapa bom itu diledakan, kepada siapa ditujukan.

Dari beberapa kasus serupa, rerata pelaku ditemukan ikut menjadi korban. Tewas mengenaskan. Entah doktrin apa yang dimasukan dalam otaknya, hingga mereka berbuat demikian. Ada aroma adu domba dalam tiap aksi mereka.

Indikasinya, sasaran seringkali menyasar gereja. Dan pelaku kebanyakan beragama Muslim. Ini sangat rentan untuk digoreng pihak tertentu sebagai ajang adu domba. Bersyukur, rakyat Indonesia cerdas. Tidak mudah mengamini gorengan narasi yang menyudutkan salah satu agama.

Aksi bom bunuh diri tidak pernah diajarkan dalam agama manapun. Tidak pernah dididik oleh tokoh agama siapapun. Pelaku seperti korban cuci otak yang diiming-imingi surga. Tentu bagi yang waras, tidak mau melakukan apa yang dilakukan pelaku.

Artinya, ada proses doktrinisasi yang kuat yang digencarkan terhadap pelaku. Apapun motifnya, apapun iming-imingnya. Jika pun dijanjikan sebagai bentuk jihad, ini adalah jihad paling konyol. Bagaimana mungkin di negeri damai tega melakukan peledakan bom.

Itu bukanlah jihad. Melainkan aksi jahat.

Polisi telah menangkap sejumlah terduga teroris yang diduga berkaitan dengan aksi pengeboman di Inodnesia. Dari pengakuan mereka tampak adanya proses cuci otak yang mengatasnamakan ajaran agama. Dan tentu saja, yang dirugikan semua agama.

Padahal tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan. Apalagi meledakan diri di tengah negeri yang damai. Banyak pihak menduga hal ini sebagai pengalihan isu-isu besar yang tengah terjadi. Tapi, simpulan ini masih terlalu dangkal.

Ada satu tujuan terselubung yang ingin dikirim pelaku. Sebuah pesan yang entah ditujukan kepada siapa. Tiga tempat yang kerap dijadikan sasaran pengeboman: diskotik, kantor kepolisian dan gereja. Sasaran random ini selalu muncul setiap ada peristiwa pengeboman.

Pertanyaannya, bom itu ditujukan kepada siapa? kalau untuk pemerintah, apa motifnya, kenapa yang dijadikan sasaran bukan tempat strategis pemerintah. Kalau untuk saudara kita yang beragama Nasrani, salah apa mereka? Kenapa jemaat sedang beribadah diledakan?

Pesan dan tujuan pelaku masih begitu abdusrd, lucu dan konyol. Kita doakan semoga aparat kepolisian bisa menumpas gerakan ini sampai ke akar-akarnya.

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button