Editorial

Mereka Bisa Tanpa Lockdown

PENERAPAN pembatasan jam malam sampai kebijakan lockdown menjadi opsi yang diambil Pemerintah Kaltim. Pemberlakuan Kaltim Steril dari aktivitas dan kerumunan, dijalankan pada 6-7 Februari 2021. Namun, langkah ini justru mengundang protes dari masyarakat sampai pengusaha.

Pelbagai kebijakan, selama nyaris setahun telah dijalankan pemerintah untuk menekan kasus Covid-19. Tapi, bukannya menurun, kasus positif justru semakin banyak. Penurunan kasus hanya terjadi menjelang Pilkada Desember 2020.

Sampai-sampai masyarakat berkelakar: hanya Pilkada yang mampu menghentikan korona.

Sejatinya, kita bisa belajar dari negara lain yang berhasil menekan penyebaran korona, bahkan tanpa harus menerapkan lockdown. Baik lockdown secara regional maupun nasional. Di antaranya, Taiwan, Korsel, Swedia, dan Tanzania. Empat negara ini tidak memberlakukan lockdown bagi warganya.

Dan, terbukti berhasil menekan laju penyebaran korona. Taiwan termasuk negara yang mencatatkan jumlah kasus terendah dibanding negara manapun di dunia. Pemerintah setempat bergerak cepat sejak awal pandemi.

Yakni dengan cekatan mengenali krisis dan mengaktifkan struktur manajemen darurat. Di awal pandemi, Taiwan, juga segera melarang warga asing masuk ke negaranya. Mereka tidak menerapkan lockdown, bahkan warganya beraktivitas seperti biasa, dan berhasil.

Begitu juga dengan Korea Selatan. Negara ini sangat cepat mengambil langkah sejak Januari 2020. Langkah yang diambil, menerapkan testing dengan cepat sebelum banyak kasus menyebar. Tidak ada lockdown, tapi juga berhasil menekan kasus korona.

Swedia, lebih menarik lagi. Tidak ada lockdown di sana. Rakyatnya juga tidak diperintahkan untuk tetap di rumah, toko-toko, sekolah, dan restoran juga tetap buka meski kurva kasus berada di puncaknya. Dalam laporan Dailymail, ahli epidemiologi di negara itu malah tidak memandang masker sebagai cara efektif, dan yakin jika lockdown tidak akan mencegah kematian di ruang perawatan.

Kendati tidak lockdown dan menerapkan masker, namun warga Swedia taat melakukan dua hal mendasar, yaitu rajin cuci tangan dan bila kondisi sakit agar berdiam diri di rumah. Jika sehat, seperti hidup normal sebagaimana mestinya. Warga Stockholm mengikuti anjuran itu.

Pemerintah Swedia sering menyebutkan tingkat kepercayaan yang tinggi pada pihak berwenang menjadi alasan, tindakan pencegahan virus bisa bersifat sukarela bukan paksaan. Pemerintah di sana memberi keteladanan tentang aturan yang dibuatnya. Sosialisasi juga dilakukan persuasif, tak ada paksaan, tak ada sanksi, apalagi denda.

Lebih ekstrim lagi, cara yang ditempuh Tanzania. Paska ditemukannya hasil positif dari pepaya dan kambing saat dilakukan rapid tes, Presiden Tanzania John Magufuli, benar-benar membangkang terhadap anjuran WHO.

Tak hanya ogah atas protokol kesehatan yang dianjurkan WHO. Tapi, ia menjalankan pemerintahnya dengan tidak menerapkan lockdown dan vaksinasi Covid-19. Magufuli menyebut Tuhan dan obat-obatan tradisional akan melindungi warga dari ancaman virus. Itu dinilainya lebih baik dibanding vaksin Covid-19 buatan asing.

Dalam laporan Reuters, 28 Januari 2021, ia malah menyindir vaksin tidak baik. Seandainya vaksin memang bermanfaat, maka orang-orang kulit putih sudah dari dulu membawa vaksin untuk HIV-AIDS, sindir Magufuli dalam pidatonya yang dimuat di pelbagai media asing. Ia juga mengklaim kasus Covid-19 bisa ditekan tanpa lockdwon dan pelbagai anjuran WHO lainnya. Meski aksinya menuai banyak kecaman asing.

Ada banyak negara yang kini mampu menekan Covid, tanpa harus melakukan lockdown. Sebaliknya, penerapan lockdown hanya menimbulkan kelumpuhan ekonomi. Yang efek dominonya mengular pada masalah yang lebih parah lagi: gelombang PHK massal.

Negara-negara di Eropa yang memberlakukan lockdown juga menimbulkan dampak sosial lain, selain masalah ekonomi. Yaitu, kerusuhan massal saat masyarakat melakukan aksi unjuk rasa terhadap kebijakan tersebut. Aksi itu terjadi di pelbagai negara mulai dari Belanda, Italia, Inggris, Jerman. Bahkan, rakyat  Israel juga kerap melakukan aksi unjuk rasa memprotes kebijakan terkait.

Kasus Covid-19 pun tidak juga melandai. Masih kalah dibanding negara-negara yang disebutkan di atas yang tidak menerapkan lockdown. Termasuk Mongolia, Selandia Baru, dan Fiji, yang tercatat sukses menekan penyebaran kasus. Nah jangan sampai banyaknya tuntan terhadap masyarakat, apalagi tanpa dibarengi pemenuhan kebutuhan mendasar malah memantik reaksi sosial.

Kita sudah salah langkah di awal. Kala negara lain menutup pintu bagi warga negara asing, Indonesia justru menggelar karpet merah. Saat pintu bagi mereka mulai ditutup, semua sudah terlambat. Walhasil, pelbagai kebijakan yang dijalankan pun tidak kunjung berhasil, termasuk lockdown regional yang diterapkan di beberapa provinsi.

Kiranya Pemerintah perlu memikirkan ulang kebijakan ulang dampak lockdown, yang malah berpotensi menanam bom waktu seperti kasus di beberapa negara berkembang. Kita perlu belajar dari negara lain, yang justru mampu menekan penyebaran tanpa lockdown. Sebaliknya, saat lockdown justru menimbulkan kelumpuhan ekonomi dan mengundang protes massal di jalanan. Jangan sampai hal ini terjadi di Indonesia.

Mudah-mudahan, Indonesia khususnya Kaltim dan Balikpapan bisa menerapkan langkah yang lebih bijak. Tidak perlu lagi melakukan lockdown akhir pekan atau Kaltim Steril, atau apapun istilahnya. Seperti yang pernah disebutkan Jokowi, sudah waktunya bersahabat dengan Covid-19, tanpa ketakutan berlebihan.

Atau seperti ajakan dari Wakil Ketua Parlemen Bontang, Agus Haris. Sudah waktunya masyarakat diinjeksi dengan hal-hal yang positif dan sesuatu yang memantik kebahagiaan.

Ia menyarankan pemerintah pusat dan daerah agar mengubah total pola penanganan Covid-19. Antara lain, dengan mengembalikan pola kehidupan normal. Hal ini dinilainya sebagai jalan terbaik. Termasuk mengajak pemerintah agar memberi rasa nyaman dan bahagia kepada rakyat untuk memulihkan mental rakyat dan kembali hidup normal seperti di beberapa negara lain.

Kalau negara lain bisa, insya Allah, Kaltim juga bisa tanpa lockdown menekan kasus Covid. Hidup akrab dengan korona, dan kembali sebagaimana kehidupan normal tanpa pembatasan, tanpa ketakutan berlebihan. Semoga…

Selengkapnya...

Terkait

Back to top button